8/04/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 PART 3

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 2 Part 4

Malam hari, setelah anak-anak tertidur.. Joo-hyuk berniat menyelinap pergi. Namun Woo-jin masih bangun, dan dia seprtinya ingin membicarakan sesuatu tapi dia ragu.


Woo-jin malah bertanya tentang promosi jabatan, “Kamu bilang sebentar lagi ada promosi. Kamu yakin akan dipromosikan sebagai kepala tim?”

“Aku tidak bisa yakin sepenuhnya. Entahlah...” jawab Joo-hyuk, yg kemudian teringat: “Sudah lama aku tidak menengok ibumu. Dia sehat, bukan? Dahulu dia sering memasak kimchi hijau moster. Kenapa dia tidak memasaknya lagi?”


Mendengar nama ibunya, membuat Woo-jin sensitif, Jika mau memakannya, masak saja sendiri.!“ tukasnya kesal


Setelah yakin kalau semuanya terlepap tidur, maka Joo-hyuk berjalan keluar menuju ruang pakaian. Dia mencoba PS barunya, dan ida sangat senang akan hal itu..


Tapi tiba-tiba, anak bayinya menangis.. “Baiklah. Kita akan saling mengenal secara perlahan. Sudah, ya. Ini bukan karena aku malu denganmu. Berhati-hati tidak ada salahnya. Kita akan bertemu seperti ini untuk sementara...” ujarnya pelan


Esok paginya, Joo-hyuk terbangun karena Hwan menelponnya, “Ini darurat. Tim audit ada di sini..”

“Tim audit? Mereka datang bulan lalu. Kenapa mereka datang lagi?”

“Entahlah. Pokoknya, bergegaslah kemari...”


Hingga telponnya terputus, Joo-hyuk masih bersikap santai. Tapi dia langsung terperanjat, ketika teringat maslah KTP dari nasabah kemarin..


Joo-hyuk menelpon si nasabah dan bertanya keberadaannya dimana, karena saat ini juga dia akan mendatanginya..


Tim audit memeriksa semuanya dengan teliti.. hal ini, karena ada info bahwa terjadi kebocoran data nasabah dari cabang ini.


Via telpon, Joo-hyuk meminta bantuan Jong-hoo untuk mengur waktu hingga tim audit memeriksa dokumen peminjaman. Pokoknya, jangan sampai mereka memeriksa data itu, sebeum diirnya datang..


Joo-hyuk tiba di tempat kerja si nasabah, yg ternayta tengah sibuk memimpin rapat yg katanya baru selesai sekitar 1 jam lagi.


Tak bisa diam dan hanya menunggu, akhirnya Joo-hyuk memasuki ruangan rapat sambil membagikan air minum. Dia memanfaatkan kesempatan itu, untuk menemui si nasabah dan meminta KTP-nya...


Proses audit terus berjalan.. Jong-hoo berusaha mengulur waktu dengan mengajak kepala bagian audit untuk berbincang.. dengan canggung, dia bertingkah sok akrab, menayakan ini dan itu.. namun hal tersebut sama sekali tak berhasil untuk mengulur waktu.


Akhhirnya di belakang, Jong-hoo menceritakan masalah Joo-hyuk pada Pak Byun. Memahami situasinya yg darurta, maka giliran Pak Byun yg bertingkah untuk mengulur...


Dia sengaja menendang tempat sampah, hingga membuat badannya terjatuh dan kuncinya masuk ke kolong mesin fotokopi. Otomatis, seluruh staff heboh mencari kunci tersebut...


Tapi kemudian, dengan cueknya.. Hwan mengambil kunci itu, yg kebetulan terselip di dekat tembok. Tak ada alasan lain lagi, akhirnya mereka pun harus membuka dokumen peminjaman di hadapan tim audit.


Sesaat kemudian, Joo-hyuk datang dengan nafas yg terengah-engah karena terus berlari kesana kemari. Namun menyedihkan.. karena hanya dengan mellihat tatapan dari para rekannya saja, dia bisa menduga kalau usahanya telah sia-sia...


Pak Byun memarahinya, dan menyatakan bahwa Joo-hyuk tak akan bisa mendapatkan promosi menjadi ketua tim pada periode ini. Selain berdampak pada diirnay sendiri, kesalahan Joo-hyuk membuat Pak Cha selaku manajer cabang, dipanggil ke kantor pusat untuk memberikan keterangan...

“Maafkan aku. Aku tidak tahu harus berkata apa”

“Tidak, jangan meminta maaf! Jangan meminta maaf kepadaku. Minta maaflah kepada istrimu!. Jelas kamu tidak akan dipromosi. Jika namamu ada di daftar promosi, akan kuhalangi para petinggi dengan sekuat tenaga”


Saat jam istirahat, para stadd wanita berkumpul menggosipkan insiden yg menimpa Joo-hyuk, “Dia sering membuat kesalahan kecil, tapi tidak pernah membuat kesalahan serius. Apa ini akan memengaruhi keputusan promosi?”

“Dia cukup berpengalaman untuk menjadi manajer tim. Tapi.. Dia mengawalinya dengan buruk. Dia harus memilih Pak Byun daripada Pak Cha”


Joo-hyuk frustasi sampai dia ingin lompat saja dari atas gedung. Jong-hoo lantas berkata: “Hei, kamu tidak akan mati jika melompat dari sini. Hanya akan terluka...”

“Aku pasti gila. Benar-benar pecundang. Konsol gim bodoh itu membuatku sinting. Aku pasti gila tadi. Aku depresi dan butuh sesuatu untuk menambah semangatku. Gila. Aku benar-benar gila!!!!!!” tutur Joo-hyuk 

“Hei, tidak apa-apa. Kita semua pernah salah. Sebagian orang juga naik jabatan lebih belakangan. Jangan cemas. Saat aku menjadi manajer tim, kamu boleh terlambat dan kamu akan kuberikan banyak keuntungan. Semangatlah...” ujar Jong-hoo


“Pikirmu itu akan menghiburku? Apa lebih baik aku berhenti saja? Menyerahkan surat pengunduran diriku?”

“Apa kamu memiliki lahan? Kamu memiliki gedung? Kamu punya timbunan emas atau uang?”

“Sudahlah. Aku merasa menyedihkan...”

“Kamu tidak bisa sembarang berhenti karena ingin. Keberlangsungan keluargamu bergantung di sini. Lihat hikmahnya. Lagi pula, kamu mendapat konsol gim canggih karena ini”


“Aku hampir menangis. Banyak sekali gedung di sini, tapi tidak ada yang milikku” keluh Joo-hyuk

“Itu karena kepemilikan ganda. Satu orang memiliki banyak gedung...” ujar Jong-hoo

“Hidup sungguh tidak adil! Ya, nikmati saja kekayaan kalian sendiri! Tahu tidak, aku juga menginginkan kehidupan yang mapan dan megah! Biarkan kami hidup!” teriak mereka
Advertisement


EmoticonEmoticon