8/02/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 8 PART 2

Advertisement
SINOPSIS Still 17 Episode 8 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 8 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 8 Part 3

Kebiasaan aneh Woo-jin kumat lagi.. dia sibuk mengukur kursi, kebetulan disebelahnya ada seorang wanita yg mengenakan rok mini. Wanita itu marah, mengira Woo-jin adalah pria cabul..

Pacar wanita itu langsung menegur Woo-jin, tetapi Woo-jin mengacuhkannya seolah dia tak mendengarnya karena di telinganya memang terpasang headset.


Hingga muncullah Seo-ri yg langsung berusaha untuk mnejelaskan,, “Anda salah paham. Dia bukan orang mesum. Aku bisa memahami kalian. Sekilas, dia seperti orang sinting. Maksudku, orang gila. Aku menganggapnya bedebah mesum saat kali pertama bertemu... Kukira dia mesum, tapi dia hanya terobsesi dengan pekerjaan. Itu penyakit profesi...”


Seo-ri meminta Woo-jin menunjukkan meterannya, tapi Woo-jin diam saja. Akhirnya Soo-ri merebutnya lalu dia perlihatkan, “Dia mengukur apa pun, lalu menjadikannya miniatur. Itulah pekerjaannya. Maaf jika kalian tersinggung. Izinkan aku meminta maaf atas namanya...” jelasnya


Tanpa mengatakan apa pun, Woo-jin lantas pergi. Seo-ri mengejarnya dan tak sengaja, dia menarik kabal headset itu, yg ternyata tak dicolok kemana pun.


Seo-ri mendesah heran, “Kamu harus menjelaskan saat hal semacam ini terjadi. Orang akan salah paham jika kamu pergi tanpa penjelasan. Tidak bisakah kamu berhenti mengukur benda di pinggir jalan?” keluhnya yg membuat Woo-jin berkata: “Kenapa kamu ikut campur? Ini bukan urusanmu”

“Mana mungkin aku harus diam saja!” tukas Seo-ri, “Haruskah aku menyimpulkan kamu dianggap sebagai mesum lagi dan akan dipukuli? Aku harus masa bodoh, padahal aku menyadarinya?” cecarnya


Woo-jin bersikap sangat acuh, dan itu membuat Seor-i makin kesal: “Tidakkah itu mengganggumu jika mengabaikan hal semacam itu?”

“Tidak sama sekali. Aku benci orang-orang yang terlibat dalam urusanku dan aku juga benci terlibat dalam urusan orang lain!” tutur Woo-jin

“Tapi bagaimanapun... Aku sangat paham bahwa niat baik tidak selalu membuahkan hasil yang baik. Itu sebabnya kamu tidak menyadari hal yang seharusnya kamu sadari. Kamu mengabaikan orang lain, padahal mereka tulus meminta maaf. Kamu bahkan tidak sadar bahwa Chan sangat khawatir. Kamu menutup perasaan dan matamu, lalu mengabaikan segalanya!” papar Seo-ri dengan begitu emosional


“Bukankah sudah kukatakan kepadamu? Jangan menafsirkan segala sesuatu seenaknya. Pikirmu kamu siapa berhak menilaiku? Kamu tahu apa soal diriku sampai mengatakan hal semacam itu?”


“Kamu benar, aku tidak tahu! Tapi yang pasti aku tahu satu hal. Daripada memarahi orang karena ikut campur dan bilang tidak tahu apa pun tentang dirimu, sedikit rasa terima kasih saja sudah cukup baik. Kukira kamu hanya gemar menyingkirkan hal yang terlihat, tapi kamu juga menyingkirkan perasaanmu. Kukira akulah satu-satunya orang dewasa yang aneh, tapi ternyata kamu yang paling aneh...”


Seo-ri berjalan pergi.. namun beberapa langkah kemudian, dia menyesal dengan ocehannya barusan, “Aku sudah gila, ya? Apa yang kukatakan tadi? Aku tidak pantas berkata seperti itu...”


Ketika kembali ke kantornya, Woo-jin melihat Chan yg telah duduk menunggunya dengan membawa beberapa bungkus daging untuk dinikmati bersama-sama.


Mereka membakarnya di rooftop. Chan sangat bersemangat dan bertingkah seolah dia adalah ‘paman’ disini. Dia membakarkan daging, lalu menyuapi Woo-jin.


Seusai makan, mereka menikmati segelas coklat hangat sembari melihat indahnya pemandangan kota di malam hari. Suasana terasa begitu serius ketika Chan mengatakan: “Aku tahu.. Paman tidak suka ada yang mencampuri urusan Paman, tapi bisakah Paman berhenti hidup seperti itu? Aku tahu Mister Gong butuh waktu seperti ini, tapi tidak bisakah Paman pulang demi aku..”

Tanpa sempat mendengar jawab dari Woo-jin, Chan bergegas pamit: “Astaga. Aku sebaiknya pergi. Chick Junior akan menangisiku semalaman. Selamat istirahat...”


Woo-jin hendak mengantarnya, tetapi Chan menolak, dengan alasan kakinya cukup kuat untuk berjalan.


Turun ke ruang kerjanya, Woo-jin lagi-lagi ditelpon pihak menyelenggara festival untuk bertanya apakah e-mail sudah masuk? Dan lagi-lagi.. Woo-jin menjawab belum.

Setelah diperiksa, ternyata e-mail itu masuk ke folder spam. Seketika Woo-jin teringat perkataan Seo-ri kepadanya: ‘Kamu tidak menyadari hal yang seharusnya kamu sadari...’


Ada sms masuk dari Chan: ‘Aku meninggalkan foto di meja Paman jika Paman lupa cara untuk senyum. Pelajari lebih dekat..’


Woo-jin melihatnya dan itu adalah foto mereka semasa kecil..


Berbekal sedikit uang dimilikinya, serta brosur sewa kamar yg dia ambil dari jalanan.. Se-ri berniat keluar dari rumah ini. Dia pun menuliskan secarik pesan untuk Woo-jin..


‘Maafkan aku atas ucapanku, padahal aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Aku seharusnya berterima kasih, bukannya menyalahkanmu. Aku merasa menyesal telah menyalahkanmu saat itu. Aku tahu cara bicaramu seakan-akan tidak peduli, tapi aku tahu kamu sebenarnya orang yang sangat baik. Aku sungguh bisa melihat itu. Terima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku...’ tulisnya yg kemudian menyelipkan catatan keecil: ‘Kamu bisa menggunakan ini untuk jendela di atap itu’


Selain secarik kertas, Seo-ri juga meninggalkan sebuah kresek berisi benda mistserius yg dia ikat dengan pita...


Keesokan paginya.. ketika Seo-ri tengah bermain-main dengan Deok-gu, tiba-tiba Woo-jin pulang. Dia menuangkan makanan anjing, lalu memberitahu Seor-i: “Taburkan bubuk jeruk saat kamu memberinya makan mulai sekarang. Itu akan membantu pencernaannya...”


Seo-ri tertegun kaget, sementara Woo-jin lanjut berjalan menuju kamarnya. Dia sempat menyapa Jennifer, berterimakasih atas masakannya yg lezat, tapi porsinya terlalu banyak..


Chan yg baru keluar kamar, sangat girang melihat Woo-jin. Dengan manjanya, dia bertingkah seperti anak-anak: “Kecup pipiku. Tidak masalah ada ludahnya. Ayolah...” ujarnya, tapi Woo-jin bilang: “Kurasa kamu sebaiknya mandi dahulu...”

“Aku dapat rekor baru kemarin dengan selisih dua detik. Paman bangga kepadaku, bukan? Ayo kecup pipiku...” rengeknya
Advertisement

1 comments:

Suka banget sama interaksi chan dan woo jin. . 😍😍


EmoticonEmoticon