8/18/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 15 PART 1

SINOPSIS Still 17 Episode 15 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 14 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 15 Part 2

Seo-ri cemas, karena jejak kaki Fang mengotori seisi ruangan. Dia hendak membereskan kardus lukisan yg terjatuh, namun bersamaan dengan itu datanglah Jennifer.


“Kamu sedang apa, Seo Ri?” tanyanya

“Fang masuk kemari dengan kaki berlumpur...” jawab Seo-ri, yg hendak menyentuh barang disana. Namun Jennifer langsung teriak: “STOP!”

Lanjutnya, dia menjelaskan: “Mister Gong tidak mau ada seorang pun masuk kemari. Tolong pergi...”


Pada akhirnya mereka pergi dan Seo-ri tak sempat melihat lukisan itu~~~

EPISODE 15: “Variasi Sebuah Misteri”


Berjalan pulang, Woo-jin terus kepikiran kalimat Seo-ri yg ingin waktunya kembali.. namun di depan kamar, Jennifer tengah duduk menunggunya dan itu membuat Woo-jin agak kaget melihatnya, “Astaga! Kamu belum tidur?”


“Aku memikirkan semua hal yang tadi Anda katakan dan yakin ini penting. Aku menunggu untuk mengatakan ini meski Anda...”

“Meski aku pulang larut malam? Ada apa?”

“Aku melihat tadi pagi pintu gudang terbuka. Anjing Anda masuk ke sana, jadi, aku harus masuk meski Anda tidak mau aku masuk ke sana. Aku minta maaf...”

“Oh, tidak apa-apa...”

“Apa maksud Anda, sepertinya tidak apa-apa?”

“Tidak usah dipikirkan. Aku akan menguncinya. Sudah malam. Kamu harus tidur”


Masuk ke kamar, Woo-jin menerima telpon dari sang ayah yg lansgung bertanya: “Apa masalah yang harus kamu tunggu sebulan sudah diurus?”

“Ya. Tidak ada yang perlu dicemaskan..”

“Kalau begitu, ayah berencana menjual rumah itu sesuai dengan rencana awal. Ayah pasti bertambah tua. Kamu selalu di luar negeri selama setengah tahun. Ayah bertambah tua, jadi, pulang dan pergi untuk mengurusnya makin sulit”

“Maafkan aku, Ayah. Aku selalu membuat Ayah khawatir...”


Dalam kamarnya, Seo-ri sibuk mencari kamar yg hargawa sewa nya sesuai dengan uang yg dia  miliki. Tapi dari sekian banyak brosur.. tak ada satu pun yg pas untuknya.


Seo-ri berdiri di halaman, guna mencari udara segar. Sesaat kemudian, Woo-jin menghampirinya, “Kenapa belum tidur?”

“Tidak ada alasan...” jawabnya, yg balik bertanya: “Kenapa kamu di luar?”


“Tidak ada alasan juga...” jawab Woo-jin yg kemudian cerita: “Ayah akan datang ke Seoul pekan depan untuk menandatangani...”

Namun sebelum Woo-jin menyelesaikan kalimanya, Seo-ri mengubarh topik dengan membahas kejadian saing tadi ketika Fang memasuki gudang.

“Tidak usah khawatir. Aku menyimpan barang yang pernah kupakai sebelum ke Jerman di sana. Tidak apa-apa...” jelas Woo-jin


Seo-ri tersenyum lega, dia kemudian meminta izin untuk membawa seluruh batu kenangan miliknya, “Tidak apa-apa kalau kuambil?”

Woo-jin mengangguk, membuat Seo-ri begitu gembira, “Aku akan masuk dahulu. Selamat malam...” ucapnya, meninggalkan Woo-jin yg masih terdiam di tempatnya sambil bergumam pelan: “Tidak apa-apa?”


Kembali ke kamarnya.. Woo-jin tampak resah. Dia tak bisa tidur dan malah memainkan meterannya,,,


Esok harinya.. Seo-ri curhat pada Hyun tentang kesulitannya mencari tempat tinggal yg sesuai dengan budget-nya.

Mendengarnya, sontak membuat Hyun serasa ingin mengatakan seuatu yg berkaitan dengan ikan. Namun di tak ingat, soal apa itu..


Woo-jin berpikir keras.. ternyata, dia terus mengkhawatirkan Seo-ri, hingga membuatnya menulis daftar pilihan tindakan yg bisa dia lakukan: (1) Kamar ektra Hee-su, (2) Haruskah kucarikan tempat untuknya? (3) Haruskah kuminta dia ikut pindah ke apartemen Chan?


Seo-ri dan Hyun datang.. mereka membagikan es-krim berbentuk ikan yg baru dibelinya. Lalu Hee-su memaparkan agenda lokakarya festival yg diadakan besok, yg membuat Seo-ri kegirangan.. karena ini adalah yg pertama kali untuknya.


Saat memakan es krim ikan itu, akhirnya Hyun teringat hal yg ingin dikatakannya pada Seo-ri, yakni: ‘pakan ikan!’

Dia lantas menjelaskan: “Sepupuku akan ke luar negeri untuk belajar bahasa. Dia mencari seseorang untuk pindah ke tempatnya. Tidak usah membayar sewa. Kamu hanya memberi makan untuk ikannya...”


“Aku! Aku akan pindah! Aku bisa memakani ikan dengan baik!!!” sahut Seo-ri yg begitu antusias, namun Woo-jin bereaksi sebaliknya, “Ini sangat mendadak. Bagaimana biaya perawatannya?”

“Dia sudah bayar untuk setahun...” jawab hyun, lantas Woo-jin lanjut protes: “Tapi dia tidak boleh tinggal terlalu jauh dari kantor...”


“Dekat sekali. Lima menit jika berjalan kaki dari sini” tukas Hyun, membuat Woo-jin komentar sinis, “Astaga. Apa mungkin ada tempat sebagus itu?”


“Kenapa kamu banyak sekali bertanya?” keluh Hyun, maka Woo-jin menghampirinya sambil memcubitnya lalu berkata: “Karena mendengarkanmu membuatku mau pindah juga ke sana. Aku sedikit iri!”


Woo-jin menyendiri di rooftop.. sejenak dia memerhatikan catatannya, yg kemudian dia buang ke tempat sampah begitu saja..


Chan menerima pujian dari pelatihnya, “Kamu mencetak rekor hari ini untuk pedayung tunggal. Bagus. Kamu akan menang!”


Mendengarnya membuat Chan makin termotivasi. Dalam benaknya dia berkata: “Jika aku menang, apa aku bisa menyatakannya? Itu membuatku sangat geli! Pokoknya aku akan menang!”

Padahal baru beres latihan, tapi Chan langsung lari berkeliling lagi sambil teriak: “Don’t Think! Feel!!!!”


Chan pulang ketika Seo-ri tengah antusias menceritakan tempat tinggal barunya pada Jennfer. 


Namun mendengarnya membuat Chan resah, “Bibi bicara apa? Kenapa Bibi mencari tempat?”

“Sudah satu bulan. Aku harus siap-siap pergi. Aku akan pindah akhir pekan ini”

“Apa? Sudah satu bulan?”

“Heeh.. Disana Ada tiga kamar. Aku boleh menggunakan kamar, piring dan peralatannya juga. Aku hanya perlu mengurus ikannya...”

“Ikan? Bukankah pemiliknya harus mengurus ikannya sendiri?!”
Comments


EmoticonEmoticon