8/03/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 PART 4

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 1 Part 5

Hari berikutnya, Joo-hyuk memberikan CD bertandatangan eksklusif itu untuk Hye-won. Dia tak menceritakan yg sebenarnya dan malah blilang: “Begini, aku hanya lewat dan melihat antrean panjang. Aku ikut mengantre karena mengira itu acara tanda tangan selebritas. Ternyata dia pemain selo terkenal. Aku meminta tanda tangannya, tapi tidak tahu apa-apa soal selo. Terimalah...”


Joo-hyuk berjalan pergi, tapi kemudian dia berbalik untuk mengatakan: “Aku tahu ini terlambat, tapi selamat ulang tahun...”


Suatu pagi, Joo-hyuk terbangun dari tidurnya karena sang adik datang dan menggedor pintu dengan sangat kencang. 


Dia kesini utuk mengantar makanan buatan ibu, “Aku ingin tidur sampai siang hari ini, tapi Ibu menampar keras punggungku untuk mengantarkan lauk. Aku sudah kelas tiga SMA. Bahkan tiket keretaku pun tiket berdiri. Ingatlah itu saat Kakak memakan lauknya...” gerutunya


Kondisi kamar sangat berantakan seperti kandang biantang. Disana, adapula Sang-sik yg menginap karena semalam nobar Piala Dunia.


Joo-eun melihat-lihat seisi kamar, dia pun tak sengaja menarik seuatu dari dalam lemari.. yg seketika membuat begitu banyak majalan dewasa berjatuhan.


Panik, Joo-hyuk dan Sang-sik saling tunjuk, “Itu punya dia!!!” teriaknya. Namun setelah melihatnya, Joo-eun malah bertanya: “Kak.. boleh aku meminjamnya???”


Terlambat, Joo-hyuk berlari meninggalkan kamarnya. Tapi tak sengaja, seorang ahjumma membuang seember air ke arahnya, “Astaga. Seharusnya bilang jika kamu akan lewat...” bentaknya


Joo-hyuk tak bisa komenta rapa pun, dia pasrah dan buru-buru pergi tanpa sempat mengganti celananya.


Sesampainya di kampus, langkahnya terhenti karena Hye-won menyapanya. Mereka berbincang sejenak, lalu Hye-won bertanya: “Ada waktu malam ini? Aku punya dua tiket pertunjukan selo. Maukah kamu menemaniku?”

Tanpa pikir panjang, Joo-hyuk menjawab: “Tentu saja, aku ada waktu...”

“Baguslah. Akan kutunggu di pintu masuk gedung pukul 20.00. Jangan terlambat...” jelas Hye-won


Joo-hyuk sangat girang, dia bahkan tak marah ketika motor pengantar makanan hampir menabraknya~~


Demi kencannya.. Joo-hyuk membujuk sobatnya untuk bertukar jadwal kerja paurh waktu. Dan syukurlah, dia mau melakukannya....


Selanjutnya dia bersiap-siap.. menggosok gigi, cukuran, hingga memilah-milah pakian yg pas dan tak lupa menyemprotkan pewangi pakaian di seluruh tubuhnya.


Setelah siap, dia pun berangkat menuju halte untuk naik bis. Dan kebetulan, pada saat itu, Woo-jin yg masih SMA juga naik bis yg sama dengannya...


Dalam bus, kondisinya agak berdesakan dan ada seorang ajusshi cabul yg sengaja meremas bokong Woo-jin. Kebetulan, Joo-hyuk melihatnya...


Woo-jin teriak memarahi ajusshi itu.. namun si ajusshi mnyangkal dan malah balik memarahi Woo-jin, menuduhnya pelajar palsu yg kerjaannya memeras orang. 


Joo-hyuk tak bisa tinggal diam, dia pun memberitahukan semua orang bahwa dia meliaht insiden itu. Panik.. si ajussh iminta turun, tapi seluruh penumpang teriak menyuruh supir untuk menurunkannya di depan kantor polisi..


Beberapa saat berlalu.. ternyata setelah diperiksa, ajusshi itu memang seringkali terlibat masalah serupa. Woo-jin berterimakasih pada Joo-hyuk, namun Joo-hyuk bergegas pamit pergi..


Sesampainya di tempat konser.. Joo-hyuk telah terlambat. Bahkan setelah menunggu hingga konsernya usai, dia pun tak melihat Hye-won..


Esok harinya.. Joo-hyuk meminta maaf kepada Hye-won, “Aku tidak bermaksud melanggar janji. Tiba-tiba ada urusan di jalan. Akan kujelaskan...”

“Tidak apa-apa. Aku menunggu sebentar dan menonton pertunjukannya sendirian...” jawab Hye-won dengan intonasi kesal


“Bagaimanapun, maafkan aku. Akan kutraktir makan enak sebagai ungkapan maaf jika kamu luang nanti malam...” ajak Joo-hyuk, namun Hyewon lansgung menolaknya, “Tidak. Aku ada janji. Sudah dulu. Aku harus berlatih...” 


Ketika Joo-hyuk berjalan sendirian, tiba-tiba Woo-jin menghampirinya, “Hei. Kamu tidak mengingatku? Yang di bus...”

“Bagaimana kamu bisa kemari?”

“Aku mendengarmu memberi tahu universitasmu kepada polisi. Tidak kusangka kita langsung bertemu. Sepertinya kita memang ditakdirkan. Benar?”


“Apa maksudmu?”

“Aku mau mentraktirmu. Bagiku, membalas budi itu keharusan”

“Lupakan saja. Anggaplah kamu sudah mentraktirku. Aku harus berangkat bekerja...”


Hingga ke tempat kerja, Woo-jin terus menempeli Joo-hyuk. Dia berulangkali mengajaknya makan bareng, tapi Joo-hyuk menolak dengan tegas..


Kemudian, Woo-jin menawarkan pekerjaan sebagai guru les matematikanya. Joo-hyuk menolak, “Itu merepotkan. Aku harus mengulang belajar...”

Namun pada akhirnya, Joo-hyuk tergoda oleh iming-iming bayaran yg luamyan besar..


Malam hari, saat seharusnya dia belajar.. Woo-jin malah terus bertingkah genit dan menggoda Joo-hyuk, 

“Mari kita belajar, Woo Jin. Kita harus mengejar materi yang terlewat karena kamu flu. Biasanya kamu sangat bersemangat, jadi, kenapa kamu sering terserang flu?” ujar Joo-hyuk

“Karena lubang hidung dan mulutku besar. Mau lihat?” sahut Woo-jin yg lantas menanyakan hal-hal aneh, “Apa bermulut besar berarti hebat saat mencium? Kamu pernah berciuman berapa kali? Aku menyukai pria yang ciumannya hebat. Bukankah mulut dan lidah akan sakit jika kita berciuman terlalu lama? Kudengar ada yang mampu berciuman selama 1-2 jam...”


Joo-hyuk menghela nafas panjang lalu bertanya: “Apa cita-citamu saat dewasa nanti?”

“Menjadi istrimu...” jawab Woo-jin, “Aku sangat menyukaimu. Aku sangat menyukaimu hingga bisa tersedak sampai mati. Sunggu. Aku serius...”

“Pernyataan cinta yang cerdas...” komen Woo-jin, yg lantas meraih tangan Joo-hyuk, memintanya untuk mengelus rambutnya, “Apa aku terlihat manis? Tidak apa-apa. Kuizinkan. Sini. Aku senang saat kamu membelai kepalaku. Kurasa bagian atas kepalaku adalah titik sensitifku...”

Joo-hyuk tak tahan dengan tingkah Woo-jin, tapi lama-lama kita melihat wajahnya yg memerah..


Tiba-tiba terengar suara jeritan ibu yg memanggil nama ayah. Nampaknya ayah mengalami serangan jantung atau bagaimana, pokoknya Joo-hyuk lansgung membantu mereka memabwanya ke dalam taksi..


Menyedihkan.. karena pada akhirnya ayah Woo-jin meninggalk dunia. Joo-hyuk datang kesana untuk melayat dan dia meliaht Woo-jin yg biasa ceria, kini sangat bersedih..


Ketika Joo-hyuk hendak pulang, tiba-tiba Woo-jin menghampirinya dan meraih tangannya sambil bertanya: “Tidak bisakah kamu menemaniku?”
Advertisement


EmoticonEmoticon