7/20/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 24 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 24 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 23 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 24 Part 2

Sae-wo tengah duduk di depan Hungry Wok sambil menggendong seeor kucing mungill. Tiba-tiba, Chil-seong datang dan lansgung duduk disebelahnya.


Dengan antusias, Sae-woo bertanya: “Bagaimana jika kita memelihara kucing ini di sini?”

“Di mana induknya?”

“Entahlah. Dia selalu sendirian...”

“Kalau begitu.. Pelihara saja...”

“Sungguh? Berarti kita harus menentukan siapa yg akan menjadi ibunya..”


“Aku saja!” ujar Chil-seong, yg seketika membuat Sae-woo tertawa, “Tidak mungkin. Kamu bisa menjadi ibu?” tukasnya

“Aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan dari ibuku pada kucing ini. Aku akan menjadi ibunya, Poong akan menjadi ayahnya...” tutur Chil-seong

“Poong akan menjadi ayahnya? Jadi, kalian berpasangan?” tanya Sae-woo

“Iya..” jawabnya, maka Sae-woo langsung melarangnya: “Poong tidak boleh menjadi ayahnya. Biar aku saja!”

“Kalau begitu, kita pasangan? Suami. Istri... Kamu tidak keberatan?” tanya Chil-seong dan tanpa ragu, Sae-woo menjawab ‘Iya’, kemudian bertanya: “Mau kita namai siapa?”

Chil-seong kebingungan.. maka Sae-woo berkata: “Dim Sum! Bagaimana kalau Dim Sum? Dia mungil dan manis...”

Chil-seong tersenyum, “Baiklah, namanya.. Dim Sum..”


“Kamu harus menjadi ibu yang baik. Kamu harus mengajak dia bermain dan memberi dia makan. Kamu harus bilang ‘Aku menyayangimu. Aku menyukaimu. Kamu manis sekali’. Pokoknya semacam itu...” pinta Sae-woo

“Ternyata.. Ibu punya banyak kewajiban...” komen Chil-seong

“Kita bisa melakukannya bersama-sama...” ucap Sae-woo, yg kemudian berkata: “Jangan terlalu baik pada Poong..”

“Aku tidak sebaik itu kepadanya...”

“Tetap saja...”


Sejenak hening.. lalu Chil-seong bertanya: “Omong-omong, Poong di mana?”

“Dia pergi ke hotel untuk bernegosiasi..” jawab Sae-woo, yg kemudian menatap Chil-seong dan mengetakan: “Aku tahu matamu memang berkilau, tapi hari ini lebih berkilau. Tatapanmu menunjukkan ada hal baik yang terjadi”


“Tidak ada apa pun..” sanggah Chil-seong, “Aku hanya merasa marah, sedih, dan kesepian. Dan di sini (menunjuk dada) berdebar. Itulah yang kurasakan”

“Berarti kamu harus memegang Dim Sum. Anak-anak tidak hanya menerima sesuatu dari orang tua. Ibuku bilang mereka lebih banyak memberi daripada menerima...” tutur Sae-woo sambil menyerahkan Dim sum ke pangkuan Chil-seong


Poong berjalan meninggalkan hotel dengan raut wajah yg berseri-seri. Sepanjang perjalanan menuju Hungry Wok,, dia terus tersenyum tanpa henti..


Sesampainya di depan pintu.. dia melihat Sae-woo yg masih ada di dalam. Poong menahan langkah kakinya, “Saat ini aku sangat senang. Aku merasa akan melakukan sesuatu jika bersama dia. Kurasa aku akan membuat kesalahan. Aku tidak bisa...” ujarnya


Poong naik ke atas untuk menemui Chil-seong.. namun sayangnya, tak ada siapa pun dalam rumah, “Banyak sekali yang ingin kuceritakan kepadanya. Di mana dia?”


Berikutnya, Poong mengunjungi kantor Chil-seong.. dimana para ajusshi gangster tengah sibuk memeriksa begitu banyak berkas.

“Kalian sibuk? Minumlah bersamaku...” ajak Poong tapi tak ada yg menggubris ajakannya


Akhirnya Poong kembali turun ke bawah.. dia melihat Sae-woo, yg membuatnya bimbang sekaligus takut jika dirinya berbuat ‘kesalahan’. Tetapi dia meyakinkan dirinya kalau dia tak akan melakukan apa pun..


Masuk kedalam, Poong berikap begitu canggung.. dia mengajak Sae-woo minum dengannya, tapi beberapa detik kemudian dia membatalkannya dan malah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, karena sudah larut malam.


Masuk kedalam mobil, suasana malah makin canggung. Sae-woo kesulitan menarik sabuk pengaman. Maka Poong berinisitaif untuk membantunya.


Momen yg ‘intim’ ini membuat Poong semakin salting, hingga dia malah menyuruh Sae-woo untuk turun dari mobilnya sekarang juga..


Sae-woo bingung, heran, sekaligus kesal akan situasi ini. Apalagi, tiba-tiba Poong mengajaknya nonton.. tapi lagi-lagi membatalkannya saat itu juga.


Maka Sae-woo bertanya tentang satu hal: “Yang terjadi di UGD... Itu mimpi atau bukan?”

Poong tak bisa menjawabnya, maka itu makin membuat Sae-woo kesal: “Lupakan saja!” ucapnya yg kemudian berjalan pergi menuju halte bis


Poong mengikutinya, “Maaf karena sikapku terkesan ‘labil’..”

“Yaudahlah.. mau gimana lagi..”

“Kamu marah?”

“Enggak!”

“Tapi kelihatannya kamu marah..”

“Enggak tuh!”

“Kamu marah..”


Sejenak Se-woo menatapnya tajam, dan karena bis nya telah tiba, maka dia pun pamit pergi. Poong memanggilnya: “Sae-woo yaa.. noona... jangan naik yg ini, naik bus yg berikutnya saja..”


Tak menggubrisnya, Sae-woo bergegas masuk ke dalam bus begitu saja, meninggalkan Poong yg gereget, kesal dengan tingkahnya sendiri, “Dasar bego! Dasar idiot! Bukan itu maksudku...” 


Advertisement


EmoticonEmoticon