7/20/2018

SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 13 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 13 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS What's Wrong With Secretary Kim Episode 13 Part 2

Dengan begitu antusias, Ji-ah bercerita pada Mi-so kalau ternyata Young-joon sudah punya pacar dan dia punya bukti fotonya..


Melihatnya membuat Mi-so terperanjat kaget, “Siapa yang memotretnya?”

“Teman kuliahku. Dia tahu wajah Wakil Pimpinan karena magang di sini. Katanya dia mencium tangan pacarnya seperti ini...”

“Ini saja? Bagaimana dengan foto pacarnya?”

“Sayangnya, hanya ada ini...”


Lantas, Ji-ah lanjut berkomentar: “Sulit dipercaya. Pak Lee menyuruhku mengosongkan jadwal hari ini. Kukira dia sangat lelah. Ternyata dia malah menemui pacarnya. Dia serius di depan kita, tapi pasti dia lembut di depan pacarnya...”, lalu dia bertanya pada mi-so: “Kamu tidak mengenalinya? Bukankah tadi kalian keluar bersama?”

“Aku menunggunya di mobil dan tidak tahu siapa yang dia temui...” jawab Mi-soe dengan kikuk


Ponsel Mi-so berdering, ada sms masuk dari Young-joon.. yg lagi-lagi diselipi emotikon love. Ji-ah melihatnya, maka dia lansgung bertanya penasaran: “Itu pesan dari Wakil Pimpinan, ya? Kenapa ada emotikon love-nya??? Jangan-jangan, kamu pacarnya???”

“Ada banyak Wakil Pimpinan di negara ini. Dia Wakil Pimpinan kelompok pemuda di gerejaku. Dia selalu penuh kasih dan sering mengirimkan simbol hati...” jawab Mi-so dengan tergagap


Pada momen itu.. tak sengaja, Ji-ah melihat gelang di tangan MI-so.. yg seketika membuatnya mengernyit heran..


Mi-so mengambil minum di pantry.. dia benafas lega, sambil berkata: “Nyaris saja, tapi aku berhasil lolos. Aktingku alami sekali...” 


Sesaat kemudian, Ji-ah menghampirinya dan lansgung berkata: “Jika aku pernah bergunjing tentang Wakil Pimpinan, maafkan aku...”

“Kenapa tiba-tiba kamu mengungkitnya?” tanya Mi-so

“Tidak ada yang senang jika pacarnya digunjingkan..” jawab Ji-an, “Kalian berpacaran. Wanita yang punggung tangannya dicium di foto itu kamu, bukan?” ujarnya

“Bukan. Bukan aku...” sanggah  Mi-so


“Aku tidak suka kecerdikanku pada saat seperti ini...” ucap Ji-ah sambil menunjukkan foto itu lagi, “Gelangnya sama seperti gelang yang kamu pakai..” ungkapnya

“Itu biasa saja. Gelang ini populer tahun lalu. Bu Bong juga memakai gelang yang sama...” tukas Mi-so dengan gugup

“Akui saja. Aku sudah bilang bahwa aku cerdik...” ujar Ji-ah sambil memperbesar foto itu, yg ternyata ada cermin kecil di sudut yg dengan jelas menunjukkan pantulan wajah Mi-so


Akhirnya Mi-so tak bisa mengelak, “Benar. Kami berpacaran, tapi rahasiakanlah. Jangan beri tahu siapa pun...” pintanya

“Tentu saja. Aku cerdik sekaligus setia. Jadi, jangan khawatir. Aku mendukung percintaan kalian!” ujar Ji-ah


Meski bukan dia yg berpacaran, namun Ji-ah sangat antusias.. sekarang, dia bisa memahami arti tatapan manis Young-jooon pada Mi-so, begitu pun sebaliknya. Tapi suasana itu.. jadi membuat Mi-so kurang nyaman..


Young-joon memanggil Mi-so dan dia sengaja menutup tirai ruangannya, membuat Mi-so bertanya: “Kenapa?”

“Kita harus duduk bersebelahan dan bekerja bersama... Duduklah...”

“Tidak bisa. Ji Ah akan curiga. Dia mengetahui hubungan kita...”

“Benarkah? Lantas?”

“Aku yakin dia akan merahasiakannya, tapi jika begini terus, semua orang akan tahu...”


“Aku justru ingin mengumumkannya. Jadi, hubungan kita akan jauh lebih nyaman. Dan para hidung belang yang seperti garam di sup, tidak akan bisa menggodamu lagi”

“Tidak ada yang menggodaku. Pokoknya, jangan diumumkan. Jangan menunjukkan kemesraan di kantor atau sekitarnya.”

“Aku tidak boleh mengumumkannya dan kamu tidak mau kusentuh. Kenapa aku tidak bebas?”

“Kompromi dalam hubungan itu penting.”

“Kenapa kamu ingin aku mengikuti caramu?”

“Bukan itu maksudku...”


“Aku ingin memberi tahu dunia bahwa kamu milikku. Aku kecewa karena kamu terkesan ingin menyembunyikanku...”

“Aku tidak menyembunyikan, tapi melindungi Anda. Karena Anda tidak seperti orang biasa. Aku harus berhati-hati karena kekuasaan dan pengaruh sosial Anda...”

“Terserah. Aku akan berusaha menjalaninya sesuai caramu, tapi entah kapan kesabaranku akan habis...”


Se-ra mendatangi Mi-so untuk bertanya tentang jadwalnya Young-joon: “Pak Lee akan sibuk untuk beberapa saat, ya?”

“Ya, dia sibuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk...” jawab Mi-so

Lantas Ji-ah bertanya: “Kenapa tiba-tiba kamu mencemaskan Pak Lee? Jika menyukainya, kamu akan patah hati...”

Mi-so terbelalak, takut Ji-ah keceplosan. Tapi untungnya, Se-ra sedang asyik menatap Pak Yang, maka dia tak mendenegar apa yg barusan dikatakan..


Selama jam kerja, diam-diam Se-ra dan Pak Yang saling curi pandang. Ketika hampir ketahuan, Se-ra bergerak cepat dengan bertindak seolah dia sedang menginspeksi kerjaan Ji-ah: “Laporan penjualan Elektronik Yumyung sudah selesai?” tanyanya


“Belum..” jawab Ji-ah, “Karena perjalanan dinas Pak Lee, aku mengurus beberapa pekerjaan tambahan. Akan kuselesaikan pada akhir pekan...” tuturnya dan Gwi-nam yg duduk di sebelahnya mendengar hal itu


Tak terasa, sekarang sudah jam nya pulang kantor. Pak Jung bersemangat mengajak seluruh anggota tim-nya untuk mengadakan pesta penyambutan atas kedatangan Gwi-nam kedalam tim mereka.

Namun dengan dinginnya, Gwi-nam berkata: “Tidak perlu. Yang perlu menyambutku adalah tumpukan pekejaan ini, bukan alkohol. Aku akan menggelar pesta sendiri dengan bekerja lembur...”


“Baiklah. Walau tanpa yang bersangkutan, mari kita minum-minum untuk menyambut kedatangan Pak Ko. Bagaimana? Kalian setuju?” ajak Pak Jung, tapi menyedihkan karena tak ada yg mau menemaninya minum


Dalam perjalanan pulang, Young-joon bertnaya pada Mi-so: “Hari ini kamu akan ke rumahku, bukan?”

“Rumah Anda? Aku tidak bermimpi buruk lagi dan bisa tidur sendiri. Aku tidak perlu lagi tidur di rumah Anda...”

“Maksudku... Masih ada sesuatu yang harus kita lakukan”

“Harus kita lakukan?”

“Yang sempat terhenti tempo hari...”


“Ini perjalanan pulang. Kenapa Anda membahasnya segamblang itu?”

“Apa salahnya dengan ‘yang sempat terhenti’? Aku bisa memakai kata-kata yang lebih seksi. Malam yang panas dan bergairah? Malam yang menggebu-gebu? Malam yang erotis?”

“Cukup pak..”

“Dan yang paling seksi, adalah cintaku kepadamu... Aku mencintaimu...”


Setelah berganti pakaian, Ji-ah berjalan keluar apartemennya. Dia mengeluh: “Ramenku habis. Aku tidak ingin makan sendiri hari ini...”


Tak lama kemudian, pulanglah Gwi-nam. Maka Ji-ah lasngung bertanya: “Bukankah kamu akan bekerja lembur hari ini?”


“Aku bohong karena takut harus mentraktir semuanya.  Itu pengeluaran yang tidak perlu...”

“Kalau begitu, mau mengadakan pesta penyambutan denganku? Aku masih berterima kasih karena kamu memperbaiki notulaku. Itu juga ingin mengadakannya sebagai tetanggamu. Akan kutraktir...”

“Tidak usah. Jika kamu mentraktirku, aku menjadi berutang budi. Aku ingin menghindari lingkaran setan itu...”


“Ikut saja denganku. Kamu terlalu cerewet...” ujar JI-ah, sembari menyeret Gwi-nam bersamanya..


Lima menit lagi, mereka sampai di urmahnya yung-joon. Tapi tiba-tiba, ponsel MI-so berdering.. ada telpon masuk dari sang ayah..


Sesaat kemudian, Mi-ao sampai di Rumah Sakit tempat ayahnya di rawat. Dokter menjelaskan, beliau perlu dirawat beberapa hari karena tendonnya mengalami cedera ringan..


Mi-so bertanya kenapa si ayah bisa cedera seperti ini? Ternyata... kejadiannya saat ayah tengah bernanyi bersama grup band rock-nya..


Bertingkah ala-ala penyanyi muda.. ayah ingin menjatuhkan diirnya kedalam kerumunan penonton. Tapi naasnya, tak ada satu pun penonton yg menanagkapnya..


“Ayah lupa bahwa rata-rata penonton berusia 50 tahun. Mereka tidak akan mau membahayakan kesehatan mereka...” jelasnya
Advertisement

1 comments:

Aduh..ayah mi-so kocak..😂


EmoticonEmoticon