7/26/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 2 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 Part 2

Semuanya berkumpul di ruang tengah, Jennifer meminta maaf atas kecerobohannya yg tak lebih dulu memastikan nama, jenis kelamin dan usia keponanakkan pemilik rumah.

Mengutip kalimat dari Plutarch, dia mengatakan: “Tapi dari kesalahan, kita bisa ... belajar kebijaksanaan untuk masa depan”


Sembari memeluk Deok-gu, Seo-ri bersikeras mengatakan kalau ini memang rumahnya, “Aku keponakan pemilik rumah. orang tua ku membeli rumah ini 11 tahun yang lalu. Ini Fang, dan aku dulu pemiliknya. Dan dia masih di sini di rumah ini. Jadi mengapa tempat ini bukan ...” jelasnya


Maka Woo-jin menjelaskan: “Aku mendengar pemilik sebelumnya menelantarkannya saat mereka pindah. Jadi orang tua ku mulai merawatnya, dan sudah beberapa tahun sejak Aku yg mengurusnya sendiri...”


Seo-ri panik, “Tidak mungkin. Lalu dimana... maksudku, di mana pemilik sebelumnya rumah ini? Apakah kamu tahu kemana dia pergi?”

“Aku dan pamanku tidak tinggal di Korea ... kembali ketika kakek ku pindah ke rumah ini. Mengapa kamu tidak mencoba menghubungi pamanmu saja?”

“Aku telah kehilangan kontak dengan mereka. Karena Aku sudah pergi untuk sementara waktu. Nama pamanku adalah Kim Hyun Gyu ...”


“Aku tidak berpikir kami dapat memberimu jawaban” tukas Woo-jin, tapi Chan memberinya sedikit harapan dengan berusaha menghubungi sang kake untuk bertanya, barangkali masih mengimpan kontak penjual rumah ini.

Setelah ditelpon, Kakek menjelaskan: “Pemilik sebelumnya, mereka meninggalkan barang-barang mereka dan Deok Gu di sini lalu pergi dengan terburu-buru”


Maka Woo-jin menyuruh Seo-ri untuk minta bantuan polisi saja, “Bagaimanapun, sekarang kamu tahu ini bukan rumahmu. Jadi Aku ingin Kamu pergi...” pintanya


Seo-ri tak bisa membantah... dengan raut wajah yg sangat sedih, dia menyerahkan anjingnya kembali kepada Woo-jin, “Aku minta maaf karena membuat keributan. Fang, aku minta maaf. Aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu bahkan jika aku membawamu bersamaku. Jangan sakit. Baik-baik saja, oke?” ujarnya


Kemudian, Seo-ri berlari menuju gedung, yg dulunya terdapat kantor milik pamannya di lantai 5. Tapi nyatanya.. sekarang telah berubah menjadi tempat olahraga. Satpam menjelaskan, bahwa kantor yg dimaksud Seo-ri, telah tutup sejak lama.


Selanjutnya, Seo-ri mengikuti saran Woo-jin untuk minta bantuan polisi. Dengan paniknya, dia menanyakan keberadaan paman dan bibinya, lalu kedua sahabatnya yakni Soo-mi dan Hyung-tae.

Polisi meminta Seo-ri menunjukkan KTP-nya. Spontan, Seo-ri keceplosan menjawab kalau dia masih berusia 17 tahun.. alhasil, polisi jadi mengiranya sebagai orang dan aneh dan mereka tak bersedia membantunya..


Malam semakin larut.. Seo-ri terus berjalan sendirian, hingga akhirnya dia menemukan sebuah toko kelontong yg dia ingat lokasinya dengat dengan rumahnya Hyung-tae dan Soo-mi.. namun ketika melihat sekelilingnya, hanya ada gedung-gedung tinggi...

“Lalu apa yang harus Aku lakukan? Mereka bilang rumahku bukan rumahku. Perusahaan pamanku juga tidak ada. Kemana Aku harus pergi? Kemana semua orang pergi?” keluhnya lirih


Chan memperkenakan kedua temannya. Kali ini, Woo-jin mengira Deok-su sebagai pelatih.. maka Chan menjelaskan bahwa dia adalah temannya juga dan yg sau lagi, namanya Hae-bum, “Mereka adalah temanku dari klub dayung sekolah...”

“Aku sudah mendengar banyak tentang Kamu dari Chan...” sahut Woo-jin yg kemudian pamit, karena harus membeli makanan untuk anjingnya.


Deok-soo bertnaya pada Chan: “Ngomong-ngomong, pamanmu punya ... gaya rambut yang tidak biasa. Apakah dia menggali tanaman herbal di gunung?”

“Herbal, apanya! Itu karena dia mengejar gaya setengah dan setengah hidup. Sekarang ini musim liburnya. Saat musim ramai, Dia sangat keren..” jawab Chan

“Aku ingin hidup seperti dia...” ujar Dek-soo


Namun smabil mennunduk dan menunjukkan ekspresi sedih, Chan berkata: “Aku tidak ingin dia hidup seperti itu...”


Di tengah ramainya orang lalu lalang, Seo-ri hanya sendirian. Ditengah jalan, ada seroang ajjusshi mabuk yg menggodanya.. dan Seo-ri lansgung menghindar dengan bilang: “Aku masih dibawah umur!”, lantas si ajusshi mendumel, “Mana ada.. wanita dengan wajah sepertimu, masih sibawah umur..”


Berjalan melewati gang yg gelap.. Seo-ri dibuat parno karena ada seorang pria misterius yg jalan dibelakangan. Kelika diperhatikan, dia seperti hendak mengeluarkan sesuatu dari baliknya.

Seo-ri mengira itu pisau, maka dia menjerit histeris dan berlari secepat yg dia bisa.. padahal nyatanya, si pria itu, cuman ingin mengeluarkan setusuk sosis...


Dek-soo terus menggonggong.. maka Woo-jin dan Chan melihatnya dan mereka bertanya-tanya, apakah penyebabnya?


Eh tiba-tiba.. muncul Jennifer yg langsung memberikan jawabannya dengan sanat rinci: “Anjing tidak menggonggong tanpa alasan. Ketika mereka menggonggong, mereka merasa waspada atau mereka butuh sesuatu ... atau mereka mengekspresikan stres. Ketika mereka merintih, mereka merasa cemas atau tidak nyaman. Ketika mereka... melolong seperti serigala, mereka sedang menunggu anggota keluarga yang belum kembali, dan mereka mengirim sinyal ... agar mereka tahu di mana mereka berada...”


Mendengarnya seketika membuat Chan berkomentar: “Anda seperti Wikipedia berjalan..”

Dan tentang gongongan Deok-gu, Chan mengira.. itu karena Deok-goo menunggu si pemiliknya yg asli. Tapi Woo-jin, menyanggahnya dengan mengatakan bahwa pemiliknya ada disini kok..


Woo-jin menggendong anjingnya, yg terus melihat keluar jendela.. yg kondisinya sekarang tengah hujan begitu deras...


Advertisement


EmoticonEmoticon