8/18/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 15 PART 2

SINOPSIS Still 17 Episode 15 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 15 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 15 Part 3

Sesampainya di rumah.. Woo-jin tak langsung masuk dan memilih untuk duduk di bangku halaman. Sesaat kemudian, datanglah dua sobatnya Chan, mereka menawarkan kue ikan tapi Woo-jin langsung menolaknya..


Lalu Chan keluar.. mereka menawarinya kue ikan juga. Namun dengan ketus, Chan berkata: “Singkirkan itu dari wajahku!”

Lantas mereka bergumam, “Keluarga ini sepertinya, tidak suka ikan.”


Dengan panik, Chan protes pada Woo-jin: “Bagaimana bisa Paman menjual rumah hanya karena sebulan berlalu? Jika kita pindah ke apartemenku, kita ajak Bibi dengan kita..”

“Dia sudah menemukan tempat.” Tukas Woo-jin

“Aku tahu, tapi... Kita tidak boleh biarkan dia tinggal sendiri. Masalahnya... Astaga. Kita harus mengajak dia tinggal bersama kita. Dia ikut dengan kita, ya?” pintanya dengan amat sangat


Kemudian pada Seo-ri Chan berkata: “Bibi, lupakan ikannya. Pindahlah ke apartemen dengan kami...”


Seo-ri tersenyum, lalu menjelaskan: “Terima kasih sudah mengatakannya, Chan. Aku terbiasa tinggal di rumah ini, jadi, aku memaksa diri untuk tinggal di sini. Tapi tidak benar jika pindah ke sana bersama kalian. Aku sangat bersyukur karena kamu mengizinkanku tinggal sebulan. Aku tidak tahu bagaimana membalasmu”


“Haruskah kita adakan pesta perpisahan jika Bibi pindah?” tanya Deok-su

“Apa? Kalian tidak akan menemuiku lagi? Pesta perpisahan itu untuk benar-benar berpisah...”ujar Seo-ri yg lantas berjanji: “Aku akan sering mengunjungi Fang dan menemui kalian juga...”


Seo-ri masuk ke kamarnya.. dia menatap seisi ruangan, lalu menyatakan bahwa dirinya mesti segera berkemas...


Woo-jin berdiri di halaman sembari menatap lagit malam. Jennifer datang menghampirinya, “Kenapa Anda belum tidur?”

“Aku tidak bisa tidur. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga tidak bisa tidur...”


Woo-jin lantas berkata: “Waktu berlalu dengan cepat. Aku mulai berharap waktu akan berlalu lebih lambat...”


“Waktu memang cepat berlalu meski kita menahannya atau membuatnya berlalu dengan cepat. Tidak hanya cepat berlalu, tapi di saat yang sama, waktu itu tidak pernah bisa terulang kembali. Semua orang bisa merasa sedih saat kehilangan sesuatu. Tapi apakah Anda akan membuat kesedihan itu menjadi suatu penyesalan atau mengubahnya menjadi kenangan indah itu terserah Anda...” tutur Jennifer, “Aku mengatakan ini karena aku iri bahwa Anda masih bisa melakukan sesuatu...” tambahnya


Mendengar kalimat terakhir, membuat Woo-jin bingung, “Maksudnya apa?”

Jennfer enggan menjelaskan, dia malah mengeluh digigit nyamut lalu izin masuk ke dalam..


Esok harinya, staff kantor kecuali Hee-su berangkat menuju lokasi lokakarya bersama-sama. Mereka sempat mampir di mini market untuk membeli camilan..


Namun menyedihkan, karena mobil Hyun mesinnya tak bisa dinyalakan. Mereka lantas membawanya ke bengkel terdekat..

Montir menjelaskan, butuh waktu beberapa saat untuk memperbaikinya. Dan jika tak ingin terlambat ke tempat tujuannya, mereka bisa naik kereta..

“Woo Jin, pergilah. Kamu tidak boleh absen. Kami akan tunggu di sini dan berangkat malam hari...” ujar Hyun, tapi kemudian Woo-jin mengajak Seo-ri bersamanya.


Seo-ri merasa bersalah, “Tidak apa-apa meninggalkan Hyun sendirian?”

“Dia akan baik-baik saja...” jawab Woo-jin yg kemudian mengajak Seo-ri jajan sesuatu, karena keretanya baru datang 30 menit lagi.


Mereka membeli ramen.. Seo-ri mencicipinya duluan dan rasanya sangat pedas. Woo-jin lantas menyindirinya, “Memang ramen bisa sepedas apasih..”

Tapi ketika dia sendiri yg mencobanya, ternyata dia pun kepedesan.. tapi karena gengsi, dia berusaha keras bertingkah seolah dia biasa saja.


Ketika Seo-ri minum, Woo-jin lansgung merebut borolnya. Maka Seo-ri balas menyindirnya, “Seharusnya bilang saja kalau pedas...”

“Aku bukan minum karena pedas! Aku minum karena banyak berkeringat!” tegas Woo-jin, maka Seo-ri menanggapinya dengan anggukan seperti ejekan, membuat Woo-jin mengeluh: “Apa maksudmu dengan itu? Ini mulai membuatku kesal..”


Seo-ri bahkan menyebut Woo-jin septi orang yg bodoh. Tapi ketika Woo-jin berusaha menyanggahnya, kereta mereka tiba..


Mereka satu gerbong dengan rombongan pelajar yg di sepanjang jalan terus menyanyikan lagu tamasya dengan begitu riang.

“Kamu dari tadi menatap. Apa yang kamu lihat?” tanya Woo-jin


“Mereka tampak sangat bahagia. Aku sedikit iri juga... Aku iri dengan usia mereka dan waktu yang mereka habiskan pada usia itu. Aku selalu ingin melakukan hal seperti itu...” tutur Seo-ri, yg membuat Woo-jin ingat bahwa seharusnya Seo-ri sekolah di Jerman tapi suatu hal membuat hal itu dibatalkan.

Lantas.. Woo-jin ingin bertanya tenteng hal itu. Namun tiba-tiba, salah seorang pelajar menghampiri mereka dan mengajaknya ikut bernyanyi.. 


Woo-jin menolak, tapi Seo-ri langsung bernyanyi dengan begitu riang, membuat semuanya bertepuk tangan. 


Barulah setelah itu, Woo-jin bersedia ikut bernyanyi.. awalnya memang canggung, tapi tepukan tangan dari yg lain berhasil membuatnya ikut larut dalam suasana menyenangkan itu.
Comments


EmoticonEmoticon