8/01/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 PART 2

SINOPSIS Still 17 Episode 6 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 Part 3


Esok pagi, sebelum berangkat sekolah Chan sempat menyapa Seo-ri yg begitu semangat, “Hari ini hari pertama Bibi, bukan?”

“Ya, aku harus tiba di sana sebelum pukul 16.00. Tapi karena kini harus berangkat, aku menjadi agak gugup...”

“Ayolah. Jangan lemah. Bibi gugup karena terlalu banyak pikiran. Lakukan saja sesuai perasaan Bibi. ‘Don’t think! Feel!‘, oke..”



Chan melihat adonan yg digenggan So-ri, dia pun bertanya: “Itu untuk apa??”, maka Seo-ri menjelaskan: “Aku melatih tanganku agar tidak kaku...”


Tak lama kemudian datanglah dua sahabat Chan, mereka pun tahu kalau ini hari pertamanya bekerja.. maka mereka memberinya semangat juga.


Memerhatikan sikap riang Seo-ri, Chan lantas berkomentar pelan: “Kurasa dia benar-benar 17 tahun...”



Sebelum berangkat sekolah, merkea pamitan pada Woo-jin, “Sampai jumpa nanti siang, paman...”

“Aku tidak mau bertemu dengan kalian lagi...” sahut Woo-jin pelan



Seo-ri mengunjungi toko violin itu lagi, dia sangat yakin bisa membayar biaya perbaikan dengan gaji yg diterimanya nanti.



Woo-jin menyeduh kopi, sambil mempelajari dokumen kerjaannya. Tak sengaja, dia menduduki ponsel Jennifer yg tergeletak di meja.. dan kebetulan dia menggeser tombol untuk menerima panggilan masuk.


Woo-jin sempat kaget mengira ada suara ‘ghaib’ disekitarnya, tapi kemudian dia melihat ponsel itu dan lasngung mengangkatnya.

Ternyata.. itu merupakan telpon dari tempat kerja Seo-ri yg menjelsakan, “Para orang tua tidak setuju untuk mempekerjakan dia meski anak-anak mereka masih TK karena dia bukan jurusan violin. Jadi, tolong sampaikan dia tidak perlu datang...”

“Tapi begini, ini tidak ada hubungannya denganku. Jadi, kurasa kamu sebaiknya menelepon dia lagi...” ujar Woo-jin, tapi panggilannya terputus begtitu saja



Woo-jin bingung, dia menatap Deok-gu lalu bertanya: “Kemana perginya wanita itu, tanpa memabwa ponselnya?”


Saat ini, Jennifer tengah berbelanja di supermarket.. dia hendak membeli kentang, namun ajaibnya. Dia bisa mengetahui berat pasti kentangnya hanya dengan menggunakan tangan kosong. Maka dia protes pada salah seorang penjaga, “Beratnya kurang 124 gram.”

“Apa? Aku cukup yakin telah memasukkan jumlah yang tepat...” ujarnya, tapi melihat ekspresi Jennifer yg ‘tegas’, membuatnya lantas menawarkan untuk menambah satu kentang.



Bahkan untuk memilih kentang tambahan, Jennifer tahu pasti mana kentang yg beratnya pas.. dan hal itu berhasil dibuktikan dengan timbangan (wahh.. mbak ini makhluk apa?)



Woo-jin hendak menulis catatan untuk Seo-ri, namun belum sempat dia menyelesaikan tulisannya.. ada telpon masuk dari Hee-soo yg memberitahukan bahwa rapat mereka dimulai 30 menit lebih awal.


Maka bergegas, Woo-jin buru-buru berangkat dan lupa menyelsaikan catatanya begitu saja..


Sesaat kemudian, Seo-ri pulang.. dia meliaht catatan itu, dan bertanya-tanya maksudnya apa? Namun dia tak berpikiran negatif, dan menganggapnya sebagai catatan biasa saja..




Di kantornya, Woo-jin sibuk bekerja. Hingga kemudian, Ji-hyun menerima telpon dari seseorang yg menitipkan pesan untuk Hee-so. Spontan, Woo-jin teringat pesan yg tak sempat dia beritahukan pada Seo-ri...



Dia mulai gelisah, inginnya acuh saja.. lagipula nanti Seo-ri akan mengetahui hal itu ketika datang ke tempat kerja. Tapi kemudian, Woo-jin teringat.. betapa kerasnya, Seo-ri berlatih semalaman.. serta betapa senangnya dia bisa bekerja disana.


Akhhirnya Woo-jin tak bisa diam saja.. dia melihat jam masih menunjukkan pukul 3 lebih, sementara Seo-ri tahunya dia bekerja pukul 4 sore. Maka bergegas dia meninggalkan pekerjaannya untuk mengejar Seo-ri..



Ketika melihatnya tengah berjalan, Woo-jin bingung: “Itu dia. Astaga, bagaimana ini?”

Seo-ri melihatnya maka dia pun menghampirinya. Namun Woo-jin bingung harus bilang apa, akhirnya dia menyuruh Seo-ri untuk masuk ke mobilnya.



Dalam perjalanan, Woo-jin sangat sulit untuk menyampaikan pesan itu. Apalagi, ketika Seo-ri menunjukkan catatan yg ditulisnya, dan menduga itu buatan Chan untuk menyemangatinya.


Seo-ri terus berbicara, hingga Woo-jin tak punya kesesmpatan untuk menjelaskan yg sebenarnya.

“Kamu tahu kenapa aku sangat senang mendapatkan pekerjaan? Ibuku memberiku violinnya sebelum meninggal. Dan kini aku bisa memperbaiki violin berharga itu. Sejujurnya, aku selama ini kecewa karena merasa tidak berguna. Tapi karena tahu bahwa seseorang membutuhkan bantuanku, aku menjadi sangat berenergi dan bersemangat...” paparnya dengan sangat antusias


Hingga akhirnya mereka sampai di dekat lokasi tempat Seo-rin hendak mengajar violin. Dia pun pamit dan turun dari mobil, meninggalkan Woo-jin yg masih belum sempat menyampaikan pesannya~~~
Comments


EmoticonEmoticon