8/13/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 12 PART 2

SINOPSIS Still 17 Episode 12 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 12 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 12 Part 3

Seo-ri masuk ke pantry, dia kaget melihat Woo-jin yg telah kembali ke kantor dan tengah menyeduh kpoi disana. 


Apa yg sebelumnya dikatakan Woo-jin, membuat Seo-ri canggung berada di dekatnya. Maka dia bergegas pergi, namun tak sengaja dia melepas ganjela pintu hingga membuat pintunya tertutup dan mereka terjebak, karena pintunya tak bisa dibuka dari dalam...

Sekarang jam istirahat, maka yg lainya sedang makan siang diluar. Tapi Seo-ri tetap berusaha berteriak, minta pertolongan.. meski Woo-jin bersikap acuh, dan malah sibuk sendiri menyeduh kopinya.


Seo-ri yg panik, tak sengaja menyalakan mesin pengiling kopi dan dia bingung sendiri, cara mematikannya bagaimana. Maka Wo-jin membantunya, tapi tak mengatakan apa pun...

Tak lama kemudian, Hyun datang.. maka Seo-ri berteriak minta pintunya di bukakan. Setelah itu, Seo-ri bergegas lari ke mejanya meninggalkan Woo-jin yg tetap mersikap apatis.


Hee-su datang, dia mengingatkan semuanya kalau pertunjukkan Rin Kim dimulai pukul setengah 8 malam. Karena dirinya dan Hyun, harus mampir ke Pabrik di Paju, maka dia meminta Woo-jin membawa Seo-ri ke konser  nanti.

Seo-ri berteriak, mengatakan dia ingin ikut dengan Hee-su saja.. Lagipula, Woo-jin menjelaskan bahwa dia ingin pergi melihat-lihat properti di Hwanghak-dong siang ini.


Hee-su tak bisa membawa Seo-ri dengannya, karena ada paket penting yg datang hari ini. Maka dari itu, dia memberikan kartu kreditnya, dan menyuruh Seo-ri untuk datang ke aula konser menggunakan taksi saja...


Sejenak terdiam, kemudian Seo-ri berlari keluar mengejar Woo-jin yg untungnya belum pergi. Dia pun langsung mengutarakan unek-uneknya secara gamblang: “Apa aku melakukan kesalahan? Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Karena kamu tiba-tiba bersikap seperti ini, mungkin aku telah melakukan kesalahan. Kamu tidak akan memberitahuku, jadi, ini membuatku gila. Pokoknya, beri tahu aku jika aku melakukan kesalahan. Aku bisa memperbaikinya, minta maaf, atau meluruskan kesalahpahamannya...”


“Tidak ada yang perlu kukatakan...” jawab Woo-jin begitu singkat


“Jujur saja, kurasa aku akrab denganmu. Sangat akrab. Kamu bilang kita tidak akan saling bertemu lagi selamanya, tapi kamu memberiku makan, mengizinkanku tinggal di rumahmu, dan kamu bahkan mencemaskanku dan berteriak untukku. Semua hal itu membuatku merasa sangat berterima kasih. Jadi, meski pergi dari rumahmu karena tidak bisa menemukan pamanku, aku akan terus menemuimu agar bisa membalas budimu. Kita akan terus bertemu untuk waktu yang lama. Kamu tidak tahu betapa bersyukurnya aku. Kukira kita yang paling akrab dari semua orang yang kutemui...” papar Seo-ri, yg kemudian bertanya: “Kita akrab, bukan?”


Tapi sangat menyebalkan, karena Woo-jin enggan menjawabnya dan malah masuk ke mobil, lalu pergi begitu saja...


Beberapa saat berlalu.. saat berada di pabrik, Hee-su menerima telpon, yg membuatnya nampak begitu panik dan bergegas pergi. Dia berusaha menghubungi Woo-jin, tapi tak ada jawaban..


Maka dia menelpon Seo-ri, untuk meminta bantuannya karena ternyata ada masalah korsleting listrik di lokasi salah satu panggung musik, projek mereka, “Pertunjukannya akan segera dimulai, jadi, kita harus memperbaikinya. Kami dalam perjalanan, jadi, tolong hubungi Woo Jin dan suruh dia segera datang!”


Woo-jin tak bisa dihubungi.. untungnya, Seo-ri ingat kemana Woo-jin pergi. Setelah mencaritahu di internet, dia pun berangkat ke lokasi untuk menemuinya.

Tapi kondisi disana sangatlah ramai. Dia sempat melihat Woo-jin, tapi kesulitan untuk mengejarnya.. karena Woo-jin yg sedang memakai headset, tak mendengar teriakannya.


Tak sengaja, Seo-ri mendengar pengumuman anak hilang di speaker, yg memberinya ide... melakukan cara serupa untuk mencari Woo-jin.

Bergegas dia berlari ke ruang suara, dia pun minta bantuan ajusshi yg bertugas disana, “Namanya Gong Woo Jin. Ini sangat mendesak. Tolong panggil dia!!!!” ujarnya dengan nafas yg terengah


Ajushhi itu bertanya, “Gong Woo Jin? Usianya berapa?”. Seo-ri mengacungkan 3 jari, membuat si ajusshi mengira usia Woo-jin 3 tahun.


“Bukan 3, tapi 30!” tukas Seo-ri yg membuat si ajusshi mengernyit keheranan. Akhirnya, Seo-ri sendiri, yg berbicara di pengeras suara.


“Desainer Gong! Tolong datang ke studio jika bisa mendengarku!!!” tutur Seo-ri, namun sepertinya Woo-jin tak mendengar karena dia masih sibuk mengukur benda-benda sambil mengenakan headset.


Seo-ri menyadari hal itu, maka via speaker dia menyebutkan kebiasan Woo-jin yg selalu memabwa meteran. Para pengunjung mendengarnya, dan mereka langsung menatap ke arah Woo-jin, membuat Woo-jin merasa ada yg janggal.


Ketika melepas headset-nya, Woo-jin langsung mendengar suara Seo-ri. Maka dia pun berlari menuju ruang pengeras suara..


“Ada apa?” tanyanya, tapi Seo-ri langsung meraih tangannya dan mengajaknya pergi..


Dalam perjalanan, Seo-ri menjelaskan semuanya dengan panik. Woo-jin faham, dia pun melpon Hee-su untuk mengintrusikan apa yg harus dilakukan..

Setelahnya, dia pun mengomentari mouse yg dibawa-bawa Seo-ri yg menyemprotkan sinar mereha ke wajahnya.. Seo-ri langsung meminta maaf, dan menjelaskan kalau dia terlalu panik, hingga tak sengaja membawa benda itu di tangannya.


Dalam waktu singkat, masalah dianggap berhasil tertangani, karena pekerja bisa mengganti keramik yg rusak dalam waktu singkat..


Namun ada masalah baru, karena ternyata maerial keramiknya berbeda. Yg baru bahannya sangt licin, Seo-ri hampir jatuh karena terpleset.. untung saja, Woo-jin berhasil menahannya. 


Semuanya bingung.. waktu pentas sebentar lagi, dan tak mungkin mereka membiarkan kondisi lantainya begini. Jika pentas dibatalkan, urusannya makin ribet dan mereka akan mengalami kerugian..


Kebetulan.. terdengar suara violin, yg seketika membuat Seo-ri mendapatkan ide. Dia pu berlari memasuki ruang latihan dan meminta rosin milik para pemain..


Kembali ke panggung, Seo-ri langsung meminta semuanya untuk menggosokkan rosin itu ke seluruh lantai yg licin.. tangannya terluka, karena tergores.. tapi dia tak mempedulikannya sedikit pun..


Berkat kerjasama.. akhirnya masalah lantai yg licin dapat terselesaikan. Mereka pun berjalan keluar dengan lega.. 

“Kurasa Seo Ri bisa mendapat ide itu karena dia pernah bermain violin. Tidak kusangka dia punya ide meminjam rosin dari orkestra. Kita berhasil mengatasi ini berkat Seo Ri...” puji Hyun

Mereka lantas teringat,, kalau konsernya Ri Kim akan dimullai sebentar lagi, “Kita kehabisan waktu. Kita harus berangkat!”


Hyun melihat tangan Seo-ri, “Astaga, tunggu. Kamu harus mencuci tanganmu. Tanganmu dipenuhi dengan rosin...” ujarnya

“Kita kehabisan waktu, jadi, aku akan mencuci tangan saat tiba di sana...” tutur Seo-ri
Comments


EmoticonEmoticon