7/26/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 4 Part 1

Setelah berseka, Seo-ri menari tempat duduk di pinggir jalan. Perlahan, dia ingin menikmati sebungkus cookies-nya, tapi tiba-tiba sebuah banner yg tersimpat di dekatnya terjatuh..


Seo-ri sengaja meninggalkan cookiesnya dan bergegas membenarkan posisi banner itu. Namun di waktu yg bersamaan, Woo-jin lewat.. dia mengukur bangku itu, lalu tanpa disadari dia menduduki cookies milik Seo-ri..


Seo-ri kembali, tapi dia kebingungan karena cookies-nya meghilang. Dia pun bertanya pada Woo-jin, yg kini tak dia kenali.. karena penampilannya yg baru, tetapi Wojin menegaskan bahwa dirinya tak tahu dan tak pernah melihat cookies yg dimaksud. Lagipula, untuk apa dirinya memakan sesuatu yg ditemukan dari jalanan..


Woo-jin berdiri... dan pada saat itulah, terlihat bekas cookies yg meleleh di bagian belakang celananya, yg secara kasat mata dikira orang-orang sebagai ‘kotoran’


Seo-ri merengek.. dia sangat sedih, karena makanan satu-satunya telah hancur. Woo-jin meminta maaf, dia pun hendak menggantinya dengan memberi uang. Namun Seo-ri menolak, dan minta dibelikan makanan yg sama...


Dalam perjalanan menuju waurng, orang-orang memerhatikan Woo-jin, mengiranya buang kotoran dicelana. Seo-ri memberitahunya, tapi Woo-jik tak peculi apa kata orang..

Atas dasar inisiatifnya sendiri, akhirnya Seo-ri memasangkan sweater-nya untuk menutupi kotoran di celana Woo-jin..


Ketika Woo-jin tengah membeli cookies, Seo-ri malah berlari mengejar seorang ahjumma yg tak sengaja menjatuhkan uangnya di jalanan, Woo-jin teriak memanggilnya, namun Seo-ri telah berlari cukup jauh..


Dengan nafas yg terengah, Seo-ri berhasil menyusul ahjumma itu yg hendak menaiki kereta bawah tanah. Si ahjumma berterimakasih, sambil mengatakan kalau Seo-ri tak perlu repot-repot menejarnya karena itu pecahan uang kecil..


Ditinggal sendirian, Seo-ri kebingungan.. dia lupa darimana dia masuk, dan lewat mana dia harus keluar..


Chan berlatih dengan rekan atlet yg lainnya. Seperti biasa, dia terlalu bersemangat.. bahkan ketika yg lain kelelahan,, dia sanggup lanjut latihan sendirian.


Usai latihan, Chan berjalan pulang dengan teman-temannya. Seorang siswi menghampirinya dan langsung menempelinya bagai perangko, dia bertanya kenapa Chan tak mengangkat telpon atau membalas chat-nya?

“Maafkan Aku. Aku sedang berlatih. Aku membaca SMS Kamu di malam hari, dan Aku tidak ingin membangunkan Kamu...” jawab Chan, yg membuat siswi itu sumringah dan berkata: “Astaga, Chan. Apakah Kamu mengkhawatirkan Aku pada jam itu? Kamu benar-benar memiliki cara sendiri dalam menafsirkan sesuatu. Aku tidak tahu itu. Aku sangat frustrasi sehingga Aku hampir pergi ke rumahmu...”

“Chan tidak tinggal di tempat dia dulu tinggal...” ungkap Deok-su yg kemudian menjelaskan bahwa sekarang, Chan tinggal dengan pamannya.


“Astaga, berarti dia paman iparku. Aku harus mengunjunginya dan memperkenalkan diri...” ujar siswi itu

Chan menawatinya roti, tapi dia tak mau, “Aku kehilangan nafsu makan setelah melihat seorang pria yang buang air besar di celana..” keluhnya


Woo-jin tiba di kantornya.. dia bertemu dengan seorang pria yg dandanannya ala hip-hop, namanya Jin-hyun. Jin-hyun menyapanya, namun Woo-jn bereaksi seakan dia tak mengenalinya. Bahkan, dia pun salah menyebut namanya.

Tapi sesaat kemudian, Woo-jin bilang dia cuman bercanda. JIn-hyun mengeluh, “Mana bisa kamu bercanda, tapi ekspreimu begitu datar..”

Hyun melihat swerater pink yg dipakai Woo-jin, maka Woo-jin membukanya dan menjelaskan kalau ada kotoran di celananya.


Seo-ri masih terus berkelana sendirian, dia sampai di tempat laundry yg pemiliknya memang tinggal disana sedari dulu. 

Si kakek sempat tak mengenali Seo-ri, begitu pun sebalinya. Tapi setelah cerita.. akhirnya dia mengingatnya. Namun sayang, sepertinya si kakek itu tak juga mengetahui keberadaan paman dan bibinya Seo-ri.


Woo-jin bertemu dengan salah seorang klien, yg minta dibuatkan rancangan dekorasi, sesiuai dengan skenario.


Dibantu alunan musik, tak butuh waktu yg lama hingga Woo-jin menyelesaikan rancangan itu dan klien-nya sanga suka hasilnya.


Mereka berjalan keluar bersamaan.. jelas terlihat, kalau si wanita tertarik pada Woo-jin. Dia bahkan mengajaknya dinner tapi Woo-jin menolaknya begitu saja.

Si wanita belum menyerah, setelah mengetahui kalau rumah mereka searah, dia sengaja cerita kalau dia tak membawa kendaraan.

Woo-jin yg sangat amat tidak peka, hanya berkomentar: “Hati-hati di jalan..”


Meski Woo-jin tak menawarinya tumpangan, si wanita mengira  Woo-jin akan mengantarnya.. eh tapi ternyata, baru juga dia menyentuh gagang pintu, Woo-jin langsung melaju pergi..


Wanita itu sangat kesal.. untunglah datang Hee-so yg langsung menenangkannya dan mengajkany makan malam bersama dengannya saja..


Berpindah ke sebuah aula konser, disana ada pemain biola terkenal yg tengah diwawancara, namanya Kim Tae-rin, 

Setelah membahas tentang konser dan sebagainya, si reporter bertanya: “Apakah ada.. pemain biola lainnya, yg anda anggap sebagai rival?”


Tae-rin teringat masa lalu.. tepatnya, dia mengingat sosok Seo-ri. Meski yg mememangkan perlombaan adalah dirinya, tetapi malah Seo-ri yg diajak berkolaborasi dengan seorang maestro terkenal kala itu....


Kembali ke realita.. kepada reporter Tae-rin menjelaskan: “Aku memainkan biola karena Aku suka musik. Bukan karena Aku ingin menjadi lebih baik daripada orang lain. Aku tidak membandingkan diri Aku dengan siapa pun saat Aku bermain”


Seo-ri duduk di halte bis.. disampingnya ada banner pertunjukkan biola, yg seketika membuatnya teringat pada peretmuan terakhirnya dengan sang bibi..


Dengan ceria Seo-ri pamit pergi.. dia berlari dengan menggendeok biolanya, karena kelihatannya sebentar lagi hujan akan turun.


Mobil yg dikendarai Woo-jin melewati halte tempat Seo-ri berasa. Deok-gu melihatnya, maka dia terus menggonggong. Namun woo-jin tak menyadari hal itu.. dan dia melanjutkan perjalannnya menuju rumah..


Di waktu bersamaan, Seo-ri berlari menuju rumahnya Woo-jin. Kebetulan, ada beberapa pengantar makanan yg baru masuk, maka gerbang depan terbuka lebar.. alhasil, Seo-ri bisa masuk dengan mudahnya..
Advertisement


EmoticonEmoticon