8/26/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 7 PART 4

SINOPSIS Familiar Wife Episode 7 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 7 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 7 Part 5

Joo-hyuk menyeret Woo-jin keluar untuk berbicara empat mata dengannya, “Kenapa kamu ada di sini?!”


“Kamu sudah melihatku. Aku mencari nafkah dengan kerja paruh waktu.”

“Lalu kenapa... Bukankah kamu flu? Kamu bilang mau pulang karena tidak enak badan.”

“Aku bohong. Lantas kenapa?”

“Kamu ingin gagal lagi? Belajar siang dan malam saja tidak cukup. Kenapa kamu malah bekerja?”


“Pikirmu kamu bisa berkuliah jika begini terus? Kami tidak punya uang untuk hidup. Keluargaku tidak punya uang. Kami tidak bisa menjual rumah kami. Mana bisa aku hanya fokus belajar? Toh aku tidak akan menjadi cendekiawan. Walau aku berkuliah pun, bagaimana caraku membayar kuliahku? Aku bekerja paruh waktu di bar bukan karena ingin. Lalu, pikirmu kamu siapa? Apa hakmu memarahiku? Kamu bilang aku bukan apa-apa bagimu. Kamu bilang aku tidak bisa menjadi pacarmu!”

“Jadi, aku tidak boleh marah jika kamu bukan pacarku? Sedangkal itukah hubungan kita?”

“Benar. Hubungan apa ini? Jawablah!” pinta Woo-jin, tetapi Joo-hyuk hanya diam, amka Woo-jin berkata: “Lihat? Menjawab pun tidak bisa. Kita tidak menjalin hubungan apa pun!”


Sejenak suasana hening.. hingga secara mendadak Joo-hyuk mencium Woo-jin, membuat suasana berubah menjadi sangat romantis..


Kembali ke realita.. sekarang semua momen manis itu hanyalah sebatas kenangan yg diingat olehnya saja...


Esok harinya.. Joo-hyuk menyetir menuju vila. Sepanjang perjalanan, Hye-won terus mengungkapkan rasa antusias nya, “Aku tidak sempat ikut tamasya kelas saat kuliah dan tidak pernah berlibur di vila...”

“Jangan terlalu berharap, nanti kamu kecewa.”

“Kenapa? Vila terlihat luar biasa di televisi. Ada jacuzzi juga.”

“Semua vila berbeda.”

“Aku sebenarnya agak terkejut saat adikmu menelepon. Berbelanja bersama pun tidak pernah, tapi dia mengajakku bertamasya. Tapi ternyata kita bukan tamu utamanya. Jong Hoo dan Seo Woo Jin. Kapan mereka berpacaran? Kamu bilang dia belum lama dimutasi.”


“Entahlah. Kurasa mereka baru saja mulai berpacaran.”

“Dia pasti lebih agresif dari penampilannya karena dia mendapat pria secepat ini.”

“Berpacaran bukan berarti agresif.”

“Kamu benar. Tapi kenapa kamu membelanya? Menyebalkan...”

“Aku tidak membelanya. Aku tidak pernah membelanya...”


Sementara yg lain ada di mobil yg satunya lagi.. sepanjang perjalanan, mereka nampak begitu ceria. Woo-jin penasaran, bagaimana ceritanya Jong-hoo bisa berteman dengan dengan Sang-sik dan Joo-hyuk..


“Ini karena Kakak. Dia mengajak Jong Hoo ke toko kami. Lalu mereka berteman dan makin akrab. Kini mereka menjadi Three Musketers..” jawb joo-eun

“Persahabatan kalian luar biasa. Kalian pasti bisa saling mengandalkan...” puji Woo-jin, maka Jong-hoo berkata: “Aku merasa mereka akan selalu siap membantuku kapan pun..”

Tapi kemudian Sang-sik bilang: “Jika kamu dan Joo Eun bertengkar, aku akan membela Joo Eun...”

“Tidak. Jika kamu bertengkar dengan Kakak, aku membela Kakak...” sanggah Joo-eun, membuat Sang-sik mengeluh: “Hei, tega sekali. Suamimu harus diprioritaskan!!!”


Sesampainya di villa, semua orang bekerja sama untuk membereskan barang bawaan mereka. Namun Hye-won malah mengeluh manja...


“Di sini seperti rumah boneka. Aku tidak berkomentar buruk. Maksudku hanya vilanya kecil. Sayang, tidak ada pancuran di kamar mandi. Bagaimana mandinya?”

“Kita harus menerimanya. Itu sudah biasa di kawasan seperti ini.”

“Tidak bisakah kita bersantai di sini dan tidur di hotel? Kamarnya juga agak berbau.”

“Tidak bisa. Bersabarlah selama sehari.”

“Kamu tahu aku berbeda! Aku paling tidak tahan dengan bau.”


“Kamu tidak akan mati jika tidur di sana semalam. Ini kali pertama kita bertamasya. Jangan merengek..” tukas Joo-eun, tapi Joo-hyuk masih membela Hye-won, “Hei, jangan lancang kepada kakak iparmu.”


Berikutnya.. mereka membahas pembagian kamar. Joo-eun mengusulkan agar kelompok wanita dan pria dipisah saja..

“Apa? Tapi ada tiga jika ruang tamu dihitung. Tidak bisakah pembagian kamarnya sesuai pasangan?” ujar Hye-won, namun Joo-hyuk langsung menetangnya, dengan alasan Woo-jin dan Jong-hoo belum menikah.

“Apa maksudmu? Jangan kolot...” komen Hye-won, maka Joo-hyuk menegaskan: “Aku hanya tidak ingin mereka canggung. Itu juga tidak patut dari segi etika.”


“Etika? Astaga. Kamu lucu sekali. Kenapa tingkahmu aneh sekali hari ini? Sejak tadi, kamu gelisah, sekarang begini? Kamu seperti orang asing..” ujar Hye-won

Tapi kemudian Joo-eun berkata: “Kak Hye Won-lah yang terasa asing bagiku. Selama apa pun, perasaan ini tidak bisa hilang...”

Memutus perdebatan, Joo-hyuk menegaskan bahwa pembagian kamar seusai jenis kelamin dan tak ada yg boleh menetangnya..


Sang-sik baru ingat, kalau dia lupa membawa kopi instan. Maka sponta, Joo-hyuk menawarkan diri untuk pergi keluar, sekalian membeli es krim.


Sepulangnya berbelanja.. tak sengaja, Joo-hyuk melihat Woo-jin yg sedang telponan dengan ibunya. Maka mereka, jalan pulang bersama-sama..


Beberapa saat. Suasana sangat hening. Sekalinya bicara, mereka berdua kompak mengajukan sebuah pertanyaan..

“Silakan.. anda saja yg berbicara. Aku basa-basi karena kesunyiannya terasa canggung...” ujar Woo-jin, maka Joo-hyuk bertanya: “Kenapa Jong Hoo tidak menemanimu?” 

“Sang Sik merebut antrean mandinya. Kini dia mandi. Aku jarang mandi saat datang ke tempat seperti ini. Aku bahkan pernah tidak mandi lima hari. Nyamuk pun enggan menggigitku setelahnya...” tutur Woo-jin, yg membuat Joo-hyuk terkekeh sambil berkata: “Aku tahu..”

Woo-jin kaget, “Mana mungkin kamu tahu?”


“Maksudku... Aku tahu perasaan nyamuk yang tidak menggigitmu.”

“Kamu baik sekali. Tidak disangka kamu malah berempati dengan nyamuk...”

“Hmmm.. Mengenai Jong Hoo... Benarkah kamu menyukainya?”

“Yaps.. Maka itu, aku menerimanya.”

“Apa yang kamu sukai darinya?”

“Dia tampan. Dia juga ceria. Dia selalu memastikan aku tidak kesepian saat kami bersama. Dia selalu tertarik denganku dan memulai percakapan denganku. Kenapa kamu menanyakannya?”


“Apa? Aku hanya penasaran dengan kalian...” jawab Joo-hyuk, yg kemudian mempercepat langkahnya dengan alasan es krim yg meleleh


Di Vila semuanya sibuk menyiapkan makanan.. tapi Hye-won malah berdiri di depan AC sambil mengeluh, “Kurasa pendingin udaranya sudah tua. Terlalu lemah...”

Hye-won mengecilkan suhu ruangan, dan Woo-jin langsung batuk-batuk. Maka Joo-hyuk memintanya untuk menaikkannya sedikit, tapi Hye-won menolak, dengan alasan dia tak tahan udara panas.


Kemudian Joo-eun menegurnya, “Kak Hye Won, jangan mendinginkan badan saja di situ dan bantulah kami jika kamu punya hati nurani...”

“Baiklah. Mau aku bagaimana?”

“Cucilah daun wijen itu.”


“Daun wijen yang sudah dicuci dijual di pasar. Untuk apa membelinya?” keluh Hye-won, sambil mencuci daun itu lembar demi lembar


Malam hari.. mereka semua berkumpul diluar untuk bakar-bakaran sambil minum soju, keculia Joo-hyuk yg hanya minum air minural dan Hye-won yg minum soda.


Jong-hoo membaca postingan di grup, katanya ada yg ketahuan menggunakan kartu kresit perusahaan untuk kepentingan pribadi yaitu membayar kamar hotel.


“Grup apa itu?” tanya Hye-won, maka Joo-hyuk menjelaskan: “Itu semacam komunitas rahasia di antara pegawai. Dari gosip tentang atasan hingga melatih pegawai baru, mereka menceritakan kehidupan di kantor, termasuk masalah asmara...”

Hye-won bertanya lagi: “Apa perusahaan mengetahuinya?”

“Entahlah. Katanya, tim personel memantaunya. Beberapa masalah diketahui berkat rumor di komunitas itu. Karena ada yang mengundurkan diri dari komunitas itu, bisa dikatakan komunitasnya berpengaruh...” jelas Joo-hyuk, membuat Hye-won berkata: “Menarik sekali...”
Comments


EmoticonEmoticon