8/08/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 9 PART 2

SINOPSIS Still 17 Episode 9 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: oppasinopsis.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 9 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 9 Part 3

Karena Deok-su terus berteriak memanggilnya, Woo-jin bergegas jalan keluar. Seo-ri ingat, dia menyimpat pot di depan tangga, maka dia hendak menggesernya ke belakang..

Tapi kali ini, Woo-jin melarangnya dan membiarkannya tetap berada disitu, supaya tenamannya tumbuh dengan sehat.  


Sampai di dekolah, Chan melupakan tas-nya, maka Woo-jin turun dari mobil untuk memberikannya. Di momen itu, Ri-an melihatnya.. dia jadi parno sendiri dan langsung menutupi wajahnya saat berpapasan dengan Woo-jin.

Kembali menuju mobil, Woo-jin sempat melihat sebuah pot yg membuatnya refleks ingin mengukurnya. Tapi dia teringat perkataan Seo-ri, maka dia urung melakukannya..


Di kantor, Hee-soo dan Ji-hyun penasaran.. akan sosok wanita yg belakangan ini sering bersama dengan Woo-jin dan pernah datang kesini beberapa kali. Namun Woo-jin enggan menanggapinya dan mmeilih untuk fokus pada kerjaannya saja...


Seo-ri menghitung seluruh uang yg dia miliki, namun dia sadar uangnya masih sangat sedikit. Dia pun bertanya-tanya: “Apa memang ada cara mendapatkan uang dengan sangat cepat?”


Woo-jin dengan rapat dengan klin-nya di sebuah kafe. Dia memaparkan idenya dengan detail, namun fokusnya kabur ketika tak sengaja dia melihat Seo-ri di sebrang, yg berjalan memasuki sebuah bar..


Woo-jin ingat, pagi tadi sempat mendengar obrolan Seo-ri tenang mencari uang dengan cara yg cepat. Hal itu, membuat Woo-jin berpikiran yg macam-macam..

Maka Woo-jin menyelesaikan pemaparannya dengan singkat dan padat, lalu pamit pada kliennya dan segera berlari mengejar Seo-ri..


Masuk ke dalam bar, Woo-jin bertemu dua orang ajusshi berbadan gempal. Dia bertanya apakah ada wanita yg masuk dini, tapi merka menjawab tidak.

Woo-jin tak percaya akan hal itu, maka dia mulai berteriak memanggil nama Seo-ri, tapi satu-satunya wanita yg ada disana adalah seorang nenek tukang masak.

Tak menyerah, Woo-jin terus berteriak memanggil Seo-ri sambil memeriksa seluruh ruangan. Tapi tingkahnya membuat para ajusshi terganggu, maka mereka menyeretnya keluar...


Bersamaan dengan itu, Seo-ri muncul dengan dandanannya yg super menor. Melihat Woo-jin yg berteriak memanggil namanya, sambil diseret.. maka Seo-ri langsung membelanya, “Astaga, dia pasti mengukur sesuatu lagi...” ujarnya


“Dia bukan orang aneh. Dia bukan orang gila atau orang mesum. Dia pria normal yang menderita penyakit akibat pekerjaan!!!!!” teriak Seo-ri, maka akhirnya para ajusshi itu meninggalkan mereka.

Seo-ri lantas mengomeli Woo-jin, “Apa yang kamu perbuat kali ini? Sudah kubilang jangan mengukur...”

“Aku tidak mengukur apa pun!” tegas Woo-jin, “Bagaimana denganmu? Sedang apa kamu di sini?” tanyanya

“Menurutmu apa? Aku dapat pekerjaan dari pabrik kaus kaki...” jawab Seo-ri sambil menujukkan tas besar yg ia bawa


“Kenapa wajahmu begitu jika kamu di sini untuk kaus kaki?” tanya Woo-jin

“Ada apa dengan wajahku?” ujar Seori, yg kemudian tersenyum dan bilang: “Ahhh.. ini riasan penuh warna..”


Ternyata tadi.. ada toko riasan yg baru buka dan menawarkan banyak sampel gratis. Maka Seo-ri sengaja masuk dan mengenakan blush-on juga lipstick, “Aku ingin tampak lebih muda...”

“Kamu jauh dari tampak lebih muda daripada yang biasanya...” komen Woo-jin dengan sinisnya

“Apa aku memakai terlalu banyak? Bibiku selalu merias wajahku untuk pertunjukanku. Atau aku dirias di salon kecantikan. Ini kali pertama aku merias diri sendiri...” jelas Seo-ri

“Kenapa kamu harus membuatku salah paham dengan memakai riasan tebal, padahal biasanya tidak pernah berias?” keluh Woo-jin, membuat Seo-ri faham kalau Woo-jin salah sangka diirnya masuk ke dalam bar.


Woo-jin berjalan pergi, tapi meninggalkan sebelah sepatunya maka Seo-ri mengejarnya dan menyuruhnya mengenakannya lagi.. tapi ternyata, di kaos kaki Woo-ji ada bekas permen karet.

“Aku punya kaus kaki baru. Pemiliknya memberikan ini untukku, jadi, pakailah...” ujar Seo-ri, tapi kemudian dia ragu. Namun Woo-jin tetap mengambilnya, “Tidak, itu akan baik saja. Lebih baik daripada kakiku licin. Toh, tidak akan ada yang melihat kakiku...”


Ternyata.. Seo-ri ragu, karena kaos kaki itu ada rendanya. Tapi Woo-jin mengenakannya dengan santai.. meski orang-orang disekitar, tertawa memerhatikannya.

“Astaga... Orang-orang melihatmu terus. Mereka pasti mengira kamu pria aneh...”

“Aku tidak peduli mereka menilaiku aneh...”

“Tapi sepertinya mereka mengira kamu agak gila..”

“Aku tidak peduli mereka mengira aku agak gila...”

“Tapi tetap saja... Eh, lagian dulu kamu tidak keberatan ketika orang-orang mengira kamu BAB di celana... wkwkwk..”

Seo-ri mulai bertanya tentang alasan Woo-jin masuk ke bar itu sampai diseret ajusshi berbadan besar. Tapi Woo-jin gengsi menjawabnya, maka dia sengaja mempercepat langkah kakinya.
Comments


EmoticonEmoticon