8/15/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 PART 5

SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 BAGIAN 5


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 3 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 4 Part 1

Woo-jin berjalan pulang sambil menelpon atasannya. Dia berterimakasih, karena telah dipindah tugas ke tempat yg lebih dekat dengan rumahnya.


Ketika sampai di depan rumah, dia kaget melihat ahjumma pengasuh yg berlari keluar mencari-cari ibunya Woo-jin.. yg lagi-lagi pergi tanpa izin.


Dalam kondisi panik, mereka bedua lari ke arah yg berbeda untuk mencarinya di daerah sekitar rumah, 


Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya Woo-jin menemukan sang ibu yg sedang asyik mengeriting rambutnya di salon..


Sambil jalan pulan, Woo-jin mengomelinya, “Seharusnya beri tahu kami Ibu pergi ke salon rambut. Aku mencari Ibu ke mana-mana. Mulai sekarang Ibu harus pergi dengan bibi. Atau pastikan menghubungiku. Ya?”

Woo-jin memasang kembali gelang pengenal yg sempat dilepas oleh ibu, “Bagaimana jika Ibu tersesat lagi? Pakailah lagi. Ibu tidak boleh melepasnya. Jika melepasnya lagi...”

“Astaga, ibu mendengarmu. Ya, ampun. Berhenti mengomeli ibu. Telinga ibu sakit. Dasar berandal. Ibu hanya mengeriting rambut. Beraninya kamu memarahi ibumu seperti ini? Ibu akan mengadukannya kepada ayahmu...” gerutunya

Woo-jin menangginya dengan senyuman.. setelah terus mengomel, kini dia memujinya, “Baik, aku minta maaf. Tunggu, lihat rambut Ibu. Keritingnya bagus sekali. Ya, Ibu seperti wanita muda...”


Sambil berendam.. Joo-hyuk merenung memikirkan kejadian hari ini, “Takdir adalah kekuatan tidak terhindarkan yang mengendalikan segalanya di dunia? Kekuatan absolut dan tidak terduga yang melampaui logika dan harus dipatuhi manusia?” gumamnya, tapi kemudian dia berkata: “Omong kosong. Ini pasti jebakan. Alam semesta menjebakku. Hanya itu penjelasan masuk akalnya. Maksudku, di kota besar ini, dari semua orang... Dia benar-benar Seo Woo Jin yang sama?”


Mengingat sosok Woo-jin yg baru saja bertemu dengannya, membuat Joo-hyuk keheranan, “Bagaimana bisa dia banyak berubah? Dia dahulu bekerja di perusahaan pialang saham? Dan... Ada apa dengan mata itu? Apakah dia juga... Tidak mungkin. Dia tidak bisa mengingatku. Aku menentang nasibku. Lalu reaksi apa itu?”


Lalu Hye-won memanggilnya, “Sayang, sedang apa? Kamu tidak mati, bukan?”

“Sebentar lagi selesai. Aku akan keluar...” jawabnya, yg kemudian bertanya: “Bagaimana jika aku berhenti dari pekerjaanku di bank? Kamu tahu, aku terlalu sering lembur. Ada posisi kosong apa di perusahaan ayahmu?”

“Kamu bilang tidak mau karena bidangnya berbeda darimu. Bukannya kamu bilang kamu ingin tetap bekerja di sana agar bisa memupuk karier hingga menjadi manajer cabang?” tutur Hye-won


Diluar, Hye-won sedang melipat payung.. dia mengingat pertemuannya dengan mahasiswa tadi, lalu dia tersenyum dan berkata: “Pria itu punya selera wanita yang bagus.”


Sebelum tidur, Woo-jin berbincang dengan ibunya.. semetnara dia minum soju, sang ibu hanya minum susu.

“Ibu tidak suka soju. Terlalu pahit...”

“Kepahitan itulah alasan orang meminumnya. Ibu tahu, hidup itu pahit...”


Woo-jin lantas bercerita tentang pekerjaan barunya, “Bu, aku akan bekerja di cabang bisnis mulai besok, karena itu aku menyapa para anggota di sana hari ini. Mereka semua terlihat ramah dan menyenangkan. Aku beruntung. Karena sangat dekat dengan rumah, jika harus ke sini, aku bisa lari. Aku akan pergi bekerja dengan bersepeda. Membantuku berolahraga, bukan?”

“Bagus untukmu...” ajwabnya singkat, membuat Woo-jin mengeluh: “Bu, bisakah menjawab lebih banyak dengan tulus? Fokus kepada putri Ibu...”


Lanjutnya Woo-jin mengungkapkan keinginannya, “Aku akan menikah dengan pria yang ditakdirkan untuk hidup lama. Tidak memiliki seorang pun di sisiku adalah hal terburuk yang pernah ada...”

“Menikah? Ya, kamu harus menikahi seseorang...”

“Aku akan menikahi pria yang mampu menerima semua perilaku nakalku. Kuharap aku ditakdirkan bertemu dengan pria seperti itu.”


Ibu menguap, mengeluh kalau dirinay ngantuk. Maka Woo-jin membantunya masuk kamar dan membaringkannya di matras..

Melihat sang ibu terlelap, dia berkata: “Ibu tampak paling cantik saat tertidur. Akan luar biasa jika dia tidak pergi keluar. Ayah yang buruk. Tidak apa-apa jika tidak datang dalam mimpiku, tapi pastikan datang di mimpi ibu. Ibu berlari keluar rumah untuk bertemu dengan Ayah hari ini juga...”


Woo-jin sempat tertidur untuk beberapa saat.. namun dia terbangun karena memimpikan sosok seorang pria yg tak jelas wajahnya. Ketika terbangun, dia mengeluh: “Mimpi itu lagi. Sebenarnya apa ini? Terlalu jelas hingga tidak terasa seperti mimpi..”


Esok pagi.. Joo-hyuk datang lebih awal. Dia menepati janjinya untuk membuat udara kantor kembali segar.


Tak lama kemudian, Woo-jin sampai di kantor.. setelah berangkat dengan mengayuh sepedanya sendirian.


Dengan ceria, dia menyapa Joo-hyuk, “Kurasa aku sedikit gugup karena ini hari pertamaku. Aku kebetulan terbangun lebih cepat. Ada yang bisa kubantu? Mungkin bersih-bersih?” tanyanya

“Petugas pembersih yang melakukannya...” jawab Woo-jin yg masih begitu gugup

“Kalau begitu, kututup jendela. Sepertinya udara sudah berganti...” ujar Woo-jin


Sementara Woo-jin menutup jendela, Joo-hyuk menyibukkan diri dengan memeriksa dokumen-dokuman yg menumpuk di mejanya.

Tapi mendadak, suasana terasa begitu menegangkan. Dan tepat ketika menoleh ke samping, ternyata Woo-jin tengah menodongkan pistol gas air mata ke arahnya..


“Aku benar-benar ingin melakukan ini saat pindah ke cabang bisnis. Astaga, tapi aku tidak sekeren seperti yang kupikirkan. Tidak semua orang bisa menjadi Angelina Jolie...” tutur Woo-jin

Lantas Joo-hyuk berkata: “Maaf. Bisa berhenti memainkan itu dan meletakkannya? Kamu bisa saja melepaskan gas seperti aku kemarin...”

“Tapi kamu tetap harus mengajariku cara memakai gas air mata, bukan?” pinta Woo-jin


Setelah menatapnya beberapa saat.. Woo-jin lantas berjalan mendekati Joo-hyuk sambil bertanya: “Hmmm.. mungkinkah?”

Joo-hyuk sangat gugup, dalam benaknya dia berkata: “Tidak mungkin. Woo-jin mengenaliku? Mungkinkah????”

1 komentar

  1. Makasih Lanjutt Ep 4 nyaa :), sebesar ap pun qta brusaha mengabah "Nasib" tetap saja "Takdir" gx aQn berubah :), Joo Hyuk cth ny dy brusaha mngubah Nasih ny tpy Takdir dy tetap brtemu Woo Jin jga Qn :) di tunggu sinopsis2 sejanjutnyaaaa ;)

    BalasHapus


EmoticonEmoticon