8/08/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 9 PART 1

Advertisement
Advertisement
SINOPSIS Still 17 Episode 9 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 8 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 9 Part 2

Saat Woo-jin tengah fokus menggambar, tiba-tiba jatuh sehelai daun di kertasnya. Melihat ke atas, ternyata jendela atap belum dia tutup.. dia pun mengambil daun itu, lalu tersenyum karenanya.


Mendadak, terdengar suara rintihan seorang wanita di lantai bawah. Bersama-sama, Woo-jin dan Chan turun untuk memeriksanya. Mereka sempat terperanjat kaget, meliaht sosok Jennifer yg telah berdiri tegap mengenakan gaun tidur yg warnanya serba putih..

“Suara ini.. Kurasa datangnya dari kamar di bawah tangga...” ungkap Jennifer dengan intonasi yg begitu datar

“Astaga. Dia pasti menangis lagi karena merindukan keluarganya...” komen Chan


Tapi kemudian, pintu kamar Seo-ri terbuka dan menggelinding sesuatu berbentuk bulat. Dengan tertarih, Seo-ti berjalan keluar sambil terisak dan berteriak mengeluhkan kondisi matanya..

Panik, Chan bertanya: “Mata Bibi kenapa? Sakit? Bibi tidak bisa buka mata? Bibi tidak bisa melihat?”

“Mataku pedih...” ucap Seo-ri yg bergegas lari menuju toilet


Woo-jin mengambil benda yg menggelinding dari kamar Seo-ri dan ternyata, itu adalah bawang bombay. Ketika diperiksa, ternyata memang banyak sekali bawang di dalam kamarnya...


Sesaat kemudian, mereka berkumpul di ruang tengah, sementara Seo-ri mengompres matanya. Ternyata, mengupas bawang adalah pekerjaan paruh waktu yg dilakukan Seo-ri..

“Kenapa memotong bawang bombai padahal ada pekerjaan lain?” tanya Chan


“Butuh pengalaman kerja untuk sebagian besar pekerjaan. Aku perlu segera memperbaiki violinku. Jika aku tidak bisa segera menemukan pamanku... Pokoknya, aku harus cepat mendapatkan uang. Aku tidak bisa pilih-pilih...” papar Seo-ri

“Kenapa kamu berdiri di situ?” tanya Woo-jin pada Jenni, tapi Seo-ri menganggap pertanyaan itu untuknya, “Apa? Aku duduk kok..” ujarnya


“Bukan kamu, tapi Jennifer!” tegasnya, lantas Jennifer memaparkan: “Jika anjing makan bawang bombai, alil propoil disulfida bisa menyebabkan anemia. Kukira lebih baik jika tetap jauh, jadi, aku kira-kira lima langkah jauhnya...”

“Deok Gu benci bau bawang bombai dan tidak akan mendekat.  Dia tidak akan memakannya, jadi, tidak usah khawatir..” tukas Woo-jin


Seo-ri meminta maaf karena telah membangunkan semuanya, “Kalian bisa tidur lagi, aku baik-baik saja kok...” ujarnya, lantas Woo-jin berkomentar: “Kamu tidak tampak baik-baik saja. Mencari udara segar akan membantumu. Aku punya pengalaman dipukul dengan daun bawang...”


“Paman dipukul dengan daun bawang? Siapa memukul Paman?” tanya Chan, membuat Jennifer buru-buru pamit masuk ke kamarnya untuk istirahat.


Menuruti saran dari Woo-jin, Seo-ri berdiri di depan rumah.. lalu Chan menghampirinya dan memanggilnya, spontan Seo-ri berbalik dan posisi wajah mereka menjadi sangat berdekatan, membuat Chan jadi sangat gugup..


“Bibi merasa lebih baik? Coba kulihat...”

“Aku sudah tampak lebih baik, bukan?”

“Benar. Merahnya.. hilang..”


Seo-ri menatap bulan menggunakkan cara yg sering dia lakukan sejak kecil, membuat Chan bertanya: “Bibi sedang apa? Bibi sedang berkomunikasi dengan alien?”

“Bukan... Ini maksudnya, mirip dengan ‘Don’t Think! Feel!’ (jargon penyemangat punya Chan)...” jawab Seo-ri terkekeh


Mengenang masa lalu, ternyata ibunya yg mengajarkan Seo-ri melihat bulan lewat lipatan jari yg seperti kelinci, 

“Lihat? Kamu pikir itu tidak mungkin. Ibu sudah bilang bisa mengeluarkan kelinci bulan...” ucap sang ibu, mmebuat Seo-ri berkomentar: “Apaan bu.. ini tidak masuk akal..”


“Ini masuk akal. Jika kamu bilang tidak mungkin, maka itu memang tidak mungkin. Tapi jika kamu bilang pada dirimu sendiri itu mungkin, maka itu akan berhasil secara ajaib. Banyak hal bisa berubah tergantung pada cara berpikirmu. Kamu bisa memanggil kelinci bulan yang mengabulkan harapanmu begini...” jelas ibu

“Baiklah. Aku akan percaya karena Ibu adalah ibuku...” sahut Seo-ri


Kembali ke realita, memerhatikan Seo-ri membuat Chan berkata: “Bibi pasti sangat manis waktu kecil...”

“Apa katamu?” tanya Seo-ri, namun Chan mengalihkan topik memintanya kembali tidur karena malam telah larut.


Dari dalam kamarnya, Woo-jin pun tersenyum melihat bulan, namun dia tak melihat Seo-ri...

EPISODE 9 : “Sinar Bulan”


Esok pagi.. Seo-ri sibuk membuat adonan. Lalu datanglah dua sobat Chan yg menjemputnya sekolah. Bukannya langsung berangkat, Chan malah menyuruh mereka mengupas bawang lebih dulu..

“Untuk apa kami mengupasnya di pagi hari?” keluh mereka, dan Seo-ri pun melarangnya, “Jangan mengupasnya. Mata kalian nanti pedih. Mereka sangat kuat...”

“Masih ada sedikit waktu...” ucap Chan


Sesaat kemudian, Jennifer kaget melihat merkea duduk di ruang tengah mengenakkan topeng sambil mengupas bawang.


Satu persatu mereka lepas topeng itu, “Bukan pedihnya yang menggangguku. Aku akan sesak napas. Aku tidak bisa bernapas..” keluhnya sambil terengah

“Berapa yang Anda dapatkan dari tugas ini?” tanya Deok-soo

“Pemilik Jinjjaru bilang aku dapat lima sen per bawang bombai...” jawab Seo-ri

“Lima sen per bawang bombai? Berapa banyak harus mengupas agar cukup untuk memperbaiki violin? Keluarga kami kaya. Anda mau kubelikan yang baru?” ujar Hae-bum


“Dari yang kulihat, violin Seo Ri adalah instrumen yang sepenuhnya buatan tangan dari Cremona, Italia. Mahakarya berusia lebih dari 200 tahun. Tergantung seberapa baik itu dipelihara, harganya berkisar dari 200.000 sampai 500.000 dolar...” papar Jennifer, yg membuat mereka memutuskan untu lanjut mengupas bawang sambil bertanya-tanya mengapa Jennifer sangat tahu segalanya?

Mereka asyik mengupas bawang, hingga membuat Seo-ri khawatir mereka akan terlambat ke sekolah. Tapi dengan santainya, Deok-su menyuruh Woo-jin mengantar mereka.


“Kami bisa di sini kira-kira lima menit lagi. Sangat dekat jika Paman mengantar kami ke sana dengan mobil...”

“Aku? Aku menyopiri kalian? Aku tidak dengar soal ini jika itu tentang aku...”

“Kami sudah memutuskannya, jadi, naik dan bersiaplah untuk bekerja!”

“Masih terlalu pagi untuk berangkat kerja...”

“Kami akan pergi dalam 10 menit. Cepatlah bersiap-siap. Ayo!”


Masuk ke dapur, Chan melihat bekas cetakan tangan Seo-ri di adonan.. dia membandingkan itu dengan tangannya, lalu tersenyum sambil berkata: “Dia lebih kecil daripada yang kuduga...”
Advertisement


EmoticonEmoticon