8/01/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 PART 1

Advertisement
SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 4 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 Part 2

Setelah diperiksa lewat interkom, ternyata yg menekan bel adalah kedua sahabatnya Chan. Maka Chan menyuruh mereka untuk langsung masuk saja..



Sesaat setelah interkomnya dimatikan, Hyung-tae menghampiri mereka untuk bertanya: “Apa ada orang yang datang ke rumah ini? Ada wanita berusia 30-an yang datang kemari, bukan?”

Teringat pada sosok Seo-ri, mereka menjawab: “Ya, dia pernah tinggal di sini. Tapi dia pergi tadi malam setelah sadar ini bukan rumahnya...”

“Kamu tahu dia pergi ke mana? Dia bilang akan pergi ke mana?” tanyanya, lantas mereka menjawab tidak.


Hyung-tae kecewa.. namun sebelum pergi, dia sengaja menitipkan kartu namanya, “Jika dia kembali, beri tahu dia agar menelepon nomor ini...” pintanya



Deok-soo mengambilnya, lalu menyimpannya ke dalam saku celananya. Tiba-tiba.. terdengar bunyi cel pedangang keliling. Dengan bersemangat, dia dan Hae-bum bergegas menghampirinya..


Sepanjang perjlanannnya menuju kantor, nampak jelas kegelisahan di wajah Woo-jin. Dia menyangsikan keputusannya sendiri, yg membiarkan Seo-ri untuk tinggal di rumahnya selama satu bulan kedepan..


Deok-su dan Hae-bum kaget melihat Seo-ri yg ternyata masih tinggal di rumahnya Chan, “Kukira Anda pergi kemarin. Seorang pria tadi datang mencari Anda...”

“Mungkinkah dia pamannya Bibi? Aku punya kartu namanya...”




Eh tapinya, ketika diperiksa.. kartu nama itu tak lagi berada dalam saku celananya. Setelah diingat-ingat, sepertinya itu terjatuh saat mereka membayar yoghurt jajanannya tadi.


Lantas, Chan memarahinya karena dia bertingkah sangat ceroboh. Deok-su merasa bersalah... dia tak ingat siapa nama pria itu, dia hanya ingat bahwa profesinya adalh seorang dokter, “Apa paman Anda seorang dokter?”

“Bukan...” jawab Seo-ri kecewa

Mereka hendak mengejar pria itu, karena kemungkinan dia belum pergi jauh darisini. Seo-ri melarangnya, “Aku tahu kenapa rumah sakit mencariku, tapi itu tidak masalah. Toh, aku tidak akan pernah kembali lagi ke sana...”



Kemudian, Seo-ri bertanya apakah dia bisa meminjam internet? Lantas Chan memberikan ponselnya, tapi Seo-ri yg ‘buta teknologi’, bersikeras mengatakan bahwa dia tak butuh ponsel dan butuhnya internet..


Beberapa saat kemudian, Seo-ri begitu serius mencari-cari informasi seputar perusahaan milik sang paman. Tapi anehnya, tak ada sedikit pun info terkait.


Dia teringat kejadian di hari kecelakannya.. kala itu, sebelum naik bus dia sempat melihat mobil pamannya lewat, padahal katanya paman sedang ada urusan bisnis di Jepang.



Seo-ri menelpon bibinya untuk mengkonfirmasi, apakah paman sudah pulang ke Korea? Lantas dengan begitu yakin, bibi mengatakan kalau paman masih di Jepang. Tadi pagi, dia masih bertelponan dengannya.. jadi mungkin, Seo-ri salah lihat saja..


Kembali ke realita, Seo-ri kebingungan, “Jika itu benar-benar Paman, maka artinya dia membohongi kami...”


Woo-jin menelpon ayahnya, untuk mengabarkan perihal penundaan waktu penjualan rumah sekitar sebulan lamanya, “Ayah tidak usah khawatir. Mereka bilang akan menunggu..” jelasnya



Hee-soo dan Ji-hyun memerhatikan wajah Woo-jin yg terus gelisah, maka mereka bertanya: “Mister Gong! Mencemaskan apa? Menunggu sebulan untuk apa?”

“Aku tidak yakin. Kuharap tidak ada apa-apa, tapi kurasa ada sesuatu. Aku berharap tidak ada apa-apa...” jawabnya ambigu


“Kamu bisa menafsirkan perkataannya?” tanya Ji-hyun, maka Hee-so berkata: “Aku mengenal dia selama 10 tahun sejak kami di Jerman. Tapi... Aku masih tidak tahu apa-apa tentang dia...”



Ponsel Woo-jin berdering, ada notifikasi pengingat waktunya untuk Deok-gu minum suplemennya. Maka beergegas, dia pamit pulang sebentar.

“Aku sungguh ingin memecat bedebah itu, tapi dia terlalu baik dalam pekerjaannya...” komen Hee-soo



Sesampainya dirumah, Woo-jin melihat Deok-gu tengah asyik bermain dengan Seo-ri. Dia lalu menuangkan makanan serta suplemennya, tapi Deok-gu tak mau memakan atau bahan menyentuhnya sedikit pun. Malahan, Deok-gu tiba-tiba bersendawa tepat di depan wajahnya Woo-jin.


Seo-ri terkekeh, “Dia akhirnya mencerna makanannya! Fang tadi makan banyak makanan...” ujarnya

“Dia makan sangat sedikit. Berapa banyak dia makan?” tanya Woo-jin, maka Seoo-ri menyebutkan: “Dia makan dada ayam, tuna, paprika, mentimun dan leher bebek... Juga, dendeng sapi dan...”


“Cukup!” tukas Woo-jin yg kemudian berjalan menuju kamarnya dia tas. Tapi tak sengaja, kakinya tersandung oleh pot bunga yg tersimpan tepat di depan tangga. Dia marah, “Kenapa ini ada di sini?!” tanyanya


“Itu layu, jadi, kupindahkan. Saat aku tinggal di sini, ini tempat yang menghidupkan kembali tanaman. Sinar matahari paling banyak di sini dan jika kamu buka jendela, ventilasinya bagus. Ini titik emas...” jelas Seo-ri dengan bersemangat



“Biarkan saja di tempatnya semula. Ini menghalangi jalan” tukas Woo-jin dengan ketus

Maka dengan sangat terpaksa.. Seo-ri menggeser pot itu kebelakang. Setelahnya, dia lanjut bermain dengan Fang..



Ketika Woo-jin kembali pergi bekerja, Seo-ri bergegas menggeser pot-nya ke depan tangga. Eh bersamaan dengan itu, Woo-jin datang lagi karena kunci mobilnya ketinggalan.. Seo-ri harus menggeser pot itu kebelakang lagi..


Namun setelah memastikan Woo-jin benar-benar pergi, Seo-ri sengaja menggeser lagi pot itu ke depan tangga~~


Berjalan keluar, Wooo-jin nampak begitu kesal. dia menarik nafas dalam-dalam, untuk menenangkan diirnya sendiri sambil berkata: “Hffftt... hanya satu bulan..”
Advertisement

2 comments


EmoticonEmoticon