7/25/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 2 PART 3

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 Part 1

Woo-jin berjalan di sekitar kompleks.. dia masih bertingkah aneh, yakni selalu mengukur benda disekelilingnya. Kali ini, dia mengukur bangku taman, dimana seorang siswi tengah duduk disana..


Karena Woo-jin tak minta izin lebih dulu, siswi itu salah paham dan mengira Woo-jiin sebagai pria cabul. Dia pun berteriak memarahinya dan kebetulan.. Seo-ri berjalan lewat sana dan meihat kejadian itu, namun dia tak berbuat apa pun dan malah bergegas pergi menjauh.


Syukur.. karena Hee-so mengendari motornya lewat situ. Dia bergegas turun untuk memberikan penjelasan pada siswi yg sangat marah hingga menghajar Woo-jin habis-habisan.

Tapi Woo-jin sendiri, bersikap begitu cuek. Dia tak minta maaf atau berkata apa pun, dia malah berjalan pergi tanpa menghiraukan teriakan siswi itu yg masih terus memakinya..


Tingkah Woo-jin, membuat Hee-so gereget bukan main. Pekerjaan mereka adalah arsitektur yg merancang bangunan.. dan Woo-jin memang punya obsesi sendiri untuk mengukur benda apa pun disekitarnya. Namun hal itu, hanya dimengerti oleh orang terdekatnya.. maka Hee-so meminta Woo-jin untuk tidak bertindak seperti barusan lagi, di sembarang tempat..


Woo-jin tak berkomentar apa pun, dia lebih tertarik memerhatikan peralatan antik yg tersimpan di meja. Alhasil.. Hee-so menyerah untuk menceramahinya. Terakhir, dia hanya mengingatkan Woo-jin untuk datang kerja besok dan WAJIB mencukur rambut gondrongnya itu...


Dalam perjalan pulang.. langkah Woo-jin terhenti di depan sebuah selebaran anjing hilang. Enath kenapa, tapi dia memerhatikannya dengan saksama..


Sementara itu.. Seo-ri yg telah berjalan cukup jauh, akhirnya menemukan satu rumah yg dia ingat, sebagai rumahnya dulu. Namun kita tahu, bahwa sekarang, itu merupakan rumahnya Woo-jin.


Seo-ri menekan bel, kemudian mengatakan bahwa dirinya adalah keponakan pemilik rumah. Maka Jenifer lansgung membukakan gerbang untuknya..

Jenifer menyapanya dengan hangat, kemudian memperkenalkan diri sebagai asisten rumah tangga yg baru mulai bekerja hari ini, “Pamanmu memberitahuku bahwa kamu akan segera datang. Sekarang.. Dia pergi ke luar sebentar...” jelasnya


Mendengar hal itu, membuat Seo-ri girang, “Apa pamanku benar-benar memberitahumu bahwa aku akan segera datang? Astaga, aku keliru. Aku tahu itu. Tidak mungkin paman akan meninggalkanku...” ujarnya

Jenifer mengungkapkan, bahwa dirinya mengira keponakkan pemilik rumah masih berusia muda, maka So-ra cerita kalau dia tiba-tiba terbangun di usia 30 tahun.


Mereka masuk kedalam rumah.. dan anjing kecil milik Woo-jin lasngung menghampiri Seo-ri, seperti menghampiri majikannya sendiri..

Entah bagaimana caranya.. tapi kemungkinan besar, itu memang anjing milik Seo-ri bernama Fang.. yg dulu diberikan oleh paman dan bibinya..


Jenifer memerhatikan wajah Seo-ri yg terlihat begitu pucat. Maka dia menawarkan diri untuk membuatkan jus wortel..


Namun ketika kembali.. Jeni mendapati So-ri yg telah tertidur lelap. Tak ingin memabngunkannya.. dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berhasil memangku Jeni, naik ke kamar atas..


Chan makan bersama dengan teman-temannya, sambil cerita kalau dia akan tinggal bersama dengan pamannya. Ada momen lucu, ketika pemilik toko mengira Seok-soo adalah ayah mereka.. (iyasih, karena mukanya boros banget..)


Dalam perjalanan pulang, Hae-beom menghadiahkan masker wajah untuk Deok-soo, “Jika kau merawat dirimu sendiri, setidaknya kau akan terlihat seperti paman kami...” ujarnya

“Gen keluargaku terlalu  kuat untuk dikalahkan. Kau tahu ayahku, kan? Dia berumur 42 tahun. Tapi setiap kali dia naik bus, semua orang memberikan tempat duduk padanya...” jelas Deok-soo


Tiba-tiba... sepeda yg diparkir di sebelah mereka terjatuh, hingga menimbulkan efek domino. Chan berlari dan menahan di ujung sepeda, demi menyelamatkan seekor anak ayam..


Dengan mata yg berbinar, dia menatap binatang mungil itu dan mengasakan bahwa diirnya akan merawatnya. Para sobatnya komentar, akalu merawat binatang semacam itu, tidaklah mudah.. nanti kotorannya bertebaran dimana-mana..

Tapi dengan pedenya, Chan mengutip kalimat Bruce Lee: “Don’t think, just feel..” katanya, yg lantas mengeja feel dengan huruf ‘F-I-L’


Ketika Woo-jin pulang, Jenifer lansgung menceritakan soal keponakannya yg telah pulang dan sekarang tertidur di kamar atas, setelah dibopong olehnya sendirian.

Woo-jin keheranan mendengarnya, karena dalam dugaannya, Chan pasti sangat berat. Tapi Jeni menyanggahnya, dan menegaskan kalau yg dibopongnya tadi cukup ringan....


Lalu Jeni bertanya, berapa perbedaan usia Woo-jin dengan keponakannya?

Woo-jin menawajab 11, membuat Jeni mengernyit heran, “Bukan 1 tahun, tapi 11 tahun?” ujarnya


Woo-jin ingin bertemu dengan Chan, tapi setelah dipanggil berulangkali.. tak ada sahutan. Maka Woo-jin bilang, dia akan membangunkannya dengan cara yg dulu sering dilakukannya...


Chan baru sampai di depan gerbang.. dia menekan bel tapi tak ada yg menjawab. Akhirnya dia membukanya sendiri. Dia melanggang masuk dengan bebas, karena kebetulan... Jeni tengah berada di toilet.


Ketika Chan masuk ke kamarnya.. dia lansgung menyalakan lampu dan dia kaget, melihat Woo-jin yg tengah mencium pipi seorang wanita tak dikenal..


Woo-jin juga ikutan kaget.. menyadari apa yg barusan dilakukannya. Seo-ri yg terbangun, lansgung menjerit hsiteris.. dia ingat, Woo-jin adalah pria cabul di taman, maka dia lasngung mendorongnya dan menjerit sekeras-kerasnya..


Jenifer datang dengan membawakan dua gelas jus wortel.. dia melihat Chan dan beranya itu siapa? Woo-jin menjelaskan bahwa itu adalah keponakannya.. lantas dia bertanya balik, wanita itu siapa? Jeni menjelaskan bahwa itu adalah keponakan pemilik rumah, dan Seo-ri menegaskan bahwa ini adalah rumahnya!


“Terkadang hal-hal yang sangat kecil dan sepele... bisa mengubah hidup kita... dengan kekuatan yang lebih kuat dari yang kita pikirkan. Sama seperti dengan pertemuan yang tidak disengaja... di hari tak terduga dalam 30 tahun hidupku... membuat hidupku dan hidupnya bergetar hebat..”  - Gong Woo Jin

1 komentar


EmoticonEmoticon