8/27/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 8 PART 4

SINOPSIS Familiar Wife Episode 8 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 8 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 8 Part 5

Dalam perjalana pulang.. Joo-hyuk merengung, mengingat kesalahannya pada hari peringatan kematian ayah mertua selama menjadi suami Woo-jin.


Untuk alasan pekerjaan.. selama beberapa tahun berturut-turut, ia selalu datang terlambat. Saat pertama kali, Woo-jin hanya marah bisa.. 


Di tahun berikutnya,, Woo-jin sedang hamil. Dia marah, tapi masih bisa ditahan. Kemudian di tahun berikutnya, Woo-jin tak kuasa menahan amarahnya.. hingga dia berteriak, memaki Joo-hyuk seperti biantang buas.


Sekarang, Joo-hyuk mampir ke rumahnya Woo-jin. Diam-diam, dia menyimpan sebotol minuman di depan gerbang.. 

Tak langsung pergi, ia sempat diam sejenak, “Ayah di sini? Maaf terlambat. Tolong hibur Woo Jin dan Ibu Mertua sebelum Ayah pergi...” ucapnya yg kemudian memberikan peghormatan


Joo-hyuk menekan bel rumah, lalu bergegas pergi. Tapi di persimpangan jalan, dia berpapasan dengan Woo-jin yg raut wajahnya sangat lesu..

“Ada apa? Ada masalah?” tanyanya


Di tempat yg lebih kondusif, Woo-jin menceritakan semuanya, “Aku sudah mencari di tempat yang memungkinkan. Ke rumah lama temannya. Tempat yang sering dikunjunginya bersama Ayah. Aku mencari ke mana-mana. Tapi Ibu tidak ada. Kalung identitasnya ditinggal di rumah. Dia juga tidak tahu nomor ponselku. Bagaimana jika aku tidak menemukannya?”


Mereka pun meminta bantuan pihak polisi. Tapi sayangnya pihak polisi sendiri, tak bisa memastikan kapan mereka menemukan ibunya Woo-jin..


“Tidak bolehkah aku menunggu di sini? Aku gelisah...” ujar Woo-jin

“Boleh, tapi kami tidak bisa menjamin akan cepat.”


Ponsel Joo-hyuk berdering, ada telpon masuk dari Hye-won, “Makan malamnya belum selesai?”

Dengan gugup, Joo-hyuk berusaha untuk berbohong, “Sudah selesai, tapi masalahnya, aku baru saja dihubungi. Pegawai dari kantor cabang utama kehilangan ibunya. Jadi, manajer cabang, manajer tim, dan aku harus melayat.”

“Sungguh? Di mana? Jauhkah?”

“Sebenarnya, ya. Di luar kota. Di Sangju.”

“Kamu harus melayat sekarang? Tidak bisakah kamu melayat besok?”

“Sebenarnya, dia tidak punya kerabat dan tidak punya saudara. Kasihan jika rumah dukanya sepi. Manajer cabang dan manajer tim ikut, jadi, aku juga harus pergi.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan...”


Joo-hyuk pergi ke mini market untuk membeli beberapa makanan ringan serta minuman. Tapi ketika kembali ke kantor polisi, dia melihat Woo-jin yg telah tertidur..


Duduk di sebelahnya dan merenung.. akhirnya Joo-hyuk teringat perkataan Sang-sik tentang sosmed.


Maka bergegas Joo-hyuk menelpok sang-sik untuk minta username dan password sosmednya. Kemudian, secara diam-diam.. Joo-yuk mengambil ponsel Woo-jin untuk mengambil foto ibunya..


Di pagi hari.. Woo-jin terbangun dalam kondisi tangan Joo-hyuk yg menyanggah kepalanya agar tak terbentur tembok. 

“Omong-omong, bukankah kamu harus segera pulang?” tanya Woo-jin

“Tidak apa-apa. Aku sudah menjelaskannya ke istriku...” ajwab Joo-hyuk


Lalu kemudian ada pesan masuk.. Joo-hyuk mendapatkan laporan dari seseorang yg mellihat wanita mirip ibunya Woo-jin di terminal..


Mereka lansgung pergi kesana.. tapi ternyata, wanita itu bukanlah ibunya Woo-jin. Merasa frustasi, Woo-jin sangat ketakutan ia tak bisa menemukan sang ibu..

“Bagaimana ini? Kurasa aku tidak bisa menemukannya. Biasanya, aku menemukannya dalam beberapa jam, tapi ini belum pernah terjadi. Bagaimana jika Ibu menghilang selamanya?..” keluhnya pilu

“Tidak, Woo Jin. Bisa. Kamu bisa menemukannya...” ucap Joo-hyuk


Kemudian ada laporan lain, kali ini ini foto diambil di lokasi tuna wisma. Ketika diperhatikan secara detail, Woo-jin meyakini bahwa wanita di foto itu memang ibunya..
Comments


EmoticonEmoticon