8/02/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 7 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Still 17 Episode 7 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 6 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 7 Part 2

Meski Woo-jin memohon dengan amat sangat, namun Seo-ri tetap berlari pergi mencari pamannya. Kali ini lampu penyebrangan berubah menjadi hijau, maka Seo-ri tak menerobos jalanan seperti sebelumnya..


Dari kejauhan, nampak seorang ajusshi yg perawakannya sangat mirip dengan sang paman. Maka Seo-ri berusaha mengejarnya secepat yg dia bisa. Namun stelah beberapa saat, akhirnya dia kehilangan jejak ajusshi itu..


Seo-ri sangat bersedih, dia pun tak kuasa menahan tangisnya. Dia kembali menghampiri Woo-jin, lalu memarahinya, “Karena kamu, aku kehilangan pamanku! Kamu bilang tidak akan memedulikan aku lagi. Tapi kenapa kamu peduli? Andai kamu tidak menghentikan aku, aku pasti sudah menemukan pamanku dan rumahku lagi!!! Semua ini salahmu!!!!” 


Wajah Woo-jin tampak begitu pecat, dengan suara yg gemetar dia bertanya: “Bagaimana jika kamu mati?”

Seo-ri menyuruh Woo-jin untuk pergi tanpa dirinya, “Aku akan mencari pamanku di sekitar sini!” ujarnya ketus


Insiden barusan, benar-benar membuat pikiran Woo-jin jadi kacau. Ketika  tengah rapat di kantornya, dia tak fokus dengan apa yg dibahas oleh rekan-rekannya. Yg lain menyadari hal itu, maka mereka bertanya ada apa?

“Tidak-k ada apa-apa..” jawab Woo-jin

“Kita akan membicarakan apa yang terjadi besok. Kurasa itu akan lebih baik...” ujar Hee-soo


Woo-jin bersiap pergi,, dan tanpa dia sadari dia hendak mengenakan blazer warna pink miliknya Hee-soo. Tingkahnya itu, membuat yg lain makin meyakini bahwa ada sesuatu.

“Apa? Kamu suka itu? Kamu menginginkannya?” sindir Hee-so

“Ini kepunyaanmu. Kurasa aku menginginkannya karena cantik” ucap Woo-jin dengan espresi yg sangat datar

“Dia menganggapnya bercanda, tapi tidak lucu sama sekali. Dia selalu aneh, tapi dia lebih aneh hari ini...” komen Ji-hyun


Dalam perjalanan pulang, Woo-jin melihat Seo-ri yg masih duduk sendiiran di pinggri jalanan. Tapi dia memilih untuk melewatkannya begitu saja.


Ketika Woo-jin pulang, Chan lansgung menghampirinya dan bertanya tentang Seo-ri, “Ahjumma itu kemana? Kudengar Paman kembali dan meninggalkan Deok Gu di rumah. Kenapa Ahjumma tidak ikut pulang? Paman tahu dia ke mana?”


“Entahlah. Paman tidak mau tahu. Paman enggan berurusan lagi dengannya...” jawab Woo-jin dengan ketusnya

“Astaga. Paman manusia atau kulkas? Kenapa Paman dingin sekali? Aku tahu Paman tidak suka terjerat dengan orang lain, tapi karena dia akan tinggal dengan kita...” keluh Chan

“Astaga.. sebenarnya.. aku ingin menarik kata-kata itu kembali. Tapi ya sudahlah..  Lagipula Dia sudah dewasa. Tak usah mencemaskan dia..” tutur Woo-jin


“Aku tidak akan khawatir jika dia orang dewasa biasa...” gumam Chan


Woo-jin menghampiri Deok-gu, mengingat insiden tadi Siang dia pun berkata: “Kamu tadi ketakutan, bukan? Maafkan aku. Ini sebabnya aku enggan mengizinkan dia tinggal...”


Ponsel Woo-jin berdering, ada telpon dari tim festival jazz yg bertanya apakah e-mail nya sudah masuk?

“Aku hendak meneleponmu soal itu. Aku belum menerimanya. Mungkin alamat e-maol yang kamu dapatkan salah. Atau mungkin ada kesalahan dengan berkasnya. Tolong kirimkan kepadaku lagi...” pintanya


Seo-ri akhirnya pulang, dalam kondisi lusuh serta langkah yg begitu lunglai. Chan yg telah menunggunya di depan rumah, langsung bertanya: “Ahjumma!!!! Kemana saja tanpa mengebariku??? Kamu sudah makan?? Apa kamu sakit???”

“Aku bisa minta segelas air sebelum bicara?” pinta Seo-ri


Chan menuangkan segelas air putih, sambil terus menggerutu cemas, “Aku harus menunggu lama sekali sampai bibi pulang. Ini sebabnya Bibi butuh ponsel. Lain kali, tinggalkan pesan sebelum pergi...”

“Aku melihat pamanku. Tapi aku kehilangan dia. Aku yakin itu dia. Jika aku lari mengejar dia sedikit lebih cepat, aku pasti sudah bertemu dengannya...” jelas Seo-ri dan kebetulan Woo-jin lewat untuk mengambil sesuatu di dapur


“Bagaimana ini? Setidaknya dia tampaknya dekat. Bibi akan segera menemukan dia...” komen Chan

Lantas, Seo-ri bertanya: “Aku boleh pinjam kertas dan selotip?”

“Tentu. Tidak masalah...” jawab Chan, kemudian Seo-ri bergegas jalan menuju kamarnya, bahkan tanpa sempat meminum air di gelasnya.


Chan menyadari situasi aneh diantara Woo-jin dan Seo-ri, maka dia langsung bertanya pada Woo-jin: “Terjadi sesuatu di antara kalian sepulangnya dari dokter hewan? Katanya dia melihat pamannya di dekat sini, tapi kehilangan dia. Dia menemukannya lebih cepat daripada yang kukira, jadi, kurasa kurang dari satu bulan, dia akan pindah. Karena itu, bersikap baiklah kepadanya saat dia di sini, ya?”


Woo-jin enggan berbicara, wajahnya pun terus menunjukkan ekspresi datar. Alhasil, Chan senagaj menarik ujung bibinya, sambil berkata: “Ayolah. Senyumlah sedikit. Paman yang sangat tampan...”


Masuk ke kamarnya, Woo-jin langsung mencari data tentang dokter Yoo Jung-sun. Sepertinya, beliau merupakan psikiater yg mengobatinya selama tinggal di Jerman,


Inisden siang tadi, nampaknya menjadi pemicu yg membuatnya teringat pada momen menyakitkan itu lagi. Telinganya serasa berdenging.. namun dia teringat perkataan dokter Yoo, yg berpesan: “Akan lebih baik jika kita tidak pernah bertemu lagi...” (maksudnya, jangan sakit lagi) 
Advertisement


EmoticonEmoticon