8/26/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 1 PART 3

SINOPSIS Witch's Love Episode 1 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 1 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 1 Part 4

Sung Tae berusaha mengingatkan Cho Hong bahwa mereka pernah bertemu saat kecelakaan mobil dan berkata bahwa ia sudah berusaha mencari Cho Hong. Ia juga menanyakan keadaan Cho Hong pasca kecelakaan tersebut. Cho Hong hanya mendecakkan lidahnya, lalu pergi begitu saja.


Sung Tae mengikuti Cho Hong dan memintanya berhenti, karena khawatir dengan keadaan Cho Hong, bukan karena tertarik padanya. Cho Hong terus saja berjalan. “Kau sungguh tidak ingat? Pot batu. Penyeberangan. Mobil hitam,” kata Sung Tae masih berusaha mengingatkan. “Bumpernya penyok,” kata Sung Tae lagi dan berhasil membuat langkah Cho Hong terhenti.


Cho Hong bertanya apakah Sung Tae ingin meminta ganti rugi. Ia bilang ia ingat kecelakaan mobil, tetapi tidak mengingat Sung Tae. Ia juga bilang kalau ia baik-baik saja. Sung Tae kemudian meminta maaf atas kecelakaan tersebut. Cho Hong lalu pamit pergi.


“Apa dia berpikir kalau aku sangat menyukainya?” gumam Sung Tae setelah Cho Hong pergi. Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan melanjutkan pencarian restoran sup nasi.


Sung Tae berhenti di kantor real estate dan mendapatkan informasi tentang lokasi restoran sup nasi itu. Tanpa ia sadari, Cho Hong juga sedang berjalan kaki ke arah yang sama. Saat ia melanjutkan perjalannya dengan mobil, barulah Sung Tae melihat Cho Hong yang sedang berjalan.


Karena mereka menuju lokasi yang sama, Cho Hong merasa Sung Tae mengikutinya dengan sengaja. Ia kesal dan mengayukan nampannya seolah-olah akan memukul Sung Tae. Sung Tae lalu memberi kode dengan tangannya mempersilakan Cho Hong jalan terlebih dulu.


Tapi mereka kemudian berbelok di jalan yang sama. “Si gila itu. Kenapa dia mengikutiku?” gerutu Cho Hong. Sung Tae juga kesal dan menjalankan mobilnya dengan sangat pelan.


Sung Tae terkejut karena melihat Cho Hong masuk ke bangunan yang selama ini ia cari. Ia menatap bangunan itu dan sekilas kenangan masa kecilnya hadir.


Sung Tae langsung sadar, karena tiba-tiba Cho Hong keluar dan menyiramnya dengan seember air. “Cho Hong!” teriak Nenek Ye Soon dan Aeng Doo yang mengikutinya keluar.


Setelah membersihkan diri di apartemennya, Sung Tae membanting handuknya karena merasa keal. “Dia pikir siapa dirinya?!” ujarnya. Ia kemudian melihat lagi foto keluar pemilik restoran sup nasi.


“Apa ini?” tanyanya heran karena gambarnya sama sekali tidak jelas. Ia meremas foto itu dan melemparnya. “Aigoo..” Ia lalu menghubungi Sekretaris Kim dan bertanya, ”Restoran itu.. apa kau yakin pemiliknya belum berubah selama 50 tahun? Pemilik bangunan dan pemilik restoran bukan orang yang berbeda? Tidak, tidak ada yang pasti. Gali lebih dalam dengan detail. Sekecil apapun informasinya, beritahu aku.”


Keesokan harinya, Cho Hong dan Nenek Ye Soon mendapati kunci gembok pintu belakang restoran terbuka. Aeng Doo juga datang dengan tergesa-gesa sambil memberitahu bahwa kotak surat mereka jatuh dan semua suratnya hilang. Cho Hong merasa ini bukan masalah biasa.


Ketua komunitas toko dan memberikan poster informasi kemanan. Ia mengatakan bahwa sudah ada empat restoran yang mengalami masalah keamanan. Ia berusaha menjelaskan sambil tertawa, tapi Cho Hong dan Nenek malah tidak menyukainya.


Aeng Doo yang menyukai Ketua komunitas toko malah membawakan teh untuknya, lalu duduk di sebelahnya. Ketua melanjutkan pembicaraan dan menyarankan agar mereka melaporkan kasus ini ke Polisi. Ketiga penyihir itu mulai panik.


Ketua mengambil ponselnya dan akan menghubungi Polisi. “Tidak…!” kata ketiga penyihir itu dan berusaha menghentikannya, hingga teh panas yang dipegang Aeng Doo tumpah ke kaki Ketua. Ketua merasa sangat kepanasan dan mengipas-ngipaskan kakinya, tapi ia tetap melakukannya sambil tertawa.


Mereka bertiga lalu mengantar Ketua keluar sambil menawarkan obat, tapi Ketua bilang ia baik-baik saja dan menyuruh mereka masuk. Ia kemudian menerima telepon dari Wakil Kim dan melaporkan bahwa lingkungan mereka baik-baik saja.


Aeng Doo merasa khawatir karena teh panas itu mengenai bagian vital Ketua. “Apa hubungannya denganmu? Cepat bersihkan bibir itu!” kata Nenek Ye Soon kesal.


Sung Tae kecil yang sedang berlari di bawah hujan sambil memegang dadanya yang terluka sambil menatap sebuah bangunan, dikejutkan dengan sebuah tangan yang memegang pundaknya.


Saat ia menengok ke belakang, orang di belakangnya sedang menghunuskan sebuah pisau ke arahnya. Ia berteriak ketakutan.


Sung Tae terbangun lagi dari mimpi buruk atas kenangan masa kecilnya itu. Ia mencoba mengatur napasnya dan duduk di tepi kasurnya. Kemudian terdengar suara hujan dan sambaran petir.


Sementara itu, Ketua komunitas mengendap-endap menuju pintu belakang restoran sup nasi smabil menahan kakinya yang masih terasa sakit, karena teh panas siang tadi.


Di dalam dapur restoran, ketiga penyihir sedang memasak sup untuk mereka jual esok hari. Selain daging, mereka juga menyiapkan aneka bunga dan daun. “Apa kalian tidak mendengar suara?” kata Nenek Ye Soon tiba-tiba. Cho Hong bilang itu hanya suara hujan, padahal itu adalah suara getar ponselnya dari Min Soo. “Aku jelas mendengar sesuatu,” kata Nenek yakin. Cho Hong lalu pamit keluar.


Cho Hong keluar lewat pintu belakang untuk mengangkat telepon dari Min Soo, kalau ia tidak bisa bertemu hari ini karena harus merebus kaldu daging. Tanpa ia sadari, Ketua Komunitas berhasil masuk ke dalam dapur restoran.


Ketua Komunitas masuk dan merekam kegiatan masak Nenek dan Aeng Doo. Saat mendengar langkah kaki Cho Hong, Ketua Komunitas buru-buru sembunyi. Cho Hong duduk di samping Nenek dan berkata bahwa neneknya terlalu curiga, karena tikus pun tidak ada di sana.


“Menjadi curiga adalah suatu keharusan untuk penyihir agar bisa bertahan hidup. MAkan, minum dan curiga. Kau tahu?” jelas Nenek. Ketua Komunitas merasa sangat heran saat mendengar kata ‘penyihir’. Aeng Doo kemudian mengatakan bahwa mereka bisa mulai, karena semuanya sudah siap.


Sementara itu di luar, Sung Tae datang denga mobilnya dan memperhatikan bangunan yang selalu ada di kenangan masa kecilnya.
Comments


EmoticonEmoticon