8/01/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 PART 3

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 Part 1

Seo-ri pamit sekaligus memberitahu Jennifer bahwa dia akan pergi mencari kerja hari inni.


Maka Jennifer sengaja membawanya kedalam kamarnya dan menjelaskan: “Waktu, tempat, dan alasan (WTA). Berpakaian dengan layak adalah tata krama dasar saat kamu mencari pekerjaan...”



Membuka lemarinya yg dipenuhi atasan putih dan bawahan hitam, dia pun mempersilahkan Seo-ri untu memilih salah satu.

“Tapi semuanya tampak sama menurutku. Apa gunanya memilih?” ujar Seo-ri, lantas Jennifer menegaskan: “Tiap helai pakaian berbeda. Perbedaannya sangat halus...”



Setelah berganti pakaian, Seo-ri berjalan pergi dengan begitu anggun.. hingga secara tiba-tiba kakinya terpelintir dan dia hampir jatuh..



Tempat kerja yg pertama dia datangi, tak menerimanya. Alasannya karena Seo-ri tak cukup berpengalaman, selain itu.. dia hanya lulusan SMP. Tempat kerja berikutnya juga tak menerimanya, karena Seo-ri tak membawa alat musiknya sendiri.


Woo-jin tengah rapat bersama dengan Hee-soo dan Ji-hyun. Dalam waktu dekat, mereka akan terlibat dalam projek yg cukup besar, Hee-soo minta pendapat apakah mereka perlu menambah personil dalam tim-nya?



“Kamu yang putuskan...” jawab Woo-jin dengan cueknya

“Sudah kuduga kamu menjawab begitu” ujar Hee-so, yg kemudian mengingatkan, “Kita akan rapat singkat dengan staf festival nanti. Tidak jauh. Dekat dari sini...”

“Kita tidak akan membahas desain secara mendetail. Aku tidak perlu pergi, bukan?” ujar Woo-jin, lantas Hee-so menegaskan: “Kamu harus pergi. Jangan berani-berani memblokir nomor mereka lagi! Aku akan membuangmu lagi jika melakukan itu!”

“Jika kamu akan membuangku, buang aku ke Kroasia...” sahut Woo-jin



Ketika menunggu gilirannya di wawancara, Seo-ri melihat anak-anak yg sedang berlatih violin. Dia menghampiri mereka, lalu mengajarkan cara memegang busur yg mudah, yakni dengan membentuk jarinya seperti kelinci.. anak-anak mengikutinya dan mereka sangat senang dengannya.


Tiba saatnya wawancara.. tak butuh waktu lama, hingga pewawancara memutuskan bahwa Seo-ri tak bisa diterima. Lagi-lagi, alasannya karena dia dianggap kurang berkualifikasi.

Seo-ri memohon untuk diberi satu kesempatan saja, “Anda bisa melihat keterampilanku daripada kualifikasi? Aku yakin bisa mengajar dengan baik. Jika Anda mendengar permainanku, Anda akan berubah pikiran...”



Akhirnya, Seo-ri diberi sedikit waktu untuk menunjukkan kemapuannya bermain violin. Tapi sangat menyedihkan, karena kemampuannya tak sama seperti dulu..

“Aku bisa tahu kamu sudah lama tidak memainkannya. Kamu bukan orang yang kami cari..” ujar si pewawancara


Seo-ri berjalan pergi dengan begitu lesu, dia teringat perkataan ajusshi dari toko violin: ‘Seberharga apa pun barang itu, jika diabaikan maka akan menjadi rongsokan. Baik alat musik, ataupun manusia...’

Namun Seo-ri berusaha untuk tetap optimis, “Itu karena tanganku menjadi kaku. Aku hanya perlu berlatih. Tidak apa-apa...”



Di Rumah Sakit, Hyung-tae nampak begitu gelisah... jelas karena dia belum bisa menemukan keberadaannya Seo-ri. Dia pun meminta maaf kepada seniornya, karena dia tak lagi membutuhkan fasilitas perawatan untuk pasien jangka panjang.



Tiba-tiba.. dia mendengar ada seorang pasien wanita berusia sekitar 20-30 tahun. Maka bergegas, dia melihat pasien tersebut. Tapi ternyata, itu bukanlah Seo-ri..



Tim Woo-jin mengadakan rapat bersama dengan tim penyelenggara acara.. ketika semuanya fokus mendengarkan penjelaskan ketua, Woo-jin malah sibuk sendiri menggambar di bungkus kopinya.


Hingga datanglah violis Rin Kim, dia meminta maaf karena terlambat dengan alasan latihan. Woo-jin melihatnya, seolah dia mengenalnya (?)


Seo-ri melihat pengumuman lowongan pekerja paruh waktu di sebuah kafe. Dia pun segera pergi kesana untuk melamar kerja..


Setelah dijelaskan  sistem kerjanya, dia ditanya usianya berapa? Hampir Seo-ri menyebut 17, tapi kemudian dia menyebut 30 tahun.

“Kami hanya mempekerjakan orang di usia 20an tahun. Bos berusia 29, jadi, kami hanya mepekerjakan orang di bawah 29. Usiamu 30 tahun. Bagaimana bisa kamu tidak punya pengalaman kerja?” tuturnya


Sangat kebetulan, ternyata itu adalah lokasi rapatnya Woo-jin. Dan secara tak sengaja, Woo-jin melihat momen itu..



Seo-ri berjalan keluar dengan langkah yg begitu lesu.. dia melihat dua orang siswi yg tengah asyik bercengkrama, maka dalam benarknya dia bertanya-tanya: “Bagaimana dengan aku yang berusia 18 tahun? Bagaimana dengan aku yang berusia 20 tahun?”



Dalam khayalannya dia membayangkan, apa jadinya jika keccelakaan itu tak terjadi. Dia akan skolah di Jerman.. mewujudkan impiannya sebagai seorang violis ternama..


asdasd
Comments


EmoticonEmoticon