8/18/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 PART 2

SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 Part 3

Meski hanya simulasi.. tapi kegiatan tadi membuat seluruh staff yg terlibat jadi merasa sangat kelelahan. Pak Cha memaklumi hal itu, namun ia menyatakan bahwa simulasi ini sangat penting.. 


Berikutnya adalah saat untuk evaluasi.. dan yg pertama adalah Woo-jin. Pak Cha mengomentari sikapnya yg terlalu gegabah karena berusaha untuk menghasut perampok, “Bagaimana jika permpoknya agresif? Bisa-bisa kamu ditembak...”

“Aku melakukannya karena merasa perlu mengulur waktu agar pegawai lain bisa menekan tombol darurat. Mungkin aku terlalu ceroboh...” jelas Woo-jin


Selanjutnya evaluasi untuk Hwan.. Pak Cha tidak setuju dengan tindakannya yg menekan bel darurat, “Tadi ada dua perampok. Situasinya akan gawat jika salah satunya memergokimu dan mulai menembaki sandera...” jelasnya

Lantas Woo-jin bertanya: “Jadi, kita harus menekan tombol setelah perampok meninggalkan bank?”. Menurutnya, keselamatan memang hal penting tapi itu langkah pasif yg memberi penjahat kesempatan untuk merampok bank.


Pak Cha setuju dengan pendapat Woo-jin, tapi dalam prinsipnya keselamatan tetaplah menjadi hal yg paling utama. Terakhir, dia membagikan panduan pencegahan voice pishing yg mesti dipelajari oleh semua staff, dan dijelaskan pada para nasabahnya.


Sebelum jam kerja dimulai.. para staff diberi waktu untuk bersipa dan berganti pakaian. beberapa diantara mereka mengungkapkan keresahannya, takut insiden mengerikan itu benar-benar terjadi disiini..

“Jangan cemas. Aku sudah bekerja sebagai bankir selama tujuh tahun. Tapi tidak pernah mengalaminya...” komenn Jong-hoo


Pak Byun dan Bu Jang mengatakan hal serupa.. terlebih, mereka telah bekerja lebih lama daripada yg lainnya. Tapi lagi-lagi.. mereka berdua malah berdebat tenang kehidupan pribadinya masing-masing, dan mengorek riwayat sakit yg aneh-aneh..


Diam-diam, Woo-jin mengajak Joo-hyuk ke pantry.. tujuannya untuk memberikan herbal pereda mabuk, “Aku jarang berbagi makanan, tapi kamu pengecualian. Kamu pasti kebingungan karena ibuku kemarin. Cepat habiskan sebelum ada yang datang...”

“Dia akan dirawat di rumah sakit? Bagaimana dengan obatnya?” tanya Joo-hyuk

“Dia rutin meminum obat. Penyakitnya tidak cepat berkembang berkat obat itu...”  jawab Woo-jin

“Beri tahu aku jika kamu ingin pindah rumah sakit. Saudari ipar dari temannya temanku adalah dokter terkenal di area itu...” jelas Joo-hyuk


Mendadak.. Jong-hoo datang, maka dia langsung bertanya: “Sedang apa kalian di sini?”

Woo-jin lantas berakting seperti dia habis dimarahi Joo-hyuk. Hal itu membuat Jong-hoo keheranan dan langsung menegur Joo-hyuk, “Apa salah dia kali ini? Kenapa kamu kejam sekali kepadanya?”


Hye-won sedang fitness, ketika tiba-tiba Hyun-soo muncul di hadapannya, “Kamu berolahraga di sini? Astaga...”

“Ya. Kamu juga berolahraga di sini?”

“Ya, ini dekat dari sekolahku”

“Kamu bagaimana? Sudah lama menjadi anggota di sini?”

“Sudah sekitar tiga bulan...”

“Aku tadi hampir tidak mengenalimu. Kesanmu berbeda dengan pakaian itu...”

“Begitu, ya. Silakan berolahraga...”


Saat melanjutkan olahraganya.. Hye-won terus melirik ke arah Hyun-soo. Maka Hyun-soo tersenyum padanya, lalu kembali menghampirinya..


Hyun-soo membantu Hye-won.. dia tak canggung menyentuh pundaknya, dan kelihatan jelas kalau Hye-won mulai salah tingkah.

Tiba-tiba, Hyun-soo mengajaknya makan bareng, “Aku sudah bilang akan mentraktirmu makan. Aku tidak suka berutang budi...”


Mereka jalan keluar.. dan Hyun-soo mengajaknya pergi dengan mengendarai mobinya saja, yg ternyata terbilang sangat modern dan mewah.

“Itu mobilmu?” tanya Hye-won, 

“Itu bukan milikku sepenuhnya. Kepemilikannya masih atas nama ayahku. Dia akan memberikannya saat aku lulus. Kekayaannya hasil jerih payahnya sendiri, jadi, dia sangat hemat...” jeawab Hyun-soo


Setelah dibukakan pintu, Hye-won sempat berkata: “Seharusnya hanya pacarmu yang boleh naik. Aku tidak mau ada yang salah paham...”

“Tidak apa-apa. Kami sudah putus. Lagi pula, aku tidak berniat berhubungan lama dengannya. Dia sangat obsesif...” jawab hyun-soo

“Itu wajar di usiamu. Kamu akan mengira itu cinta...” komen Hye-won


Pak Cha pamit pulang duluan, karena masih ada rapat dengan Perusahaan Daeho. Dia berjanji akan memperikan projek ini pada Hoo-hyuk, sebagai balasan atas bantuannya tempo hari.


Sesaat setelah Pak Cha dipastikan pergi.. Pak Byun langsung mempersilahkan staff lainnya untuk pulang lebih  awal juga, dan tentunya hal itu membuat mereka semua kegirangan.


Woo-jin tak sengaja menjatuhkan name tag-nya, langtas Jong-hoo mengambil dan mengembalikannya.

“Terima kasih...” ucap Woo-jin

“Jika kamu berterima kasih, makan malamlah denganku..” pinta Jong-hoo, namun Woo-jin menolaknya dengan sopan, “Waktunya tidak tepat. Aku janji akan mentraktirmu lain kali...”


Hwan lalu menghampiri Jong-hoo, “Jika kamu tidak ada teman makan, mau kutemani? Aku senggang...” ujarnya

“Kamu pikir aku mencari teman makan?” tukas Jong-hoo, yg lalu menegaskan bahwa dia sedang usaha PDKT dengan Woo-jin. Tapi karena sekarang tak ada jadwal apa pun, maka dia mengajak Hwan dan Min-su untuk menemaninya minum soju saja..


Dalam perjalanan pulang, Joo-hyuk melihat Woo-jin pulang dengan mengendarai sepeda, “Dia pasti lelah karena simulasi. Kenapa dia tidak naik taksi saja dan menitipkan sepedanya? Dia juga sangat lemah...” gumamnya


Dari spion, terlihat Woo-jin yg terjatuh.. maka dengan tegesa-gesa, Joo-hyuk turun menghampirinya. Dan pada akhirnya dia menawarkan tumpangan utnuknya..

Lututnya Woo-jin terluka, maka Joo-hyuk menyuruhnya mengambil plester dalam laci ddi depannya. Namun karena Woo-jin tak bisa menemukannya, maka Joo-hyuk bantu mencarinya..


Pada momen itu, Woo-jin berkata: “Ini seperti adegan romantis di film. Tidak kusangka aku mengalaminya denganmu...”

Berikutnya, Woo-jin bertanya seputar kegiatan simulasi di kantor, “Apa polisi selalu ikut?” tanyanya

“Tidak. Terkadang, kita berlatih dengan polisi, terkadang kita berlatih sendiri. Kita juga ada simulasi rutin untuk menghadapi penipuan keuangan. Sepekan sekali, kita dilatih pencegahan pengelabuan data...” jelas Joo-hyuk


“Omong-omong, katanya setiap bank menyimpan uang tunai cadangan untuk perampok?” tanya Woo-jin, maka Joo-hyuk memaparkan: “Bukan hanya untuk perampok. Kita menyediakan dana cadangan untuk situasi darurat. Dana itu bisa diremburs...”

Woo-jin lantas menggerutu: “Hidup manusia lebih berharga daripada uang. Tapi perampok memanfaatkannya demi keuntungan mereka. Mereka jahat sekali...”, tak berhenti disitu, Woo-jin terus mengutarakan kekesalannya, “Tapi kita punya pistol gas. Jika ada orang mencurigakan? Harus pura-pura tidak melihatnya? Walau dia merampok semua uang? Sebaiknya pegawai menciptakan kode rahasia, bukan? Kita bisa berkedip atau semacamnya...”


“Kamu terlalu banyak menonton film. Bisakah kita tenang?..” tukas Joo-hyuk, tapi kemudian Woo-jin lanjut menunjukkan beberapa kode rahasia yg mungkin bisa digunakkan.
Comments


EmoticonEmoticon