8/04/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 PART 2

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 Part 3

Joo-hyuk melayani seorang nasabah yg ingin meminjam uang. Semuanya berjalan dengan amat lancar, si nasabah tak banyak bertanya, interaksi diantara mereka juga sangat cair, karena kebetulan si nasabah sedang hamil, maka mereka sedikit berbincang tentang anak-anak.


Hingga kemudian, si nasabah baru ingat kalau KTP-nya ketinggalan. Karena itu termasuk syarat utama, dia pun bertanya apakah dirinya mesti pulang dulu untu mengambilnya? Tapi jika demikian, mungkin dia akan kembali kesini lebih dari jam 6 sore.

Joo-hyuk panik.. dia tak mau hal itu terjadi, maka dia meminta si nasabah untuk memberikan KTP-nya besok saja. Secara teknis, hal tersebut dilarang, tapi karena si nasabah adalah klien tetap maka Joo-hyuk bisa mengusahakannya..


Karena dokumennya belum lengkap, maka dia harus laporan pada Manajer cabang sebelum memberikan persetujuan. Tapi saat itu, beliau sedang tak ada di tempat..


Akhirnya Joo-hyuk mengambil cara cepat.. dia mengetahui username dan password manajer cabang, lalu memberikan persetujuan untuk pinjaman nasabah barusan.


Setelah kerjaannya beres, dia menemui Pak Byun untuk izin, “Aku ada acara keluarga, bolehkah aku pulang cepat?”

“Saudaramu ada sepuluh atau bagaimana? Kenapa banyak sekali acara keluargamu?”

“Ini cukup serius. Aku juga ingin menghapus namaku dari kartu keluargaku, tapi aku tidak bisa mengabaikan keluarga kandungku...”

“Baiklah. Pulanglah...”


Joo-hyuk berhasil, sekarang pukul setengah enam.. dia pun bertanya pada Jong-hoo, “Bisakah aku tiba di Stasiun Yeouido dalam 30 menit?”

“Masih sempat jika kamu berangkat sekarang...”


Woo-jin berlari menuju kediaman ibunya. Disana, sang ibu tengah dimarahi pemilik bangunan, yg merasa terganggu dengan banyak rongsokan yg tersimpan di depan.

Woo-jin meminta maaf, lalu dia lanjut memarahi sang ibu, memintanya untuk membuang semua barang tak berguna itu. Ibunya menolak, dia pun masuk kedalam rumah dan hendak mengambilkan makanan untuknya dari dalam kulkas..


Tapi mendadak, sang ibu memanggil ayah.. lalu kemudian, ibu seperti lupa akan semuanya, dia tak ingat mengapa dia membuka kulkas dan sejak kapan Woo-jn ada disini..


Woo-jin berjalan pulang dengan langkah yg lunglai. Pemilik bangunan cerita bahwa kondisi ibunya makin parah, “Dia juga terus keluar di malam hari. Bukankah sebaiknya mengirimnya ke panti jompo demi kebaikan ibumu? Bukan karena rongsokan...”


Joo-hyuk bertemu dengan orang yg hendak mejual konsol game padanya. Baragnya masih bagus, karena tu masihh baru. Si penjual menjelaskan: “Aku tepergok oleh istriku saat membelinya. Dia akan menceraikanku jika aku tidak segera membuangnya. Mendapatkan konsol ini sangat sulit. Aku mengupah orang untuk mengantre demi membelinya. Tapi istriku menyuruhku memilih antara dia dan konsol, seperti permainan sintasan saja. Aku tidak mau mengambil risiko.”

Joo-hyuk faham, dia pun menegaskan bahwa dirinya akan merawat barang ini dengan baik-baik.


Song-sik tengah sibuk menggosok kartu lotere di minimarket tempat Joo-eun kreja paruh waktu, sambil belajar  untuk ujiannya. Mereka terus berdebat ini dan itu, seprtinay mereka memnang kurang akur..


Datanglah Woo-jin, “Ada urusan di sekitar sini. Sekalian saja aku mampir..” jelasnya

Song-sik pamit karena harus membuka tokonya. Woo-jin berkata: “Melelahkan, bukan? Bekerja paruh waktu sambil bersiap untuk ujian?”

“Ya, tapi mau bagaimana lagi? Di usia 30, aku tidak bisa meminta uang orang tuaku. Lagi pula, orang tuaku pasti sudah kesusahan menghidupi diri sendiri. Omong-omong, sulit sekali menemui Kakak belakangan. Apa dia sibuk?”


Woo-jin enggan menjawabnya, dia malah bertanya seputar teman Joo-eun yg bekerja di panti untuk lansia, “Berapa biaya perawatan sebulan di sana?”

“Entahlah. Dari yang kudengar, sekitar 1.200 dolar. Kenapa?”

“Ada kenalan yang ingin tahu. Apa panti jompo lain juga semahal itu?”

“Kebanyakan biayanya serupa. Maka itu, anak-anaknya biasanya berpatungan. Untuk berbakti pada orang tua saja, kita butuh uang. Begitulah hidup yang gila ini...”

Joo-eun iseng bertanya: “Kakak tidak berdandan? Kakak terlihat lesu sekali. Bagaimana Kakak mau punya simpanan? Konon, wanita yang sudah menikah punya simpanan sekarang..”

Woo-jin menanggapinya dengan ekspresi yg begitu serius, membuat Joo-eun merasa canggung, “Aku hanya bercanda, tapi Kakak tidak tertawa...”


Pulang ke rumah.. Joo-hyuk mampir sebentar ke tempat pembunagan sampah. Dia mengambil plastik hitam berukuran besar, yg muat untuk dus PS-nya.


Saat ini, Woo-jin tengah sibuk memandikan kedua anaknya. Maka bergegas, Joo-hyuk masuk dan berlari menuju ruang pakaian..


Dia lantas menyembunyikan PS barunya itu, di belakang tumpukan popok bayi..
Advertisement


EmoticonEmoticon