7/11/2018

SINOPSIS My Mister Episode 16 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS My Mister Episode 16 BAGIAN 3


Ruang makan dipenuhi orang-orang yg datang melayat neneknya Ji-an. Memang agak mengejutkan, karena mayoritas adalah rekannya kakak beradik Park..

Dong-hoon menghampiri Sang-hoon, “Akan kuganti uang yang kaubelikan karangan bunga itu...” ucapnya


“NO!!! No.. no.. no..” jawab Ki-hoon, “Tak usah diganti. Aku tidak pernah bangga dengan diriku sendiri seperti sekarang. Aku... Sejujurnya aku ingin memeluk diriku sendiri sekarang. Aku sekarang sangat menyukai diriku...” jelasnya

“Besok, nanti kau tak punya duit lagi...” ujar Ki-hoon

“Meski begitu, aku senang. Apa kau tahu bagaimana perasaanku?” tuka Sang-hoon dengan girangnya


Pindah ke meja para pegawainya, Dong-hoon dibuat tersenyum setelah mendengar pertanyaan mereka yg penasaran dengan kerjaan Ki-hoon hingga bisa memecari seroang aktris seprti Yoo-ra...


Dong-hoon diam saja, maka Ki-hoon yg menjawabnya sendiri: “Aku tukang bersih-bersih!”

“Tapi cuma sementara...” tukas Yoo-ra

“Kata siapa sementara?” ujar Ki-hooon dengan ktusnya


Dong-hoon mengkhawatirkan Ji-an yg terduduk lesu dan belum makan apa pun daritadi. Jung-hee menghampirinya dan mengatakan, kalau Ji-an butuh waktu untuk menyendiri... lagipula, tak makan sekali tak akan membuatnya mati..


Kakek tukang bersih-bersih pun datang untuk melayat. Dia melihat penuhnya ruangan ini, lalu dia berkata ada Ji-an kalau neneknya sangat diberkati..


Selagi Dong-hoon dan Ki-hoon sibuk mencari tempat kermasi, diluar Ji-an duduk bersama dengan Yoo-ra dan Jung-hee, memerhatikan para ajusshi yg asyik bermain sepak bola di lapangan..


Yoo-ra turun untuk menghampiri Ki-hoon, maka tinggallah Jung-hee berdua dengan Ji-an. Jung-hee tanya: “Kau mau kemana Tahun Baru nanti?”

Ji-an diam saja, maka Jung-hee berkata: “Aku juga tidak punya tempat tujuan...” lalu bertanya, “Apa kau mau bertemu denganku setahun dua kali? Selama Tahun Baru, dan Chuseok (Hari Ucapan Syukur)...”

“Baiklah...” jawab Ji-an

“Aku senang. Tugas hidupku berarti sudah selesai! Jika ada orang yang kautemui saat Tahun Baru dan Chuseok..., berarti "tugas" seumur hidupmu sudah selesai...” ungkap Jung-hee dengan leganya


Jung-hee turun untuk bergabung main bola, tak lama kemudian datang Dong-hoon yg lansgung duduk disebelah Ji-an.

“Kami memutuskan untuk melakukan kremasi di Pyeongtaek. Dan kakakku bilang dia sudah mencarikan kolumbarium yang bagus. Kita kesana saja...” jelas Dong-hoon


Namun Ji-an malah menanyakan hal yg lain: “Kenapa kau baik padaku? Apa kau berencana ingin sangat baik padaku... terus berkata, "Baiklah, sekarang sudah cukup."... habis itu meninggalkanku?”

“Bukan aku yang melakukan semua ini. Kakakku yang mengurus semuanya. Biarkan saja dia. Seumur hidup, banyak hal baik yang belum dia lakukan... jadi biarkanlah dia begitu...” jelas Dong-hoon, “Masuklah. Nenekmu sendirian...” suruhnya


“Saat kau menyuruhku menghubungimu kalau nenekku meninggal... aku sungguh merasa terhibur...” ungkap Ji-an


Sambil merenung menatap Dong-hoon yg tengah bermain bola, Ji-an teringat perkataan neneknya: “Sungguh hubungan indah yang kau miliki dengannya. Dan sangat berharga juga. ika kau memikirkannya, setiap hubungan interpersonal cukup mengagumkan, dan berharga. Kau harus membalasnya. Jalanilah hidup yang bahagia. Begitulah cara kau membalas kebaikan orang-orang yang mengisi hidupmu...”


Joon-young minta bantuan detektif bayarannya untuk menangkan orang yg selama ini memerasnya. 


Mendenga ciri-ciri orang tersebut, si detektif bayaran lansgung mengetahui kalau dia pasti ada hubungannay dengan Gwang-il. Maka saat itu juga, dia menyerbu markas Gwang-il..

Menyadari hal  itu, Gwang-il dan sobatnya bergegas membereskan ruangannya, serta mengamankan seluruh USB berisi rekaman-rekaman tersebut.


Sempat terjadi baku hantam.. tetapi Gwang-il berhasil lolos.. dia berlari keluar, lalu sengaja menghancurkan CPU dihadapan orang-orang suruhan Joon-young. 

Sekuat tenanga, dia pun berlari kabur membawa seluruh USB bersamanya..


Ji-an ditemani para ajusshhi dan Jung-hee, pergi ke kolumbarium untuk menyelesaikan proses terakhir dari pemakanan, yakni menyimpan guci berisi abu neneknya.


Pada momen itu. Tak banyak kata yg terucap, namun suasana hikmat dan haru terasa begitu kental..


Saat berjalan keluar, para ajusshi malah bercanda menceritakan pengamalan ditinggal meinggal sanak keluarga, saat mereka masih kecil..

“Kalian ini bicarakan apaan!” tegus Dong-hoon, meski JI-an sendiri sepertinay tak merasa terganggu akan hal itu


Sang-hoon berterimakasih pada Ji-an, “Berkat kau, aku dapat menikmati momen terindah ini seumur hidupku..” jelasnya, yg tentu membuat yg lain heran, “Kenapa kau mengatakan sesuatu seperti itu di pemakaman orang?”

Lantas, Ji-an malah bilang: “Tak apa. Itu juga momen terindah dalam hidupku. Aku pasti akan membalas Aku pasti akan membalas..”


Supir bus teriak, meminta mereka bergegas masuk karena sebentar lagi, jalanan pasti macet. Maka para ajusshi berlari masuk bus.

Raut kesedihan Ji-an, perlahan berubah seakan ada secercah harapan baru di hadapannya. Dia pun ikut berjlari bersama dengan ajusshi lainnya..


Dalam bus, tiba-tiba Ki-hoon memberikan sebuah kacamata hitam untuk Dong-hoon, “Pakailah ini sekali saja. Pakailah, dan... kita nanti berfoto. Orang sampingku ini bilang, itulah keinginannya...” ujarnya
Advertisement


EmoticonEmoticon