8/15/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 4 PART 3

SINOPSIS Familiar Wife Episode 4 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 4 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 4 Part 4

Si ajusshi diminta datang ke kantor.. seluruh manager serta Woo-jin meminta maaf padanya. Bahkan, mereka telah menyiapkan beberapa bingkisan hadian untuknya.


Namun tingkahnya malah makin menjadi-jadi.. dia menyangsikan permintaan maaf dari Woo-jin dan menyebutnya tak tulus. Maka Woo-jin mengulang permintaan maafnya, kemudian bertanya: “Apa yang dapat kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik? Haruskah aku berlutut?”


Si ajusshi balik bertanya: “Bagaimana jika aku memintamu berlutut?”, maka Woo-jin menjawab “Aku harus berlutut jika kamu menyuruhku...”

“Kamu benar-benar mencintai bankmu ini, ya? Jadi, apa yang akan terjadi jika kamu berlutut? Kamu akan menjadi orang baik yang berlutut untuk bankmu. Dan aku sungguh bedebah?” ujar si ajusshi, “Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Beri hormat 90 derajat dan minta maaf kepadaku secara formal. "Aku sangat menyesal." Katakan dengan keras tiga kali!!!” suruhnya

Woo-jin terdiam, maka si ajusshi membentaknya: “Tidak mau? Lantas aku harus mengunggah di seluruh laman web perusahaan dan laman web Layanan Pengawas Keuangan, bukan?”

Akhirnya.. Woo-jin bersedia melakukan hal itu.. dia membungkuk dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh.. para manajer serta staff lain yg mengintip dari luar, nampak tak percaya melihatnya.


Saat jam istriat, Hwan membahas hal ini bersama staff yg lainnya. Dia mengeluh, “Ini gila. Kenapa Nona Seo harus membungkuk kepada berandal itu? Memangnya kita apa? Keset? Kita samsaknya atau apa? Aku hanya kesal. Kita disalahkan atas semuanya. Bankir juga manusia. Kita juga warga Seoul dan rakyat Korea. Kenapa hak azasi kita tidak pernah dihormati?”

Yang lain lantas berkomentar: “Nona Seo hanya kurang beruntung...”

“Apa pun itu, sekarang dia pasti merasa paling putus asa. Maksudku, dia harus membungkuk di depan bedebah tengik itu. Dia mungkin menyesal datang ke sini dan ingin kembali ke kantor pusat...” komen staff lainnya, yg membuat Joo-hyuk menyeringai berharap itu kenyataannya.


Pergi ke ruang istriahat.. dari belakang Jong-hoo melihat Woo-jin seakan tengah menangis terisak. dia pun berjalan menghampirinya..


Tapi ternyata, Woo-jin malah sedang tertawa cekikikan sambil makan roti, “Karena kejadian tadi aku belum sempat makan siang. Lima menit lagi aku selesai. Biar kuhabiskan dahulu...” jelasnya


Kembali ke ruang kerja, Jong-hoo menceritakan hal itu pada Joo-hyuk, “Dia luar biasa, ya? Dia bermuka badak...” ujarnya takjub


Saat jam kerja usai.. seluruh pegawa pulang. Woo-jin mengejar Joo-hyuk, mengajaknya jalan bareng hingga ke tempat parkir..

“Hari ini aku banyak memikirkan kembali tindakanku. Aku benar-benar harus mencoba mengubah kepribadianku. Apa nasabah mu sering mengadu ke Layanan Pengawas Keuangan? Aku hanya melihat keluhan di laman web kita...” tanyanya dengan cara bicara yg terkesan ‘sok akrab’

“Tergantung...” jawab Joo-hyuk singkat, maka Woo-jin lanjut bertanya penasaran, “Kamu juga punya pernah berurusan dengan hal seperti itu? Kurasa tidak ada banyak keluhan tentang Pinjaman...”

“Itu juga tergantung pada kasusnya” sahut Joo-hyuk, maka Woo-jin bertanya lagi: “Lalu bagaimana caramu menghadapinya? Jika kamu punya tips, tolong beri tahu aku...”


Joo-hyuk merasa risih, “Kenapa kamu penasaran tentang banyak hal? Tidak bisakah kita berjalan dengan tenang saja? Banyak sekali yang kupikirkan hingga rasanya kepala akan meledak...” gerutunya

Lantas Woo-jin membahas apa yg ia dengar di rooftop, “Apa salahku? Apa aku membuatmu merasa tidak nyaman? Aku belum pernah bekerja di cabang lokal dan aku sadar terkadang aku bisa sedikit gila. Kuakui masih banyak yang harus kupelajari, tapi aku akan melakukan yang terbaik dan tidak akan merepotkan siapa pun. Jadi, tolong bantu aku, Pak Cha.. Jika kulakukan hal yang mengganggu, minta aku menemuimu di atap. Aku suka orang yang bicara langsung. Aku benar-benar serius. Jadi, tolong bersabarlah sedikit lagi...” jelasnya dengan sopan


Sebelum berpisah, Woo-jin sempat mengungkapkan, “Harus kuakui, kesan pertamamu benar-benar bagus. Menurutku kamu ramah. Entah kenapa kamu juga tampak tidak asing. Aku tidak berusaha mengambil hatimu. Tapi ini serius...”


Dalam perjalan pulang, tak sengaja Joo-hyuk melihat Woo-jin mengendarai sepeda. Maka diam-diam, dia mengikutinya dari belakang..


Mobilnya berhenti di depan gang kecil, samping mini market, “Gang ini. Sudah lama aku tidak ke sini...” ujarnya


Tiba-tiba ponselnya berdering.. ada telpon dari ibunya, maka Joo-hyuk langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi..


Ternyata orangtuanya datang ke Seoul untuk menghadiri sebuah resepsi pernikahan anak dari kerabatnya. 

Karena sudah larut malam, maka Joo-hyuk mengajak mereka menginap di rumahnya. Ibu nampak ragu, namun ayah setuju selagi Joo-hyuk sendiri yg menawarkannya.


Sesampainya di rumah.. Joo-hyuk meminta sang ayah berbaring di kursi relaksasi. Sementara ibu langsung masuk dapur dan memeriksa isi kulkas..


Tak lama kemudian, Hye-won pulang.. nampaknya dia kurang senang ketika melihat kedua orangtua Joo-hyuk..

“Mereka ada di sini untuk menghadiri pernikahan. Aku mengundang mereka karena sudah lama mereka tidak ke sini...” tutur Joo-hyuk

Ibu langsung mengomentari kondisi rumah, “Aku melihat isi dapur untuk tahu bisa memasak makan malam apa, tapi kamu harus membersihkan kulkasmu. Kamu membeli semuanya di pusat perbelanjaan? Pasti sangat mahal. Tadi aku lihat ada swalayan di dekat sini...”


“Perbedaan kualitasnya sangat besar, Bu. Begitu membeli bahan makanan di pusat perbelanjaan, Ibu tidak bisa kembali berbelanja di swalayan...” jelas Hye-won

Ibu lanjut komentar, “Aku juga mendengar keluargamu mengirim pengurus rumah tangga ke sini dua kali sepekan. Sebenarnya tidak perlu, bukan? Kalian hanya berdua, tidak mungkin ada banyak pekerjaan rumah tangga. Kalian tidak bisa membiayainya. Sungguh membuang-buang uang...”


“Jangan mencemaskannya, Bu. Kami tidak keluar biaya sepeser pun. Ibuku membayarnya...” jawab Hye-won, yg lantas pamit naik ke atas untuk ganti baju, “Ada restoran cina enak di dekat sini. Pesanlah sesuatu. Mereka akan segera mengantarnya...” ujarnya yg kemudian bertanya apa ayah dan ibu mau menginap di hotel malam ini, karena dia akan memesankan kamar suite untuk mereka.
Comments


EmoticonEmoticon