7/11/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 19 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 19 BAGIAN 1


“Aku menyukaimu... Tapi aku menyukaimu sama seperti aku menyukai Chil Seong- hyung.... Jadi, aku akan berhenti di sini. Jadi, jangan menyukaiku.” ungkap Poong yg seketika membuat Sae-woo speechles bingung, harus bereaksi bagaimana.


Sejenak diam.. lalu Sae-woo berdiri dan tersenyum ‘getir’, sambil berkata: “Baiklah..”

“Untuk berjaga-jaga saja...” ujar Poong

“Baiklah..” jawab Sae-woo yg kemudian berjalan pergi


Sae-woo memutuskan untuk duduk menyendiri di halte, sementara Poong duduk menyendiri dalam dapur..


Beberapa saat berlalu.. ketika berjalan keluar, Poong melihat si nenek yg tengah berusaha mengambil sepatu Poong yg masih tersangkut di banner..

“Sepatu itu tampak kesepian menggantung di sana, bukan? Di mana pemiliknya? Dia tidak tahu sepatu malangnya menggantung di atas sana?” tanya si nenek, yg kemudian bisa meneba kalau itu sepatu milik Pong, “Itu sepatumu?”

“Bukan..” jawab Poong

“Pasti sepatumu. Kamu tampak kesepian seperti sepatumu...” ujar si nenek


Seakan tahu segalanya, si nenek lantas bercerita tentang Sae-woo, “Dia baru saja pergi. Omong-omong, wajahnya juga tampak sepertimu...”

“Maksudnya?”

“Jika kamu khawatir, kejar dia. Dia pasti masih di halte bus...”

“Untuk apa?”

“Hey! Kalian berpacaran?”

“Tidak!”

“Astaga, jawabanmu cepat sekali bagaikan roket, Poong...”

“Kami tidak berpacaran!”


“Melihatmu dengan mendongak membuat leherku sakit. Turunkan kepalamu...”

“Untuk apa (malah dicubit pipinya)?”

“Yang di atas akan menghukummu jika kamu membuat wanita khawatir. Setiap kali membuka mulutmu, kamu berbohong. Kamu harus jujur. Sepatu itu milikmu. Kamu juga ingin ke halte bus itu. Kamu mau memberi tahu orang-orang bahwa kalian berpacaran?”

“Kubilang kami tidak berpacaran!”

“Kalian masih muda. Memangnya kenapa jika orang-orang berpikir kalian berpacaran? Kamu takut apa? Kenapa kamu begitu menyangkalnya?”

“Kami tidak lajang...”

“Kalian bukan lajang?”

“Kami lajang...”


“Kenapa jawabanmu berubah? Hidupku telah berubah tidak menentu...”

“Apa maksudmu?”

“Terserah. Pergilah ke halte bus itu!”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Ada alasannya. Anda tidak tahu apa-apa”

“Hei, Bodoh. Aku tahu kamu selalu berbohong setiap kali membuka mulutmu itu!”

“Baiklah, terima kasih telah mendapatkan buku catatanku kembali bersama Chil-seung hyung.. Terima kasih. Anda sudah makan? Mau makan malam?”


“Kamu penasaran, bukan?”

“Soal apa?”

“Soal Sae Woo. Bagaimana raut wajahnya saat dia berjalan ke halte bus itu..”

“Aku tidak mau tahu!”

“Dia menangis tersedu-sedu. Wajahnya dipenuhi dengan air mata dan dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis begitu lantang selagi berjalan ke halte bus itu. Aku menawarkan dia sapu tangan dan dia bilang, ‘Aku mau mati!’ Lalu dia berlari. Ke sana...”

Mendengar hal itu, membuat Poong gelisah dan khawatir. Dia pun bergegas pergi menuju halte, berlari secepat yg dia bisa..


Di halaman Rumah Sakit.. Chil-seong jalan sendirian, sambil memikirkan perkataan Sae-woo tadi siang, “Aku tahu buku catatan itu penting, tapi hidupmu lebih penting...”


Tiba-tiba, muncul seroang wanita mengenakan sweater merah.. dia juga pasien, tapi roda tiang infus-nya macet.. maka dia izin ‘nebeng’ di tiang infusannya Chil-seong..


Chil-seong ingin duduk untuk merokok.. maka dia melepas kantor infusnya dan memberikan tiang itu untuk si wanita sambil menyuruhnya pergi saja..


Awalnya di wanita itu berjalan pergi.. tapi sesaat kemudian dia kembali. Karena memerhatikan sikap Chil-seong yg sangat lalai. Dia menaruh infusannya di kursi, yg jelas-jelas salah..

“Kamu membuatku merasa tidak enak. Kamu tidak boleh memegangnya seperti itu. Gantunglah. Nanti alirannya terbalik. Itu harus digantung lebih tinggi...”


Sesampainya di halte, Poong melihat Sae-woo tengah duduk tertunduk menutupi wajahnya,

“Kamu menangis?” tanya Poong

“Tidak..” jawab Sae-woo yg ternayta memang tak menangis sama sekali


Poong lantas duduk disebelahnya, dan bertnaya mengapa Sae-woo masih duduk disini?

“Hanya sampai busnya datang...”

“Armada busnya banyak. Lantas kenapa kamu masih duduk di sini?”

“Bus lainnya akan segera datang...”


Kemudian, Poong bertanya: “Apa yang kamu pikirkan?”

Sae-woo jawab, dia sedang berpikir.. ‘Bagaimana aku akan bertemu dengannya besok?’, tapi ternayta sekarang mereka bertemu disini..

“Besok pagi, bahumu akan sangat sakit karena itu kali pertamamu. Bahumu pasti akan sangat sakit, lalu kamu akan meminta berhenti bekerja di dapur...” jelas Poong


“Kamu mau aku berhenti? Tapi aku suka bekerja dengan wajan...”

“Tapi itu menyakitkan...”

“Aku menyukai wajan itu. Aku selalu memikirkannya..”

“Tidak ada solusinya jika sudah menyakitkan dari awal...”

“Tidak bisakah aku melakukannya dengan caraku sendiri? Aku akan menjaga diriku sendiri. Begitu pun dengan wajannya... Belum 10 jam aku bilang telah bercerai... ‘Biar kuberi tahu sekarang untuk berjaga-jaga. Jangan menyukaiku.’ ... Aku mendapatkan peringatan. Aku belum pernah diperingatkan sejak awal seperti ini...”

“Kubilang untuk berjaga-jaga”

“Tentu”

“Terserah deh... Ya, itu salahku. Itu salahku, bukan?”


Bus-nya datang.. Sae-woo pamit dan bergegas memasuki bus tersebut, meninggalkan Poong yg nampak kecewa..


Chil-seong hendak merokok, tapi wanita disampingnya melarang, “Pasien tidak boleh merokok...”

“Aku akan dipulangkan besok...” ujar Chil-seong

“Aku juga...” sahutnya

“Selamat...” ucap Chil-seong

“Aku mengidap kanker paru-paru...” ungkap si wanita yg membuat Chil-seong tak jadi merokok. Tapi kemudian, si wanita tertawa dan bilang: “Cuman bercanda... Rokok tidak baik bagi pasien...”

Dia kemudian bertnaya, “Kenapa ajusshi masuk rumah sakit? Apa profesimu?”

Chil-seong enggan menjawabnya, dan lansgung mengajakny kembali masuk ke dalam rumah sakit saja..
Advertisement


EmoticonEmoticon