8/18/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 PART 4

SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 5 Part 5

Woo-jin melayani nasabah, seroang wanita parubaya yg ingin menarik seluruh uang dari rekening tabungannya. 


Wanita itu ditemani seorang misterius yg menenteng helm ditangannya. Woo-jin mulai mencium geagat yg aneh, maka dia bertanya paa hubungan mereka? Apakah pria itu putranya?

Dengan sinis, pria itu menjwab iya.. lalu menyuruh Woo-jin untuk segera menyelesaikan proses pencairan uangnya.

Sikap itu, makin membuat Wo-jin curiga.. diam-diam dia melirik saku celana pria itu dan ternyata ada pistol disana. Woo-jin berusaha bertingkah normal, sambil terus membicarakan ini dan itu, dengan tujuan mengulur waktu..


Ketika Joo-hyuk keluar dari kantor Pak Cha, dia melirik Woo-jin yg terus mengedipkan mata padanya. Selain itu, Woo-jin juga mengupil sambil menatapnya..

Joo-hyuk terdiam heran, hingga kemudian dia ingat obrolan mereka malam kemarin, yg sempat membahas kode rahasia antar pegawai. Dia mengangguk faham, sementara Woo-jin terus berusaha mengulur waktu..


Pria itu mulai curiga dengan tingkah Woo-jin, maka dia merebut amplop berisi uang dan hendak pergi. namun di waktu yg tepat, Joo-hyuk datang dan langsung menembakkan pistol gas tepat ke wajah tersangka, “DIA PENIPU!!!!!” teriaknya, yg sontak membuat semua orang terkejut melihatnya.


Sesaat kemudian, Woo-jin dan Joo-hyuk selesai memberi kesaksian di kantor polisi. Pak Cha membiarkan mereka pulang lebih awal, karena sangat senang setelah berita baik tentang kantor mereka tersebar begitu viral di internet.

Joo-hyuk lantas mengomeli Woo-jin, “Kenapa kamu gegabah? Bagaimana jika kepalamu ditembak karena kamu kentara mengulur waktu?”


“Aku bisa apa lagi? Itu seluruh harta ibu itu. Dia bekerja keras menabung uang itu. Bedebah itu akan merampoknya. Aku tidak bisa diam saja...” jelas Woo-jin, membuat Joo-hyuk berkomentar: “Kamu memang selalu nekat dalam situasi begitu..”

“Maksudnya pak?” tanya Woo-jin heran, tapi Joo-hyuk menggelengkan kepalanya, menyuruh Woo-jin untuk melupakan kalimatnya barusan.


Sebagai bentuk ucapan terimakasih, Woo-jin mengajak Joo-hyuk makan siang di traktir olehnya dan kebetulan ada kedai favoritnya dekat sini..


Mereka mengunjungi sebuah kedai teekbeokki, yg ternyata memang menjadi tempat kencan keduanya di masa itu. Joo-hyuk melihat suasana kedai yg masih sama, tak banyak berubah disana.


Melihat cara Woo-jin makan, membuat Joo-hyuk mengenang masa itu.. mereka masih muda, dan Woo-jin sangat suka padanya. Woo-jin sampai menulis nama mereka di tembok dan menyertakan emot ‘love’ disana..


Namun sekatang.. tak ada tulisan apa pun di tembok dan semua momen itu, hanyalah ada dalam ingatannya Joo-hyuk saja.

Woo-jin meminta Joo-hyuk untuk bersikap tidak terlalu formal dengannya, “Santai saja denganku. Itu lebih nyaman bagiku...”


Joo-hyuk lantas melakukannya, tapi ia masih terlihat sangat canggung. Berikutnya, ia memesan es serut rasa stroberi dan itu mengejutkan Woo-jin, “Kamu pasti punya kekuatan supernatural. Bagaimana kamu tahu menu itu?”


Usai makan.. mereka hendak pulang. Tapi diluar hujan begitu deras dan sialnya, mereka tak membawa payung..


Tak sengaja, Woo-jin melihat bekas pot di tumpukan sampah. Maka dia mengambilnya dan menggunakannya sebagai pengganti payung.. merka pun berlari menuju mobil, sambil tertawa bersama-sama...


Momen ini, lagi-lagi mengingatkan Joo-hyuk pada kejadian di masa itu. Joo-hyuk tertidur saat belajar di perpustakaan, tapi mendadak Woo-jin datang dan menaruh soda dingin di pipinya, hingga membuatnya terbangun.


Woo-jin bilang dia baru datang kesini, tapi ia harus pergi lagi, “Ini hari ulang tahun temanku dan tahu tidak? Dia mentraktir kami prasmanan. Ini bukan waktunya belajar. Kamu iri, bukan? Aku akan makan banyak...” ungkapnya kegirangan

“Omong-omong, kenapa kamu kemari?”

“Untuk melihat wajahmu. Minum ini, tetaplah terjaga, dan belajar dengan keras. Semangat!!!”


Beberapa saat kemudian, Joo-hyuk hendak pulang.. tetapi hujan turun begitu deras, padahal tak ada pemberitahuannya di ramalan cuaca, maka ia tak membawa payungnya.


Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba datang Woo-jin yg menghampirinya dengan membawakan payung untuknya. Joo-hyuk lantas bertanya: “Kenapa kamu tidak ke ulang tahun temanmu? Kenapa kembali?”


“Tadi di jalan hujan. Kamu tidak bawa payung, bukan? Jadi, kubawakan...”

“Seharusnya kamu pakai payungnya. Kenapa kamu basah kuyup?”

“Benar juga. Kenapa itu tidak terpikirkan olehku? Astaga, bodohnya aku...”

Kembali ke realita.. dalam benaknya, Joo-hyuk mengakui, bahwa momen itu mungkin menjadi kali pertama jantungnya berdebar karena Woo-jin.


Masuk ke mobil.. Woo-jin mengeluh, dia alergi AC dan badannya mudah sakit kalau kedinginan. Sontak hal itu, mengingatkan Joo-hyuk pada masa-masa ketika dirinya mengajari Woo-jin dan Woo-jin memang selalu mengeluhkan hal itu...


Woo-jin menerima telpon dari ahjumma yg merawat ibunya yg membuatnya harus bergegas pulang. Hari sudah larut, namun ibu hendak naik taksi, katanya ingin bertemu dengan ayah..


Maka Woo-jin harus memaksanya turun.. dan ketika turun, ibu kegirangan melihat Joo-hyuk, “Astaga, Menantuku. Kamu belum makan malam, bukan? Ayo. Kusiapkan makanan untukmu...” ajaknya dan kali ini, Joo-hyuk menerima ajakan itu.
Comments


EmoticonEmoticon