7/22/2018

SINOPSIS Wok of Love Episode 26 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Greasy Melo Episode 26 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 25 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Wok of Love Episode 26 Part 2

Sae-woo berjalan pulang bersama dengan yg lainnya. Mereka menyebrang jalan, sambil sibuk mendiskusikan, mau naik atksi atau bis..


Tiba-tiba.. Poong muncul dan lansgung meraih tangan Sae-woo. Dia tersenyum, mengajaknya pergi bersamanya dan tak ada yg menyadari hal itu..


Sementara itu, Chil-seong tengah mencari-cari rumah Nenek Kim, bermodalkan alamat yg tertulis dalam secarik kertas.


Setelah menemukannya, Chil-seong mendapati Nenek Kim yg tengah asyik makan ramen sambil menonton TV.


Di tembok, tertempel selembar poster lusuh bergambar foto seroang petinju, yg tak lain merupakan ayahnya Chil-seong,

“Tidak bisakah kamu memanggilnya ayah? Jangan anggap aku sebagai ibumu, tapi dia adalah ayahmu. Dia menyayangimu sampai dia meninggal...” jelas Nenek Kim


Dulu.. setelah memenangkan sebuah pertandingan tinju, ayahnya Chil-seong terluka parah hingga babak belur..


Di ruang tunggu, dia sempat bertemu dengan Chil-seong, dia pun sempat mengungkapkan rasa sayangnya kepada sang anak..


Tapi tiba-tiba.. Ayahanya Chil-seong terjauh dan tak sadarkan diri lagi..


Kembali ke realita.. Chil-seong berujar: “Dia seorang juara. Tapi putranya sibuk bermain-main dan berkelahi...”

“Tidak ada yang mau kubicarakan lagi. Sebaiknya kamu pergi..” pinta Nenek Kim

“Untuk sekali ini saja, aku ingin dibesarkan oleh seorang ibu. Besarkan aku mulai sekarang...” ucap Chil-seong yg kemudian duduk dan menikmati ramen bersama dengannya.


Poong dan Sae-woo kencan berduaan di sebuah kedai. Poong tak ingin minum, karena harus mengantar Sae-woo pulang.

“Pentingkah itu? Apa pria harus mengantar wanita pulang?” tanya Sae-woo

“Rasanya senang bisa mengantar wanita yang kusukai pulang...” jawab Poong, lantas Sae-woo berkata: “Haruskah aku pulang? Bisa saja tidak...”

“Jangan membuatku tertawa. Kamu bisanya bicara doang..” komen Poong


Setelah minum beberapa gelas, Sae-woo mulai mabuk dia pun berkata: “Dengar, kamu tidak memacari wanita yang usianya 3 atau 4 tahun lebih muda daripada kamu. Aku tampak dewasa, jadi, semasa berkuliah, semua pria memperlakukanku dengan hormat...”

“Lantas?”

“Aku tidak pernah memacari pria yang lebih muda karena membosankan. Bagiku, mereka bukan pria...”

“Mereka bukan pria. Terus apa?”


Ponsel Sae-woo berdering, ada telpon masuk dari ibunya tetapi dia sengaja mengabaikannya. Poong melihatnya, maka dia berkomentar: “Kamu lebih tua dariku, tapi ibumu sudah meneleponmu saja sebelum pukul 21.00...”

“Dia tidak meneleponku untuk menyuruhku cepat pulang. Dia hanya khawatir karena aku terlalu cantik...” ujar Sae-woo

“Kamu pasti anak yang baik...” sindir Poong


“Dahulu. Tidak ada alasan untuk menentang kata-katanya...” ujar Sae-woo

“Kini kamu tidak mau menurutinya lagi?” tanya Poong

“Mungkin...” jawabnya singkat, membuat Poong bertanya: “Kenapa?”

“Dia juga tidak mendengarkanku...” jawab Sae-woo


“Alasan macam apa itu?” sahut Poong sambil tersenyum

Lantas Sae-woo menujinya: “Kamu manis saat tersenyum...”

“Jangan perlakukan aku seperti bocah...” ujar Poong

“Apaan? Kamu memerintahku saat kita di dapur..” keluh Sae-woo, maka Poong juga mengungkapkan: “Itu berlaku untuk semua orang. Aku chef-nya! Dan kalau dipikir-pikir, kamu tampak lebih akrab dengan staf dapur daripada aku...”


“Kamu cemburu?” tanya Sae-woo, dan Poong langsung menajwab: “Ya. Aku cemburu!”

“Jika kita ketahuan pacaran, nanti canggung. Kita pacaran diam-diam dahulu untuk sekarang...” pinta Sae-woo

“Tidak mau!” tukas Poong, maka Sae-woo menegaskan: “Harus mau! Maksudku... Akan lebih seru jika kita pacaran diam-diam..”

“Seru? Omong kosong. Aku tidak pernah berpacaran seperti itu. Aku tidak mau berpacaran diam-diam. Lagi pula, aku akan tetap profesional saat kita di dapur. Aku hanya ingin memberi tahu semua orang dan berpacaran. Kenapa harus diam-diam? Memangnya itu kejahatan?” tutur Poong


Sae-woo enggan menjawabnya, dia berdiri dan bilang: “Aku pamit pulang. Kepalaku mau meledak!”

Poong meraih tangannya, “Baiklah, kita pacaran diam-diam. Aku akan bersikap manis denganmu diam-diam...” ucapnya yg seketika membuat Sae-woo tersenyum, dan berbisik menagtakan: “Aku akan bersikap manis denganmu diam-diam...”


Sae-woo meminta Poong untuk minum juga, tapi Poong menolak: “Aku juga bisa keras kepala! Karena aku ingin mengantarmu pulang..” ujarnya

“Aku mengerti..” sahut Sae-woo, yg akhirnya membuat Poong mau meminumnya


Poong bertanya: “Kenapa kamu ingin menyembunyikanku?”

“Jangan salah paham. Meski hanya sebentar, aku ingin mengurungmu bersamaku tanpa ada yang tahu.”
Advertisement


EmoticonEmoticon