8/01/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 PART 2

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 Part 3

Sambil mengangkat kapalnya bersama-sama, kedua sahabat Chan mempertanyakan identitas Seo-ri, “Dia bilang tidak akan kembali ke rumah sakit.  Jelas. Dia pasien yang melarikan diri...”

“Saat pertama kita bertemu wanita itu, bukankah kita berpikir dia sedikit aneh?”



Mendengarnya emmbuat Chan kesal, “Cukup omong kosongnya. Cepat angkat perahu ini!” tukasnya


Ternyata sebelumnya, Chan sempat mengobrol dengan Seo-ri. Dia bertanya: “Kenapa rumah sakit mencarimu, ahjumma?”



“Aku dirawat di rumah sakit untuk waktu yang lama...” jawab Seo-ri, maka Chan memastikan: “Jadi.. kamu kehilangan kontan dengan pamanmu karena kamu sedang berada di  Rumah Sakit.. ”

“Ya, kira-kira seperti itu. Maaf, tapi jika rumah sakit datang mencariku lagi, katakan aku tidak di sini. Kumohon...” pintanya



Belakangan ini... Ri-an, si gadis yg sangat menyukai Chan tak lagi mengganggu Chan seperti biasanya. Ternyata, itu karena dia sibuk mencari cara, supaya penampilannya nampak berbeda. Dia sempat mencoba mengenakan wig, tapi temannya bilang.. penampilannya sama saja.


Seo-ri berniat memperbaiki violinnya. Namun ajusshi yg bekerja disana, menjelaskan bahwa kondisi violin itu sangat rusak, sehinga memerlukan waktu yg lama, serta biaya yg lumayan besar, yakni sekitar 2000 dollar.

Mendengar nominal itu, sontak membuat Seo-ri tercengang, “Aku akan kembali lain kali...” ucapnya


“Seberharga apa pun barang itu, jika diabaikan maka akan menjadi rongsokan. Baik alat musik, ataupun manusia...” ujar si ajusshi



Seo-ri berjalan pulang sembari terus memikirkan uang sejumlah 200o dolar. Tanpa disadari, dia masuk dan berbaring di kasurnya Woo-jin. Tapi kemudian dia ingat, “Aku hampir lupa. Ini bukan kamarku lagi...” ujarnya


Ketika Chan pulang, dia melihat Seo-ri yg tengah duduk jongkok di depan rumah. Ketika dihampiri, Seo-ri tiba-tiba menjerit kesakitan.

Chan sangat panik.. dia menwarkan diri untuk menggendongnya ke Rumah Sakit. Tapi kemudian, Seo-ri menjelaskan, kalau kakinya cuman kram saja..


Seo-ri meminjam laptopnya Chan untuk membuat CV. Dia berencana mencari pekerjaan untuk mendapat uang.. Chan membantunya, dengan mencarikan lowongan kerja sebagai guru les violin di daerah sini.

Dalam CV harus tertera kontak yg bisa dihubungi.. namun Seo-ri tak memiliki ponsel, “Ahjumma bisa menulis nomorku... Tapi, Aku tidak akan bisa menjawab saat latihan. Bagaimana ini?”


Eh tiba-tiba.. Jennifer lewat dan dia lansgung menyebutkan nomor ponselnya, “010 094 7418.. Itu nomorku...”, kemudian berjalan peri begitu saja

“Terima kasih, Jennifer!!!!” ucapp Seo-ri dengan girangnya



Chan melihat CV buatan Seo-ri yg nyatanya sangat kosong, tak ada banyak pengalaman yg tercantum disana, “Ahjumma, kamu pernah memenangkan hadiah di kompetisi?”

“Tidak. Kita seharusnya bermain sesuai lembaran musik di kompetisi, tapi aku cenderung berimprovisasi...” jawab Seo-ri


Lalu Chan melihat riwayat Seo-ri yg pernah diterima di Sekolah musik Berlin. Maka dengan antusias dia cerita, bahwa dirinya lahir di Jerman dan Woo-jin kuliah disana juga, “Jika kupikirkan lagi, kurasa aku pernah dengar sekolah ini. Apa ini dekat rumah kami?”

“Apa kamu kebetulan tinggal dekat Gendarmenmarkt? Tempat di mana Konzerthaus Berlin berada?”

“Aku tidak ingat nama-nama itu. Tapi kami tinggal dekat plaza yang sangat besar. Aku datang ke Korea saat usia 10, jadi, tidak ingat banyak...” jelasnya, yg kemudian ceita bahwa dia cuman ingat rumahnya di dekat restoran hot dog yg sangat enak..



Tak lama kemudian, Woo-jin pulang dan Seo-ri langsung berlari menghampirinya dan terus bertanya dan berbicara tentang Jerman: “Aku diterima di sekolah musik, jadi, aku hampir pergi ke Berlin. Kamu pernah menonton pertunjukan di Konzerthaus Berlin? Impianku adalah menonton konser di sana saat aku belajar di Berlin. Itu artinya kamu fasih berbahasa Jerman? Aku pernah belajar bahasa Jerman saat bersiap untuk belajar di sana. Aku seharusnya ke sana untuk memanfaatkan semua yang kupelajari. Omong-omong, kenapa kamu pergi ke Jerman? Kamu belajar di sana?”


Dari awal Woo-jin tak pernah dan tak ingin menjawabnya. Dia kesal dan merasa terganggu, “Memangnya kamu anak kecil? Aku tidak bereaksi karena aku mau kamu berhenti bicara. Kamu cukup tua untuk memahami itu. Apa sulit untukmu mengerti?!” bentaknya yg kemudian berkata: “Aku sangat berterima kasih kamu menyelamatkan nyawa Deok Gu. Tapi aku tetap ingin kamu menepati janji dan tinggal dengan tenang dalam kamar di bawah tangga...”



Chan memerhatikannya dari belakang, dia pun menghampiri Seo-ri, “Tidak usah dipikirkan..” ucapnya



“Aku pasti membuat kesalahan. Aku hanya gembira karena dia pernah tinggal di Jerman. Astaga, aku pasti mengganggu dia...” tutur Seo-ri

“Itu karena pamanku tidak suka bicara dengan siapa pun. Dahulu dia tidak seperti itu...” jelas Chan



Chan membuka pintu kamar Woo-jin, tapi ketika Woo-jin bertanya ada apa? Chan menjawab, “Aku hanya mau melihat wajah pamanku... Beristirahatlah...”


Sedikit flashback.. di masa lalu, Woo-jin terlihat begitu terpukul. Dia tak mau sekolah atau kemana pun, dia sengaja mengurung dirinya di kamar dalam kondisi yg terus-terusan menangis...


sdfsdfds

1 komentar

  1. Dear lovely admin. Tulis mata uangnya dengan WON donk. Kan Korea mata uangnya WON. Kalau Dollar rasanya gimanaaaaaa gitu. Hehe!

    BalasHapus


EmoticonEmoticon