8/11/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 11 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Still 17 Episode 11 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 11 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 12 Part 1

Hee-su berkata: “Pasti melelahkan tinggal dengan Woo Jin...”

“Tidak. Aku bersyukur dia mengizinkan aku tinggal di sana. Tapi aku hanya tinggal sementara, jadi, aku akan segera pergi...” tutur Seo-ri

“Woo Jin cenderung membuat orang merasa tidak nyaman dan sulit mengetahui apa yang dipikirkannya. Dia tipe orang yang aneh. Tapi dia tidak sepenuhnya bedebah, jadi, tolong mengertilah” jelas Hee-su, namun Seo-ri berkata: “Dia sama sekali tidak membuatku merasa tidak nyaman. Aku tahu dia pria yang baik. Dia sangat peduli kepadaku...”


Hee-su kaget, “Dia memedulikanmu? Bukan mengganggumu? Aku sudah mengenalnya selama 10 tahun. Dia pintar membuat orang kesal, tapi dia bukan tipe orang yang memedulikan siapa pun. Tapi kenapa kamu memanggil dia ajusshi? Bukankah kalian seusia?”

“Itu... Aku tidak tahu lagi harus memanggilnya apa...” jawab Seo-ri, yg kemudian hendak bertanya tentang masa lalu Woo-jin pada Hee-su.. tapi Seo-ri merasa canggung akhirnya dia murungkan niatnya itu.


Chan dan sobatnya menelpon Woo-jin, yg kini posisinya tengah duduk sendirian di sebuah kafe, “Paman yakin kita tinggal bersama? Aku hampir lupa bagaimana rupa Paman. Kami merindukan Paman. Kami menyayangi Paman...”

“Sangat tidak terduga mendengar kamu mencintaiku. Kalian baik-baik saja?”

“Mereka sehat walafiat. Bagaimana dengan Paman? Paman makan dengan teratur?”

“Tentu. Persiapanmu untuk kontes nasional lancar?”

“Astaga, jangan mencemaskan aku. Aku bisa mengurus diri sendiri, jadi, fokuslah mengurus diri Paman. Omong-omong.. Paman tidak mengalami hal yang buruk, bukan?”

“ Semua baik saja. Jangan khawatir..”

“Baiklah. Sampai jumpa di rumah...”


Di kamera, Woo-jin melihat satu foto Seo-ri yg tak sengaja dia ambil. Dia pun hendak menghapusnya, tapi kemudian dia teringat ucapan dokter yg memintanya untuk berusaha melihat Seo-ri sebagai gadis lain yg berbeda dari gadis di masa lalunya.


Karena makannya banyak, maka Chan olahraga angkat beban di malam hari.. melihat langit yg telah gelap dan hanya disinari bulan, dia menyadari sekarang telah larut malam.. tapi dia heran, kenapa Seo-ri belum pulang juga?


Maka akhirnya dia menelpon Hee-su, “Noona!!! Aku tidak tahu Anda itu bos yang buruk. Anda tidak tahu pukul berapa sekarang? Anda membuat pendatang baru bekerja terlalu keras...”

“Apa maksudmu? Aku mentraktirnya daging. Aku menyambut dia dengan membelikan daging sapi Korea dan soju”

“Apa?! Soju?! Kamu membuatnya mabuk?!”


Seo-ri mabuk berat.. dalam perjalanan pulang, dia mampir ke toko peraikan violin.. dia melirik violinnya yg terpajang di dalam, lalu dia berkata: “Aku akan menjemputmu secepat mungkin. Jadi, pastikan kamu diperbaiki dengan benar. Aku akan menjemputmu setelah mendapatkan banyak uang. Tunggu saja...”


Melanjutkan perjalannya, tak sengaja ia mendengar ajusshi yg menyanyikan lagu tentang usia muda. Spontan Seo-ri menghampirinya dan mengatakan bahwa dia pun berusi 17 tahun, tapi kemudian.. dia sadar dan bilang kalau usianya 30 tahun..


Chan melihatnya dari kejauhan, tappi dia sengaja tak menghampirinya: “Astaga.. Dia akan merasa sangat malu jika aku menghampiri dia sekarang...”


Maka secara diam-diam.. Chan mengikutinya dari belakang.. Seo-ri sempat merangkak melewati terowongan anak-anak, dan Chan melakukan hal yg sama.. meski tak tahu tujuannya apa.


Hingga sampai ke rumah.. dia terus memehatikannya dan melindunginya dari kejauhan, memastikan Seo-ri tak terluka sedikit pun..


Masuk kedalam kamanya, Chan bicara pada piaraannya yg menatapnya aneh, “Kenapa melihat aku seperti itu? Tidak, bukan begitu...”


Woo-jin pulang, tapi dia enggan masuk kedalam dan memilih untuk duduk di bangku halamannya saja. tak lama kemudian, Jennifer lewat, “Anda pulang telat...” sapanya mendadak, membuat Woo-jin kaget.


“Jika aku menakuti Anda, aku ingin minta maaf. Selama beberapa hari terakhir, aku mengeringkan cabai. Jumlah cahaya matahari itu penting saat mengeringkan mereka. Jadi, di siang hari, mereka harus dijemur di bawah matahari dan di malam hari, mereka harus ditutup agar tidak berasap. Untuk mengeringkan cabai dengan benar...” paparnya, tapi kemudian Woo-jin bilang: “Aku tidak menanyaimu...”

“Anda benar. Anda tidak menanyaiku. Jika Anda lapar, akan kubuatkan...” tawarnya, tapi Woo-jin menegaskan: “Aku tidak makan di malam hari...”

“Benar. Anda tidak makan di malam hari...” ujar Jennifer, lantas Woo-jin bertanya: “Kenapa masih diam disini? Tak mau masuk ke dalam?”


“Bulannya terang, jadi, aku ingin mandi bulan. Bunga sakura berguguran belum lama ini. Waktu berjalan terlalu cepat...” tutur Jennifer, namun Woo-jin merasakan hal sebaliknya, “Menurutku berjalan terlalu lambat. Kuharap waktu akan berjalan lebih cepat. Bagus seandainya satu bulan berlalu saat aku bangun...”


“Meski Anda mau melambatkan waktu, meski Anda mau mempercepat waktu, waktu berlalu dengan begitu saja. Saat-saat menyakitkan yang membuat Anda merasa seperti Anda mau mati akan berlalu suatu hari nanti. Suatu hari, Anda tidak akan pernah mengingat kenangan menyakitkan yang sepertinya tidak akan pernah hilang. Waktu akan berlalu dengan sendirinya. Jika Anda menghindarinya sebelum waktu berlalu, hal-hal yang penting akan hilang bersama dengan waktu. Pada saat Anda menyesalinya, semua sudah terlambat...” papar Jennifer yg kemudian pamit masuk kedalam


Di tengah malam, Seo-ri terbangun untuk mengambil air minum. Sepertinya dia terlalu mabuk dan kondisinya belum sadar sepenuhnya..


Dia lalu berjalan menaiki tangga, memasuki kamar Woo-jin.. dan malah melanjutkan tidurnya disana..
Advertisement


EmoticonEmoticon