8/18/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 PART 3

SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 Part 4

Hyun-soo mengantar pulang Hye-won, tanpa sempat mentraktirnya makan. Hyewon bilang, dia tak mau di traktir oleh seorang pelajar..


“Jangan anggap aku anak kecil. Selisih usia kita di bawah 10 tahun...” ujar Hyun-soo, yg membuat Hye-won berkomentar: “Apa 10 tahun itu sedikit?”

“Jika kamu tidak suka, anggaplah itu biaya latihan. Mau kulatih setiap hari? Aku bisa menjadi pelatihmu...” ujar Hyun-soo yg kemudian mengambil ponsel Hye-won untuk menyimpan nomornya, “Sampai jumpa di pusat kebugaran. Nanti kuhubungi. Jangan mengabaikan pesanku...” pintanya


Joo-hyuk mengantar Woo-jin hingga ke depan mini market. Tadinya ingin diantar sampai depan rumah, tapi Woo-jin harus membeli es krim kesukaan ibunya..


Sesaat setelah mobil Joo-hyuk pergi, datanglah Joo-eun, “Kamu baru pulang kerja? Kamu turun dari mobil itu. Siapa dia? Teman kencanmu?” tanyanya pada Woo-jin

“Andai saja begitu. Dia atasanku di kantor. Jalan pulang kami searah...”

“Siapa tahu, bukan? Mungkin dia akan menjadi suamimu. Hubungan antara pria dan wanita tidak bisa ditebak...”

“Memang benar, tapi aku tidak percaya diri bisa menang melawan istrinya...”

“Mau kukenalkan dengan pria yang berguna? Dia teman kakakku. Dari luar, dia terkesan agak nakal, tapi sebenarnya dia sangat baik...”

“Aku suka itu. Benarkah? Dia nakal? Itu seleraku...”


Joo-eun pulang ke kedainya Sang-sik, “Kak Joo Hyuk seharusnya menikahi wanita seperti Woo Jin...” ujarnya lirih

“Hei. Kamu tidak paham. Menikah itu nyata. Setelah punya anak dan kewalahan, wanita akan menjadi sensitif, dan dalam sekejap, wanita menjadi menakutkan...” komen Sang-sik, yang membuat Joo-eun kesal, “Maksudmu aku?”

“Apa maksudmu? Kelebihan terbesarmu adalah kamu tidak berubah. Kamu selalu kasar dan gamblang. Kamu juga selalu berlarian, tapi kenapa berat badanmu tetap sama?” tutur Sang-sik, yg tentunya membuat Joo-eun makin marah


Sang-sik lantas menggodanya, “Lagi-lagi kamu marah. Saat inilah kamu benar-benar seksi. Bagaimana jika kita memberi adik untuk Joon?”

“Kamu juga tidak berubah. Apa ini waktunya untuk bercanda?” tukas Joo-eun

“Aku ingin mengatakannya. Aku suka bercanda begitu...” ujar Sang-sik


Pulang ke rumah, Joo-hyuk yg belum makan malam merasa kelaparan. Namun Hye-won hanya bisa membuatkannya masakan instan, “Aku tidak tahu kamu belum makan. Hanya ini yg bisa kubuatkan. Haruskan aku memanggil ahjumma kemari?”

“Tidak usah. Aku akan memakannya...” jawab Joo-hyuk, yg kemudian bertanya: “Kamu sudah makan?”

“Ya. Aku makan malam di universitas dengan para profesor...” jawab hye-won


Ponsel Hye-won terus bergetar.. ada chat masuk dari Hyun-soo yg bahkan sampai mengirim foto dan hal itu membuatnya benar-benar canggung. Maka Hye-won pamit ke toilet, alasannya sih untuk memcuci tangan.


Saat ditinggal sendirian, Joo-hyuk lantas mengambil kimchi pemberian ibunya Woo-jin, sebagai pelengkan lauk makan malamnya yg terasa begitu hambar...


Esok harinya.. Hye-won berangkat bersama dengan Joo-hyuk, “Berangkat kerja bersama-sama seperti ini asyik...”

Joo-hyuk mengkhawatirkan kondisi bahu Hye-won yg katanya sakit, “Kamu tidak apa-apa? Tidak perlu periksa ke dokter?”

“Ini tidak terlalu parah.  Aku malah diantar olehmu, jadi, aku senang...” 

“Jika kamu kelelahan, katakan saja. Aku akan menjadi sopirmu...”

“Ya, tentu saja. Kamu harus menjadi sopirku selamanya”


Tak sengaja, Hye-won menemukan name tag Woo-jin di jok mobil, maka dia pun bertnaya: “Apa ini?”

Dengan gugup, Joo-hyuk menjelaskan: “Dia kolega di kantorku. Aku mengantarnya kemarin karena jalan pulang kami searah...”

“Jangan menjadi sopir sebarang orang. Kamu harus menjadi sopirku saja...”

“Kamu salah sangka. Kebetulan saja aku mengantarnya...”

Eh tiba-tiba, poneslnya Hye-won bergetar.. dan lagi-lagi itu sms dari Hyun-soo, yg kali ini mengirim foto untuk mengucapkan selamat pagi padanya. Alhasil, mereka berdua jadi salah tingkah, menutupi kesalahannya masing-masing.


Setibanya di kantor, Jong-hoo menyapa Nona Choi dan Nona Joo yg sedang minum kopi. Dia bahkan memuji tampilan mereka yg bagaikan bintang iklan..

Berikutnya, dia bertanya Woo-jin ada dimana? Mereka bilang, Woo-jin ada di pantry.. maka Jong-hoo lanjut bertanya: “Apa aku terlihat tampan hari ini?”

“Kamu selalu tampan, Pak Yoon...” jawab Nona Joo


Jong-hoo pamit ke pantry, lalu tak lama kemudian datanglah Joo-hyuk yg menyapa lalu menyanjung mereka dengan kalimat yg sama persis..

“Pak Yoon sudah bilang begitu. Kalian berdua memang sobat yg sangat akrab...” komen mereka


Woo-jin menyempatkan diri untuk olahraga, meski tempatnya hanya di pantry. Kepada Jong-hoo dia menjelaskan, bahwa dia mestiolahraga supaya siangnya bisa makan banyak..


Sambil menikmati minumannya masing-masing.. mereka pun berbincang santai. Diawali dari pertanyaan Jong-hoo tentang alasan Woo-jin tak menyukai kopi..

Ternyata, selain karena kaffein.. Woo-jin menganggap rasa kopi terlalu pahit, bagaikan racun. Tapi anehnya, dia sangat menyukai soju, padahal rasanya jauh lebih pahit dibandingkan kopi..

Jong-hoo menatap Woo-jin dengan begitu serius, membuat Woo-jin jadi penasaran maksudnya apa? Tapi dengan gayanya yg santai, Jong-hoo berkata: “Aku hanya memastikan, kalau kamu punya mata, hidung dan bibir yg lengkap, untuk memastikan kamu bukan alien..”

“Aku juga sering memikirkan itu. Baiklah. Santai saja...” sahut Woo-jin


Kembali ke mejanya.. Woo-jin terkejut, menemukan name tag miliknya yg sempat hilang. Dia pun bertanya pada yg lain, siapa yg menaruhnya disana.. tapi tak ada yg mengetahuinya.. (ya jelas, yg naruh Joo-hyuk atuh..)


Pak Cha berhasil menjalin kerja sama dengan Perusahaan Daeho. Maka sesuai janjinya, dia akan memberikan projek ini pada Joo-hyuk.


Joo-hyuk berangkat untuk mengurus dokumen kerjasama dengan perusahaan Daeho. Langkahnya sempat terhenti, karena ia melihat pria ber-helm di depan bank yg gerang-gerik nya sangat mencurigakan.. namun ia tak terlalu menghiraukannya dan pergi begitu saja.


Dalam proses penandatangan berkas, staff perusahaan Daeho mendiskusikan artikel berita mengenai sosok tersangka pembobol bank, yg tertangkap kamerea CCTV dalam kondisi mengenakan helm..

Sontak.. Joo-hyuk teringat pada pria misterius yg dilihatnya barusan. Dan ia pun jadi gelisah, mengkhawatirkan Woo-jin. Maka dengan cara yg sopan, dia meminta presdir untuk mempercepat poses persetujuan dokumennya.


Joo-hyuk bergegas kemballi ke bank.. dan tenyata, si pria misterius itu telah mengambil nomor antrian nya.


Tepat ketika Woo-jin memanggil nomor si pria misterius itu, Joo-hyuk datang dan langsung menyergap nya hingga terkapar di lantai.


Joo-hyuk mengambil barang mencurigakan dari dalam saku pria itu.. tapi ternyata itu hanyalah sprey pengharum nafas..


Atas insiden ini.. Pak Cha serta Joo-hyuk berdiskusi dengan nasabah tersebut dan mereka meminta maaf.

Si nasabah menjelaskan: “Napasku bau karena aku sakit pencernaan. Karena ingin menghormati teller wanita, aku ingin menyemprotkan pengharum napas ini. Apa ini terlihat seperti pistol?”

“Aku sungguh minta maaf, Pak. Karena adanya pelaku perampokan dengan pengelabuan data, kami semua sensitif belakangan ini...”

“Maafkan aku. Aku sungguh memohon maaf, Pak. Mohon mengerti...”
Comments


EmoticonEmoticon