8/01/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 PART 1

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 5 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 Part 2


Seo-ri duduk melamun di bangku taman, dan kebetulan Chan lewat sana. Maka dia pun bergegas menghampirinya..


Setelah mendengar cerita dari Seo-ri, Chan berkkoemntar kesal: “Mereka buta? Mereka pikir mudah mendapatkan hak masuk ke sekolah musik Jerman di usia 17 tahun?!”


“Aku tidak berhasil karena kurang bagus. Jika menjadi mereka, Aku pun tidak akan memilih violis yang sudah lama tidak bermain...”



Seo-ri melihat telapan tangan Chan yg banyak bekas lukanya, maka Chan menjelaskan: “Semua tangan pedayung seperti ini. Mengerikan, bukan?”


Seo-ri menggeleng, “Aku iri...” ucapnya, “Dahulu, tanganku juga seperti itu. Tangan pemain violin juga hancur. Jemari kami seakan-akan melepuh dan ujungnya kapalan...”


“Ahjumma.. sebegitu parahnya kah kondisimu sampai harus bermain violin?” tanya Chan


“Ya, sepertinya begitu. Aku koma, jadi, ingatanku hilang. Aku mengalami kecelakaan 13 tahun lalu. Itu sebabnya aku masih merasa seakan-akan berusia 17 tahun. Tapi hari ini, aku sadar aku berusia 30 tahun. Aku wanita usia 30 tahun yang aneh yang tidak tahu apa-apa...” jelas Seo-ri



Berniat menghibur, Chan mengatakan: “Menurutku, 30 tahun tidaklah setua itu lagi. Jangan patah semangat dahulu. Hari-hari yang baik akan tiba selama Bibi terus berusaha. Jadi... Jadi...”

Tapi Chan kesulitan mencari kata yg pas, karena Bahasa Korea-nya masih sangat kacau. Intinya, dia ingin meminta Seo-ri untuk terus bersemangat!


“Terimakasih..” ucap Seo-ri dengan intonasi lirih


Chan berdiri: “Astaga, jangan terus seperti ini. Kita sedang merasa sedih, jadi, kita butuh makanan pedas!” ajaknya dengan semangat. Dan ternayta, Seo-ri pun, sangat suka makanan pedas.. alhasil, dalam waktu sekejap dia seakan telah melupakan kesedihannya.


Woo-jin pulang, ketika Jennifer hendak pergi ke pasar “Tukang daging menyembelih sapi hari ini, jadi, aku akan keluar untuk membeli daging. Adakah jenis daging tertentu yang Anda inginkan?” tanyanya


“Tidak sama sekali...” jawab Woo-jin dengan ketusnya



Kurir datang, dia pun menyerahkan setumpuk paket yg dikirm ke alamatnya Woo-jin. Terpaksa, Woo-jin sendirian mengangkutnya ke dalam. Namun menyedihkan, karena dari sekian banyak dus, tak ada paket untuknya dan hanya ada paket untuk Chan atau kedua sahabatnya, “Kenapa mereka mengirimkan paket ke rumahku?” keluhnya


Berjalan menuju kamarnya.. lagi-lagi Woo-jin dibuat kesal karena kakinya tersandung pot di depan tangga.




Bel berbunyi.. ketika diperiksa, ternyata pengantar makanan,, Woo-jin heran, dia rasa dia tak memesan apa pun. Tapi kemudian, datanglah dua sahabat Chan yg mengatakan bahwa mereka yg memesannya.

“Kenapa kalian memesan makanan di sini? Dimana Chan?”


“Dia akan segera pulang karena bilang begitu...”



Mereka mengajak Woo-jin makan bersamanya, namun Woo-jin menolak memilih untuk segera berjalan memasuki kamarnya. Sebelum itu, tak lupa mereka berterimakasih karena Woo-jin telah bersedia membawakan paket mereka.



Beberapa saat berlalu.. Woo-jin sibuk menyelesaikan kerjaannya di dalam kamar. Tiba-tiba.. Hae-bum datang, menawarinya makanan China yg baru saja mereka pesan. Woo-jin menolak.. maka dia pun pergi., tapi kemudian datang lagi untuk menawarkan makanan yg lainnya dan hal itu sangat mengganggu konsentrasinya Woo-jin.




Lantas, Woo-jin mengunci kamarnya.. eh tapi tak lama kemudian, Deok-su datang dan bisa membuka pintunya dengan gampang, membuat Woo-jin kesal sekaligus heran, “Apa? Bagaimana kamu membukanya?”

“Pintunya terbuka begitu saja. Kenapa Chan belum pulang?”


“Kamu mungkin akan tahu jika meneleponnya...”


Hendak melanjutkan kerjaannya, tapi fokus Woo-jin sudah terpecah parah.. akhirnya, dia pergi ke toilet untuk cuci muka. Tapi mendadak, Deok-su masuk. Spontan Woo-jin berkata: “Aku tidak mau makan!”




“Bukan itu. Aku sudah kebelet. Boleh buang air kecil di sini?” tanya Deok-su

“Kenapa buang air kecil di sini? Gunakan toilet lainnya!” tukas Woo-jin


“Hae Bum sedang mandi busa di kamar mandi yang satunya...” jelas Deok-su. Akhirnya terpaksa Woo-jin keluar, sambil mengeluh: “Kenapa dia mandi busa di rumahku? Aku hanya ingin hidup dengan damai...”


Keesokan paginya.. tiba-tiba terdengar suara jeritan yg lumayan keras. Woo-jin serta Chan, bergegas mengambil senjata lalu turun kebawah untuk memeriksa apa yg terjadi..


Ternyata, itu hanyalah jeritan Seo-ri yg kegirangan karena menerima telpon dari tempat les violin yg menerimanya sebagai guru pengganti selama dua sampai tiga minggu, karena guru yg harusnya mengajar mengidap usus buntu dan anak-anak terus menanyakan bu guru kelinci..



Chan ikut gembira menednegarnya, dia pun melompat kegirangan bersama dengan Seo-ri. Tak lama kemudian, Deok-du san Hae-bum datang, “Ada apa? Kenapa mereka melompat?” tanyanya yg kemudian ikutan melompat juga


Ketika Jennifer tengah serius membuat adonan mie, Seo-ri menghampirinya dan meminta sedikit adonan..


Di malam hari, tepatnya sekitar pukul 2 pagi. Woo-jin turun untuk mengambil air minum.. dan tak sengaja, dia mendengar Seo-ri yg masih berlatih untuk menganjar...

Comments


EmoticonEmoticon