8/03/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 Part 2

Nampak sebuah mobil yg melaju melewati gerbang tol misterius di jalanan sepi yg sangat gelap. Terdengar pula, suara narasi radio yg tengah memberitakan seputar ilmu sains dan perbintangan. Katanya tengah ada fenomena misterius yg menimbulkan perubahan gaya gravitasi yg sangat signifikan diantara Bulan dan Bumi.


Adegan langsung berpindah pada momen ketika Cha Joo-hyuk (Ji Sung) tengah mengemudi mobilnya dengan sangat kecang di daerah Jangwon. Sepertinya dia tengah mengejar sesuatu.. sambil fokus menyetir, terdengar suaranya yg berkata:


‘Dunia ini penuh hal-hal aneh! Stroberi musim dingin yang tumbuh di rumah kaca, lebih enak daripada stroberi musim panas... Bunga forsythia bermekaran di tengah musim dingin... Pembuatan koin satu sen biayanya tiga sen... Di antara semua hal-hal aneh di dunia, hal teraneh adalah cinta. Kita menikah karena mencintai pasangan. Tapi pasangan bisa menjadi musuh yang menyebalkan..’


Ponselnya terus berdering, Joo-hyuk berusaha mengambilnya yg terselip di jok sebelah. Namun hasilnya, dia malah terlibat dalam sebuah insiden kecelakaan...


Mobilnya berhenti, maka dia bisa mengambil ponselnya yg ternyata terus berdering karena ada telpon dari istrinya. Wajahnya begit lesu, dalam benaknya dia berkata: ‘Kita bertemu banyak musuh dalam hidup kita... Tapi hal terkuat dan paling mengerikan adalah... istri..’


FAMILIAR WIFE EPISODE 1 : “Ada monster di ranjangku yang memukuliku”


[ 16 Jam Sebelum Kecelakaan ]

Malam hari, Joo-hyuk terlelap tidur bersama dengan istri dan kedua anaknya. Tiba-tiba, anak yg bayi menangis, maka sang istri, yg bernama Woo-jin (Han Ji Min) refleks terbangun untuk menenangkannya.


Setelah bayinya tenang, dia pun tidur kembali. Namun beebrapa saat kemudian, dia terbangun karena menyadari anak satunya telah terguling di lantai.


Woo-jin menggendongnya ke atas, lalu menyuruh Joo-hyuk menjaga anak mereka dengan baik. Tapi Joo-hyuk nampak sangat lelah.. dia malah mendengkur sangat keras, dan itu membuat Woo-jin marah, “Nanti anak-anak bangun!” omelnya, yg lantas menendang Woo-jin hingga membuatnya jatuh ke lantai.


Ironinya.. si bayi kembali menangis. Karena sebelumnya Woo-jin telah menenangkannya, maka sekarang giliran Joo-hyuk...


Malam yg gelap berubah menjadi pagi hari yg cerah. Terbangun dari tidurnya, mereka lansgung terperanjat kaget menyadari kalau bangunnya kesiangan.


Sementara Joo-hyuk bersiap untuk pergi ke kantor, Woo-jin hektik mengurus keperluan anak-anak yg akan berangkat sekolah.


Joo-hyuk kelabakan mencari-cari kemeja putihnya.. di lemari tak ada, di tempat jemuran pun tak ada. Eh ternyata, sang istri belum sempat mencucinya. Alhasil dengan amat terpaksa, dia mesti mengenakan kemeja kotor yg tentunya masih tercium bau apek.

“Anak-anak ketinggalan bus. Kamu bisa mengantar mereka?” tanya Woo-jin, tapi Joo-hyuk tak bisa melakukannya karena dia sendiri telah terlambat. Berikutnya, Woo-jin bertanya apa nanti sore Joo-hyuk bisa menjemput anak-anak di sekolah, karena dirinya ada pekerjaan tambahan..

“Entahlah, lihat nanti saja...” teriak Joo-hyuk yg buru-buru berangkat kerja. Woo-jin balik berteriak mengatakan: “Kabari aku. Aku harus beri tahu guru jika kamu tidak bisa menjemput! Jangan lupa kabari aku!”


Karena ketinggalkan subway, akhirnya Joo-hyuk harus berlari menuju kantornya. Dia berlari sangat cepat, bagaikan jelmaannya Ussain Bolt.


Supaya tak ketahuan terlambat, Joo-hyuk sengaja menaruh tas-nya di depan, dan dia memungut bekas gelas kopi dari tempat sampah.


Lalu dengan santai.. dia berjalan memasuki kantor. Semua orang nampak mengerti kondisinya, jadi tak ada yg menyindirinya atau bagaimana..


Hingga tiba-tiba terdengar suara Pak Byun yg memanggilnya: “Berhenti! Tetap di situ, jangan bergerak. Jadi, kamu berlaku seolah sudah mengisi daftar hadir dan menyempatkan diri membeli kopi?” 

“Ya.. Benar begitu..” jawab Joo-hyuk dengan terpaksa


Pak Byun memeriksa mejanya Joo-hyuk, “Aku tidak melihat tasmu. Atau jasmu. Lalu kenapa kamu berkeringat?” cecarnya, yg kemudian menyadari bahwa Jong-hoo (Jang Seung-jo) telah membantu menutupi kesalahan itu.

Dengan tegas, Pak Byun hendak memberikan sanksi pada Joo-hyuk: “Kamu sudah melanggar tiga kali. Aku sudah bilang akan mengurangi nilai evaluasi pegawaimu jika kamu terlambat tiga kali. Kamu juga berusaha mengakalinya. Jadi, kukurangi satu poin lagi. Kukurangi lagi satu poin karena ingin. Pasti itu akan sangat menurunkan nilaimu...”


Kemudian datanglah Pak Cha, pegawai senior yg sangat dihormati disini. Dengan santainya dia menghampiri mereka dan bertanya ada apa?

“Dia terlambat datang terus-menerus...” jawab Pak Byun, lantas Pak Cha berkata: “Ayolah, kenapa kamu seketat itu pagi-pagi? Masalahmu, Manajer Byun, adalah terlalu perfeksionis. Kamu harus memiliki cela agar tampak manusiawi, sepertiku...”


Pak Byun kembali ke mejanya, sementara pak Cha nampak begitu ramah dan baik pada Joo-hyuk, “Sudah kubilang. Jika ingin bertahan di tempat kompetitif ini, jangan menarik perhatian para pemangsa. Mau bermain boling sepulang kerja nanti?” ajaknya

“Tentu saya sangat ingin melakukannya..” jawab Joo-hyuk


Saat jam-nya istirahat, Jong-hoo mengajak Joo-hyuk mencari udara segar di rooftop. Sambil merakit alat mainan, Joo-hyuk cuhat seputar kehidupannya,

“Byun Seong Woo, sialan. Apa kami musuh di kehidupan sebelumnya? Dia sangat keras kepada kita...”

“Maklum saja. Dia hampir mencapai puncak, tapi dia gagal mendapatkan promosi. Seharusnya dia menjadi asisten manajer cabang...”

“Itu bukan salah kita, tapi salahnya..”


“Tetap saja, ada orang yang membantumu. Walau dia kurang bisa diandalkan...”

“Ini masih pagi dan aku sudah lelah. Ada apa hari ini?”

“Kamu kurang tidur karena anakmu lagi? Kelak kamu akan merindukan masa-masa mereka membuatmu terjaga dengan menangis. Setelah mereka bisa berbicara, itu penyiksaan yang lebih berat..”

“Hidup itu perjuangan tanpa akhir...”


Bagaikan anak-anak.. Jong-hoo berdiri dan mengajaknya main tembak-temabakan. Joo-hyun awalnya menolak, tai kemudian dia bertingkah seolah dirinay tengah menghindari tembakan dengan gaya yg sangat lentur..


Dia pun bercerita bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang balerino. Detik itu juga,, dia menunjukkan kebolehannya dengan melakukan split..


Namun tragis.. tingkah konyol nya itu, malah membuat celananya rosek~~~
Advertisement

1 comments:

min sinopsis yg bahela aja blum slesai about time sya nunggu dr mnggu kmarin. lbih baik dikit tp tratur dgn jm tyang ny.
mkasi min bwt sinop ny.


EmoticonEmoticon