7/04/2018

SINOPSIS Suits Episode 8 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Suits Episode 8 BAGIAN 1


Kang Seok dan Yeon Woo tampak bermain basket dengan sangat serius. Yeon Woo tampak kewalahan menghadapi Kang Seok, tapi kemudian ia berhasil memblok bola yang akan dilemparkan Kang Seok.


Suits Episode 8 – Keadilan Adalah Memberi Kembali Semua Orang Apa yang Pantas Mereka Dapatkan


“Apa itu keadilan, Yeon Woo? Katakan padaku. Bukan interpretasi subjektifmu, tapi definisi yang objektif,” kata Kang Seok setelah selesai bermain basket.


Yeon Woo: “Sekitar 2500 tahun lalu, Simonides, filsuf Yunani, mengatakan ini. Keadilan adalah   memberi kembali semua orang apa yang pantas mereka dapatkan.”
Kang Seok: “Memberi kembali semua orang apa yang pantas mereka dapatkan?”
Yeon Woo: “Aku yakin dulu dan sekarang sama. Jika telah membuat pilihan buruk, kau harus membayar untuk itu.”


Kang Seok bertanya apakah Yeon Woo ingin mencari tahu kesalahan CEO Shim dan membuatnya membayarnya. Yeon Woo terkejut dan Kang Seok melanjutkan perkataannya bahwa dia tahu Yeon Woo menyuruh Direktur Bang tanda tangan sebagai asuransi.


Kang Seok berkata bahwa korupsi Namyoung bisa menjadi bahaya bagi mereka juga. Ia bilang mereka harus mengekspos hal ini, tapi ia tetap menentang Yeon Woo melakukannya. Yeon Woo tersenyum senang dan berkata, “Aku akan maju dan tidak pernah melakukan apa yang Anda tentang sepenuhnya.”


Kang Seok bilang Yeon Woo harus melakukannya dengan cepat dan akurat, serta hanya membawa inferensi logis dan bukti kuat, karena itulah pengacara yang sesungguhnya.


“Bagaimana dengan Anda?” tanya Yeon Woo, namun Kang Seok harus menjawab panggilan Ha Yeon yang masuk ke ponselnya.


Ha Yeon mengajak Kang Seok memberikan kesaksikan. Kang Seok menarik napas berat dan berkata, “Jaksa Na, Ju Hee. Aku marah pada diri sendiri, karena harus mengucapkan selamat tinggal dan tak berdaya, bukan melindunginya. Saat itulah Jaksa Oh mengulurkan tangan, lalu itu semua terjadi.”
Flashback..


Kang Seok bertanya kenapa Jaksa Oh memusnahkan buktinya. “Kau harus memilih jalur di beberapa titik, tak peduli sisi mana yang kau ambil. Ketika pemerintah berubah setelah pemilihan presiden ini, aku akan beralih sisi lagi. Jika aku tidak bisa menjadi Kepala Jaksa saat ini, aku harus meletakkan pedangku,” kata Jaksa Oh.


Jaksa Oh mengatakan bahwa dengan melakukan hal ini 1 kali saja dan mendapatkan posisi tinggi, maka ia bisa mewujudkan keadilan yang sesungguhnya nantinya.


“Sekali atau 100 kali, semua sama. Tak peduli apa alasannya, jika cara dan jalan yang salah... Lupakan. Aku hanya perlu berhenti saja,” kata Kang Seok. Jaksa Oh melarangnya melakukan itu, karena jika meninggalkannya seperti ini, maka Kang Seok tidak akan bisa menjadi pengacara.


Jaksa Oh: “Bahkan Kang & Ham akan merasa terbebani untuk membawamu.”
Kang Seok: “Aku lebih suka merasa terbebani di sana, daripada merasa malu di sini.”
Jaksa Oh: “Malu? Kau malu padaku? Aku tidak memiliki apapun di hati nuraniku.”


Kang Seok mengatakan bahwa dulu Jaksa Oh yang membantu dan memberikan Ju Hee pekerjaan di firma hukum, jadi dia tidak bisa mengkhianatinya. Ha Yeon bertanya apakah itu sungguh alasan sebenarnya. Kang Seok tidak menjawab.


“Itu berarti kau tak akan bersaksi,” kata Ha Yeon menyimpulkan. Kang Seok masih tidak merespon. “Baiklah. Pergi dan interogasi. Aku akan maju sebagai pengacaramu.” Kang Seok menyebutnya sunbae. “Jangan khawatir. Aku akan pastikan kau tak perlu bicara apapun yang bertentangan denganmu.”


Ha Yeon berharap Kang Seok akan menceritakan semuanya dan mengakhirinya sepenuhnya. Ia merasa Kang Seok masih menyembunyikan sesuatu.


Berdasarkan perkataan Direktur Bang, Yeon Woo mengecek namanya di daftar karyawan Kang & Ham, tapi ia tidak menemukan apapun. Ia merasa sedih..


Keesokan harinya saat melihat Kang Seok akan pergi, Da Ham berkata bahwa dia akan selalu mendukung Kang Seok apapun keputusannya. Mereka saling tersenyum, lalu Kang Seok pergi.


Dalam perjalanan, Ha Yeon bertanya kenapa Kang Seok berubah pikiran. “Aku tak berubah pikiran. Aku hanya mengikuti perintahmu. Lebih dari itu, kau mengaturku dengan pengacara hebat,” kata Kang Seok.


Ha Yeon: “Tapi kau tahu pengacaramu tidak setuju denganmu, bukan?”
Kang Seok: “Seorang pengacara hanya perlu fokus membela kliennya. Mereka tidak harus setuju dengan klien mereka. Aku juga tidak peduli apa yang dipikirkan pengacaraku.”


Ha Yeon membenarkan ucapan Kang Seok, lalu memuji Kang Seok karena berhasil membuat Direktur Bang menandatangani surat pengunduran diri. “Go Yeon Woo yang melakukannya,” kata Kang Seok.


Yeon Woo sendiri terlihat sedang berpikir di depan laptop sambil mengetuk-ngetukka jarinya ke meja. Ia lalu mencari informasi tentang perusahaan cangkang Daesung Communications. “Daesung... Daesung...,” gumamnya, yang kemudian bergegas pergi karena mengingat sesuatu.


Yeon Woo menemui Ji Na dan mengatakan bahwa ia ingin melihat slip gaji Ji Na lagi karena ada hubungan dengan pekerjaan yang sedang ia tangani. Ji Na hanya tersenyum lalu menunjukkan slip gajinya di layar komputer.


Yeon Woo menunjuk dan bertanya, “Tertulis gajimu dikurangi oleh Daesung. Apa ini?” Ji Na bilang itu adalah perusahaan konsultasi dan uang itu untuk tiap kali ia mendapatkan pendidikan atau pelatihan. “Jadi, maksudmu mereka mengambil uang darimu setiap bulan?”


Ji Na: “Tidak, perusahaan konsultan berubah tiap waktu. Tapi tentu saja, uang sebanyak ini dikurangi hampir tiap bulan.”
Yeon Woo: “Apa kau kenal dengan seorang pengacara? Maksudku.. apakau kenal seseorang di luar perusahaan kita yang bisa menyelidiki Daesung? Lupakan. Kedengarannya tidak masuk akal. Huft...”


Ha Yeon mengatakan bahwa Jaksa An tidak bisa memaksa kliennya, Kang Seok, untuk bersaksi melawan kemauannya. Jaksa An tersenyum dan mulai mengajukan pertanyaan tentang hubungan Kang Seok dan Jaksa Oh dulu, serta har-harinya sebagai jaksa dulu.


“Kenapa Anda mendadak berhenti padahal melakukan tugas jaksa dengan baik?” tanya Jaksa An. Ha Yeon mengatakan bahwa itu tidak relevan dengan penyelidikan, tapi Kang Seok menenangkan Ha Yeon dan menjawab pertanyaan itu.


Kang Seok bercerita bahwa saat sekolah hukum, ia bertemu dengan Ha Yeon yang mengatakan bahwa karir Kang Seok akan bagus jika memulai sebagai jaksa, bukan langsung bekerja di firma hukum, kemudian setelah beberapa tahun ia merasa sudah cukup berpengalaman, lalu memilih bekerja bersama Ha Yeon. “Moto perusahaan kami adalah ‘Tuliskan rasa sakitmu di pasir, dan ukirlah nikmatmu di atas batu’,” kata Kang Seok.


Ha Yeon menahan senyumnya karena merasa geli dengan perkataan Kang Seok. “Bagaimana? Aku melakukannya dengan baik?” tanya Kang Seok. Ha Yeon bilang sebenarnya Kang Seok bisa melakukannya dengan lebih baik lagi. Jaksa An bertanya apakah mereka berdua menganggap penyelidikan ini sebagai bahan candaaan.


“Apa Anda pikir pengacara kompeten sepertiku akan bercanda dengan hidupku?” tanya Kang Seok dengan serius. Jaksa An bilang maksud pertanyaannya adalah apakah Kang Seok berhenti menjadi jaksa karena melihat Jaksa Oh melakukan kejahatan ilegal, tetapi tidak bisa melaporkannya karena Jaksa Oh adalah atasan dan mentor yang sangat Kang Seok hormati.


Ha Yeon merasa Jaksa An sudah berlebihan, karena itu bukanlah pertanyaan yang cocok ditujukan kepada saksi. Jaksa An membuka berkasnya dan berkata bahwa dia akan bertanya dengan lebih spesifik.


“Bulan Oktober 2008, mantan anggota Kongres Gu meminta Jaksa Oh membantu putranya dibebaskan dari kasus tabrak lari. Apa Anda tidak menyadari kenyataan bahwa Jaksa Oh sengaja menghancurkan bukti CCTV tepat sebelum sidang dimulai?” tanya Jaksa An.


Ha Yeon: “Klienku tidak akan menjawab.”
Jaksa An: “Apa Anda tahu tentang rumor yang mengatakan dia dijanjikan promosi sebagai imbalan membantu anggota Kongres Gu?”
Ha Yeon: “Klienku tidak akan menjawab.”


Jaksa An berpikir sejenak dan bertanya apakah masuk akal jika Kang Seok kehilangan bukti di tengah persidangan, padahal sebelumnya tidak sapernah kalah satu kasus pun. Ia bilang itu bisa saja karena Kang Seok sendirilah yang menghancurkan bukti itu. “Jaksa An, apa yang...” sela Ha Yeon, tapi Jaksa An tidak peduli.


“Katakanlah aku percaya Anda tidak terlibat apapun. Tapi apa menurut Anda, para petinggi akan berpikir sama? Menurut Anda mereka lebih suka menargetkan dan menghancurkan pengacara kompeten dan Wakil Kepala Jaksa? Atau Anda sungguh berpikir Jaksa Oh dengan senang hati mengakui semuanya? Jika Anda tidak bekerja sama, semua ini tak akan berakhir dengan tenang. Anda mungkin harus bertanggung jawab atas segalanya. Mengerti?” kata Jaksa An.


Ha Yeon terkejut dan Kang Seok tampak bimbang.


Geun Sik datang ke ruang arsip dan bertanya apa yang sedang Yeon Woo lakukan. Ia melihat berkas yang ada di meja dan bertanya kenapa Yeon Woo menyelidiki Namyoung dan laporan keuangan perusahaan mereka. “Aku sedang belajar,” kata Yeon Woo berbohong. “Aku mengkhawatirkan masa depanku. Firma hukum mulai mengalahkan perusaaan lebih kecil belakangan ini. Dan aku sadar,a ku sangat hebat dengan angka.”


Geun Sik bilang ia adalah orang yang profesional ketika membahas angka. Yeon Woo bilang ia tidak tahu itu. “Kau tidak perlu membuang waktu mempelajari angka. Kau harus mencari gajimu yang bahkan tidak ada,” kata Geun Sik yang membuat Yeon Woo terkejut. “Menurutmu, mengapa gajimu tidak ada? Aku ganti pertanyaannya. Kau bukan rekan resmi Kang & Ham, jadi wajar kau tidak dibayar. Kenapa kau bukan rekan resmi? Kau bekerja, tapi tidak dibayar. Kau ada disini, tapi namamu tidak ada di sistem. Apa masalahnya? Apa kau hantu? Kau roh? Apa ini?”


Yeon Woo diam saja. “Aku punya bukti kuat disini,” kata Geun Sik sambil menunjukkan lembar penggajian Kang & Ham bulan Mei 2018. “Kau lebih baik menjawab daripada membuat alasan. Kau hantu.” Yeon Woo bilang ia juga tidak tahu kenapa bisa begitu.


Geun Sik meminta kartu pegawai Yeon Woo dan mengecek nomor ID-nya, karena ia yakin nomornya palsu. “Apa? Ini.. ini tidak mungkin,” kata Geun Sik setelah membaca data Yeon Woo di tabletnya. Yeon Woo hanya mengangkat kedua bahunya.


Geun Sik lalu pergi dengan malu sekaligus kesal. Sedangkan Yeon Woo bisa menghela napas lega.
Flashback..


Berkat informasi dari Direktur Bang bahwa namanya tidak terdaftar di Kang & Ham, Yeon Woo lalu membuat penggajian untuk dirinya sendiri.


Yeon Woo masih menarik napas lega karena berhasil melepaskan diri dari Geun Sik kali ini. Ji Na lalu melihatnya dari luar ruangan. Ji Na kemudian menghubungi seseorang melalui ponselnya, “Ini aku.”
Advertisement


EmoticonEmoticon