8/15/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 PART 2

SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 Part 3

Selanjutnya, Joo-hyuk bertanya pada Jong-hoo: “Bagaimana denganmu? Kenapa kamu masih lajang?”

“Aku? Apa lagi? Aku hanya belum bertemu dengan yang ditakdirkan untukku. Aku suka melajang. Aku bebas, tidak merasakan tekanan, dapat berkencan dengan siapa pun. Kamu termasuk 1 persen orang yang menikahi cinta pertama mereka. Tapi aku yakin cepat atau lambat aku akan jatuh cinta dan menikah...” jelasnya

“Tidak ada wanita lajang yang ingin segera kamu nikahi?” tanya Joo-hyuk, maka Jong-hoo menjawab: “Tentu saja ada. Sempat ada karena sejak awal mimpiku adalah menikah muda..”


Dia lantas bercerita: “Sekitar 12 tahun lalu, aku punya pacar yang sudah kukencani tiga tahun. Sekitar dua bulan setelah pertengkaran besar kami, aku berhenti menghubunginya, tapi kemudian kudengar dia akan belajar di luar negeri. Aku menyadari kesalahanku dan langsung pergi ke bandara, tapi ada orang gila yang merebut taksiku.. Akhirnya, Aku mendapat taksi lain dan pergi ke sana, tapi dia sudah berangkat...”


Ternyata.. tanpa mereka sadari, ‘orang gila’ yg dimaksud adalah Joo-hyuk, yg kala itu tergesa-gesa pergi menemui Hye-won di tempat konser.


Joo-hyuk sendiri tak menaydari kesalahannya itu. Mendengar cerita Jong-hoo, dia berkomentar: “Seandainya menaiki taksi itu, mungkin sekarang kamu sudah menjadi ayah anak kembar...”

Terdengar suara tangisan bayi, maka Sang-sik bergegas naik ke atas untuk menenangkannya. Pada momen itu lah, Joo-hyuk teringat pada anak-anaknya.


Dia melihat layar ponselnya, yg dulu foto mereka.. tapi kini berganti menjadi fotonya dengan Hye-won. Lantas ketika jalan keluar, dia berpapsan dengan pasangan yg mendorong keretawa bayi.. hal itu makin membuatnya merindukan sang anak.


“Astaga. Aku tidak memikirkan anak-anakku. Aku bedebah! Aku bedebah egois! Bagaimana bisa aku melakukan ini demi kebahagiaanku sendiri? Maafkan ayah... Tidak, jangan maafkan ayah! Ayah akan menerima hukuman, jangan maafkan ayah! Ayah sangat menyesal...” tuturnya, lantas tiba-tiba muncul gemuruh petir disertai kilat yg sangat kuat hingga membuatnya terpenjat kaget, “Astaga. Aku hampir terbunuh...”


Ketika Joo-hyuk bangkit.. Woo-jin berlari melewatinya. Lantas, Joo-hyuk sempat mengikutinya sejenak hingga kemudian berpikir bawah ini hanya imajinasinya belaka, “Benar, Woo Jin. Dia pasti hidup bahagia di suatu tempat. Kuharap dia baik-baik saja...”


Nampaknya, Woo-jin sangat hobi berolahraga.. dia menikmati waktunya ketika berlari sendirian. Saat melewati lapangan basket, bola menggelinding ke dekat kakinya.. dia tersenyum, lalu melemparnya kembali, tepat langsung masuk ke dalam ring.


Pulang ke rumah... Joo-hyuk masih belum terbiasa dengan suasana yg baru. Dia sampai tertegun,, ketika melihat Hye-won keluar dari kamar mandi dalam kondisi masih mengenakan handuk...


Setelah ganti pakaian, He-won mengeluhkan kondisi kulitnya yg mudah kering, “Apa karena sekarang aku sudah tua, yaa?”

“Kamu masih sangat cantik ‘kok..” puji Joo-hyuk


Hye-won naik ke atas kasur, lalu menjelaskan: “Ibuku ingin mengadakan pesta barbeku akhir pekan ini. Dia mengatur meja baru di kebunnya. Aku sudah bilang kami pesan vila untuk liburan musim panas, bukan?”

“Ah.. ii... iyaa...” sahut Joo-hyuk

“Terima kasih sudah menepati janjimu kepada orang tuaku. Sebelum menikah, kamu berjanji akan tinggal di dekat orang tuaku, makan dengan mereka di akhir pekan, pergi berlibur bersama mereka, dan mengunjungi rumah orang tuaku terlebih dahulu di hari libur. Aku tahu rasa sayang orang tuaku kepadaku tidak biasa...” tutur Hye-won

“Mereka tidak punya banyak anak. Kamu anak tunggal mereka...” ujar Joo-hyuk, maka Hye-won berkata: “Kamu memang suami yang penuh perhatian. Karena inilah aku mencintaimu...”


Menyadari sikap Joo-hyuk yg sangat aneh sekarian ini, maka hye-won bertanya: “Kamu ini kenapa? Kenapa tegang sekali? Kamu bahkan tidak bisa menatap mataku...”

“Ahh.. tii.. tiidak kok.. Lihat, sekarang aku menatapmu..” ujar Joo-hyuk gelagapan, membuat Hye-won menyebutnya sangat manis, “Perilakumu membuatku ingin memarahimu...” ujarnya


Esok pagi.. Joo-hyuk berangkat kerja dengan begitu riang. Sambil nyetir, dia bernyanyi sepanjang jalan. Hingga tiba-tiba, sebuah petir membuatnya terperanjat kaget..


Dia menepikan mobilnya, hendak minum.. tapi ternyata botolnya kosong. Kebetulan, ada minimarket dekat sana, maka dia turun sejenak..


Saat membayar di kasir, tanpa disadari dia meninggalkan ponselnya disana, lalu pergi begitu saja.


Sangat kebetulan, karena ternyata Woo-jin belanja di tempat yg sama. Saat membayar di kasir, dia melihat pemilik toko yg sedang morang-maring karena mesin kartu, juga mesin kasir nya rusak.

Dia melihat ponsel yg tergeletak di sana. Niatnya ingin memberikan itu pada pemilik toko, tapi melihat perangainya sepeti itu, maka Woo-jin memutuskan untuk membawa ponsel itu bersamanya.


Dalam subway, ada seorang pria mesum yg sengaja berdiri di belakang Woo-jin dan menggesek-gesekkan badannya. Woo-jin tak menjerit minta pertelongan, dia malah sengaja menginjak kaki pria itu dengan heels tajam yg dikenakannya, “Ya, ampun. Pasti sakit. Maafkan aku. Orang-orang terus mendorongku...” ujarnya, yg membuat pria itu tak bisa bergeming


Setibanya di stasiun tujuan, Woo-jin berjalan keluar.. tapi dia sempat berbisik pada si pria mesum, “Jangan hidup seperti itu, dasar sampah.”


Bekerja di kantornya, Woo-jin tampak memiliki kepribadian optimis dan periang.. sungguh berbanding terbalik, dengan sifatnya saat dulu menikah dengan Joo-hyuk.


Joo-hyuk baru menyadari, soal ponselnya yg hilang. Dia mencari-cari di tas dan tak menemukannya. Akhirnya dia pun ingat, kalau ponselnya tertinggal di kasir mini market.. yg jadi masalah besar, adalah karena banyak nomor klien penting yg tersimpan disana.


Jong-hoo lantas meminjamkan ponselnya, supaya Joo-hyuk bisa menelpon, “Cerobh sekali! Hubungi sebelum ada yang menjual ponsel mahalmu itu...”

Woo-jin mengangkat telpon dari Joo-hyuk. Dengan nafas yg terengah-engah, dia menjelaskan bahwa ponsel ini ditemukan di meja kasir, “Kupikir pemilik toko mungkin akan menjualnya, jadi, aku mengambilnya... anda dimana sekarang?”

“Aku di Gayeon-dong. Aku akan menemuimu saat makan siang. Kamu di mana?”

“Aku sebenarnya ada urusan di area itu. Di depan Stasiun Gayeon, ada sebuah kafe bernama Place. Bagaimana jika kita bertemu di sana siang nanti?”

“Baiklah. Omong-omong, bagaimana aku bisa mengenalimu?”

“Sepertinya aku bisa mengenalimu...”

“Baiklah. Kita bertemu nanti. Terima kasih...”


Jong-hoo sempat menguping obrolan mereka, “Itu wanita. Dia akan membawanya ke sini?”

“Iya..” jawab Joo-hyuk yg lantas bertanya penasaran, “Omong-omong, entah dia sedang apa, tapi dia terengah-engah...”

Mendengarnya membuat Jong-hoo tersenyum menyeringai, maka Joo-hyuk menegurnya, “Kamu berimajinasi liar? Duh.. Kurasa pria lajang memang berbeda. Astaga...”


Faktanya, Woo-jin terengah kaena dia sedang berjalan naik tangga untuk memenuhi target harian, yakni berjalan 10 ribu langkah.


Masuk ke toilet, datang lah rekan kerjanya yg langsung menyapanya dan bertanya, ponsel siapa yg dipengan Woo-jin, “Sepertinya bukan milikmu..”

Woo-jin bercanda dengan menjawab, kalau itu ponsel untuk menghubungi selingkuhannya. Tapi kemudian menjelaskan, bahwa ini ponsel yg ditemukannya pagi tadi.


Mereka melihat foto di ponsel itu, “Dia manis, ya?” ujar Woo-jin dan temannya setuju akan hal tersebut. Woo-jin bahkan menyatakan, bahwa pria di foto itu adalah tipe idealnya.

Namun yg jadi pertanyaan, “Siapa gadis cantik di sebelahnya ini? Pacar? Istri?”

“Mau merusak impianku? Dia jelas adiknya. Mereka terlihat mirip...” tukas Woo-jin, tapi rekannya berkata: “Kurasa tidak. Diberi 100.000 dolar pun, aku enggan berpose begitu dengan kakakku...”

“Jika dia pacarnya, permainan belum berakhir. Perlu kuperebutkan dengannya?” ujar Woo-jin, maka rekannya berkata: “Tampangmu sedikit lebih lumayan sih...”
Comments


EmoticonEmoticon