8/02/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 8 PART 3

Advertisement
SINOPSIS Still 17 Episode 8 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 8 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 9 Part 1

Seo-ri merenung, mengingat kembali perkataan Woo-jin, terutama ketika dia mengucapkan kata ‘mulai sekarang’. Sejenak termenung, tapi kemudian dia terperanjat... mengingat catatannya yg tertinggal di meja kamarnya Woo-jin.


Woo-jin lebih dulu melihat kresek hitam yg isinya sebuah alat penyet WC. Dia bingung, itu dari siapa dan untuk apa?


Tepat ketika Woo-jin hendak melihat isi catatan yg tertempel di mejanya, Seo-ri masuk dan lasngung mengambilnya kemudian memasukkan itu kedalam mulutnya.

“Kenapa kamu memakan kertas?”

“Aku terlahir di tahun kambing...”

“Tidak ada hal semacam itu di tahun kambing...”


Mengalihkan topik, Seo-ri membahas alat penyedot WC, “Aku memberikan penyedot itu sebagai hadiah. Aku merasa berterima kasih dan ingin meminta maaf...”

“Bukan hal umum memberi seseorang penyedot karena kita berterima kasih dan ingin meminta maaf. Kamu memanggilku ‘Ajusshi ee’ dan memberiku penyedot. Kamu menganggapku orang macam apa?”

“Aku memberimu itu agar kamu bisa membuka jendela itu!”

“Atap surya itu? Jendela itu tidak bisa dibuka. Itu hanya untuk sinar matahari...”

“Sudah kuduga kamu tidak tahu. Ini adalah kamarku sampai 13 tahun lalu. Jendela itu bisa dibuka...”


Jadi kala itu.. pegangan jendelanya lepas. Seo-ri mengeluh, meminta sang ayah untuk membetulkannya.


Kemudian, ayah menggunakkan alat penyedot WC untuk menggeser jendelanya.. dan ajaib, karena hal itu berhasil..


Kembali ke masa kini.. Seo-ri membuktikan ucapannya pada Woo-jin. Dia berhasil membuka jendela itu, hingga mencoba menghirup angin segar diatas lewat sana, “Benar, bukan? Kubilang bisa dibuka. Cepatlah kemari. Ayo.”

“Tidak usah. Kini aku sudah tahu bagaimana caranya...”


Seo-ri pamit pergi.. tapi kemudian dia kembali untuk memberitahukan sesuatu. Dan tak sengaja, dia malah mellihat Woo-jin yg tengah kesulitan mencoba untuk membuka jendela itu..


“Astaga, bukan seperti itu caranya. Kamu harus memegangnya seperti ini...” ujar Seo-ri sambil mempraktekannya.


Selah berhasil dibuka, Seo-ri mengatakan: “Aku mungkin membantumu kali ini, tapi lain kali, kamu harus melakukannya sendiri. Jangan untuk memegangnya dengan sudut ini. Tapi pasti kamu harus berlatih beberapa kali...”


Woo-jin mendengarnya dengan saksama, lalu diam-diam dia menatap Seo-ri dan tersenyum ke arahnya,,


Ketika hendak melepaskan alat penyedot itu, Seo-ri malah terjatuh. Untunglah Woo-jin berhasil menangkapnya di waktu yg tepat.. untuk beberapa saat mereka diam di posisi itu dan wajahnya sangat berdekatan..


Dengan sangat kikuk, Seo-ri berjalan pergi sambil mengatakan kalau Jennifer menyuruh Woo-jin turun untuk saran bersama..

“Baiklah, aku akan turun setelah berganti pakaian. Terima kasih telah mengajariku cara membuka jendelanya...” tutur Woo-jin 


Woo-jin berteponan dengan ayahnya, yg bertanya tentang perpanjangan waktu satu bulan untuk menjual rumah, “Kamu baik-baik saja? apakah ada sesuatu?”

“Semuanya baik-baik saja kok. Omong-omong, kapan Ayah membeli rumah ini?”

“Ayah membelinya dua tahun setelah kamu pergi ke Jerman. Berarti 11 tahun lalu. Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Ayah beli 11 tahun lalu, bukan? Bukan 13 tahun lalu? Pernahkah Ayah bertemu dengan pemilik Deok Gu sebelumnya?”

“Tentu saja belum pernah. Mereka menjual rumah itu dengan terburu-buru. Ayah hanya bicara dengan makelarnya saat membeli rumah itu. Itu sebabnya kita bisa membelinya dengan harga yang murah”

“Begitu rupanya...”

“Kamu mau menanganinya sendiri? Apa semua sungguh akan baik-baik saja setelah sebulan? Kamu sungguh baik-baik saja?”

“Aku akan berusaha baik-baik saja. Baiklah. Sampai nanti, Ayah”


Woo-jin turun untuk sarapan bersama dengan yg lainnya. Dia disambut sangat hangat.. terutama oleh kedua sahabat Chan yg tingkahnay sanat kocak, hingga menyulut gelak tawa di meja makan.


Sekilas, Woo-jin melirik Seo-ri. Dia teringat perkataannya yg bilang, bahwa dia tinggal di kamarnya setidaknya hingga 13 tahun yg lalu.. sementara sang ayah membeli rumah ini 11 yg lalu, “Kalau begitu, apa yang terjadi selama 2 tahun itu?” gumamnya penasaran


Seo-ri juga melirik Woo-jin, dia teringat perkataannya saat insiden hari itu yg sangat mengkhawatirkan jika Seo-ri mati. Maka dalam benarknya dia bertanya-tanya: “Kenapa dia mengatakan itu?”


Deok-gu terus menggonggong, maka Woo-jin menghampirinya yg kini tengah ada di depan jendela.


Seakan menyadari ada sesuatu yg janggal, Woo-jin sempat melirik keluar.. dan nyatanya, di depan gerbang, memang ada seorang wanita berpakaian serba kuning, yg sebelumnya tengah mengawasi Jennifer dan Seo-ri..


Advertisement

3 comments

Gx sabar nunggu ep minggu depan tambah seru ajh nihh drama :), Sinopsis Drama yg peding donk plissss plissss :(, di tunggu sinopsis2 selanjut nyaa ;)

penasaran jadinya... Semangat ounni 😘😘. Lanjut terus sinopsisnya ya.. Kamsahamida 🤗🙏🙏

Lanjuttttttt minnnnn


EmoticonEmoticon