8/29/2018

SINOPSIS Witch's Love Episode 2 PART 1

SINOPSIS Witch's Love Episode 2 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: DramaX
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 1 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Witch's Love Episode 2 Part 2

“Ini rahasia. Tapi sebenarnya, para penyihir hidup di dunia ini. Hanya saja manusia tidak memperhatikan hal itu,” cerita narator.


Terlihat tanda penyihir di dada penata rambut yang mampu memotong dan merapikan rambut dengan hebat.


“Pikirkan tentang ini. Ketika kau bertemu seseorang yang keterampilannya tidak bisa kau tandingi, meskipun kau menghabiskan waktu dan usaha yang sama. Ketika kita bertemu mereka, kita bingung.”


“Seakan waktu telah terhenti dan seluruh tubuh kita menjadi kaku. Dan kita tertarik oleh kekuatan yang tidak dapat diketahui ini. Dan kita tak sadar kalau kita berjalan menemui mereka.”


Sung Tae datang ke restoran sup nasi dan mengetuk pintunya. Ia tidak peduli walau melihat tanda tutup di sana.


Episode 2 – Meskipun Kehidupan Menipumu….


Seorang wanita yang mengenakan celemek bertuliskan ‘Restoran Kaki Babi Tradisional Song Unni Jangchung-dong’ berjalan masuk ke bank.


Para pegawai bank berusaha menghindari berurusan dengan wanita itu. Begitu juga dengan Min Soo, tetapi ia tidak bisa mengelak, karena wanita itu berhenti di hadapannya. Min Soo terpaksa tersenyum lebar dan menyapanya.


Wanita itu mengeluarkan beberapa buku tabungan berikut stempelnya dan meminta semua uangnya ditarik. Min Soo masih tersenyum dan menanyakan apa kesalahan banknya. “Tarik saja saat aku memintanya! Kenapa kau mengoceh terus?!” kata wanita itu.


Min Soo menoleh untuk meminta bantuan. Tapi rekan-rekannya seolah tidak melihat dan atasannya mengibaskan tangan memberi kode agar Min Soo saja yang mengurusnya. Min Soo kembali bertanya apa kesalahannya dan berjanji akan segera memperbaikinya.


“Memperbaiki apanya?! Omong kosong! Apa gunanya memperbaikinya ketika aku sudah mati?!” kata wanita itu yang ternyata marah karena jarinya sedikit terluka karena terkena majalah bank. “Aku tidak bisa mempercayakan uangku di tempat yang memiliki senjata tajam seperti ini! Tarik semuanya! Semuanya, tanpa meninggalkan satu sen pun!”


Karena permintaannya tidak juga dikabulkan, wanita itu berteriak memanggil Manajer Cabang. Min SOo berusaha keras untuk menenangkan wanita itu.


“Astaga, Min Soo sungguh hebat! Bagaimana dia melakukannya setiap saat? Jika itu aku, aku sudah lama berhenti,” kata rekan kerja pria Min Soo.


Rekan wanitanya menimpali, “Dia harus menanggungnya karena dia punya sesuatu yang dapat dia andalkan. Mimpi Min Soo adalah menikahi putri seorang pengusaha mapan yang memiliki gedung. Dia hanya perlu bertahan sebentar lagi.”


Wanita dari restoran kaki babi membawa banyak belanjaan dan terlihat sangat bahagia. Min Soo menghela napas lega setelah melihat wanita itu pergi.


Rekan pria Min Soo penasaran, “Putri seorang pengusaha mapan yang memiliki gedung. Siapa dia?”


Gadis yang dimaksud itu membukakan pintu untuk Sung Tae.


Cho Hong: “Kau..”
Sung Tae: “Pemilik gedung.”


Nenek sama sekali tidak percaya jika gedung itu sudah dijual. Sekretaris Kim menunjukkan kontrak pembelian padanya. “Mulai tanggal 18 Juni 2018, bangunan dan kepemilikan tanah ini berada dibawah nama Direktur Ma Sung Tae,” jelasnya. Nenek tidak peduli dan berkata bahwa dia adalah pemilik bangunan itu. Dia bilang dia tidak pernah menjualnya.


Sekretaris Kim kemudian menunjukkan surat regristasi bangunan yang merupakan atas nama Kim Chi Pyeong yang kemudian diwariskan pada Kim Dong Hyeon.


“Jadi, Kim Dong Hyeon adalah cucu dari Kim Chi Pyeong. Dan Kim Chi Pyeong adalah pekerja di restoran kami,” jelas Nenek dan Cho Hong mengangguk-angguk setuju. “Jadi dia adalah pelayan kami.” Aeng Doo lalu turun dari lantai dua dengan teregsa-gesa sambil membawa sebuah kotak kayu.


Aeng Doo bermaksud menunjukkan kontrak definitif antara pihak keluarganya dan Kim Chi Pyeong, tapi sayangnya kertas kontrak itu sudah berlubang termakan zaman. Aeng Doo yang tadinya sangat yakin, menjadi sangat terkejut. BeEgitu pula dengan Nenek dan Cho Hong, bahkan Sekretaris Kim juga. “Jika kita tidak memiliki kontrak, kita bisa memanggil saksi. Cepat panggil Kim Chi Pyeong. Kakek tua itu, aku akan…,” kata Nenek.


“Tiga tahun lalu, dia meninggal,” kata Sekretaris Kim prihatin. Keluarga penyihir terkejut lagi dan kali ini Cho Hong benar-benar khawatir.


Sung Tae tidak mempedulikan keresahan mereka dan memberikan waktu dua minggu untuk mengosongkan bangunan. Sekretaris Kim memberikan kartu namanya dan memina mereka menghubunginya jika perlu.


Cho Hong menyusul Sung Tae yang akan pergi dan mengatakan bahwa itu adlaah restoran mereka dan neneknya sudah bekerja keras selama 50 tahun. “Bagaimana ya? Aku membeli gedung ini juga setelah menabung uang hasil kerja kerasku,” kata Sung Tae santai.


Cho Hong menduga Sung Tae melakukan ini semua karena dendam pernah dibanting dan disiram air olehnya. Sung Tae bilang ia bukan seorang baj*ngan yang akan membeli gedung dan mengusir orangnya. Ia menyarankan agar mereka melanjutkan bisnisnya dengan benar dan membayar sewa, atau jika tanpa sewa maka ia menyarankan mereka memohon dengan berlutut.


“Apa? Berlutut?” kata Cho Hong. Sung Tae bilang harusnya ia yang lebih tercengang, menirukan ucapan Cho Hong setelah membantingnya tempo hari. NEnek dan Aeng Doo menyusul keluar. “Berapa biayanya? Berapa sewanya?” tanya Cho Hong langi.


Sung Tae tersenyum penuh kemenangan dan berkata, “Deposit 100 juta dan sewa 20 juta setiap bulan.” Keluarga penyihir terlihat sangat terkejut, begitu juga Sekretaris Kim, karena mendengar biaya yang sangat tinggi.


Keluarga penyihir hanya bisa melihat kepergian Sung Tae dengan sedih. Nenek bahkan belum bisa menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut dengan harga sewa yang mahal.


Sekretaris Kim melirik ke arah Sung Tae yang duduk di belakang mobil dan menanyakan alasan direkturnya melakukan itu. “Aku kan sudah bilang padamu. JIka aku tidak menyelesaikan ini, aku tidak akan bisa melangkah maju dari 25 tahun yang lalu,” kata Sung Tae. Sekretaris Kim bertanya apa Sung Tae benar-benar berpikir insiden dulu berhubungan dengan gedung itu, padahal nenek itu sudah tua dan wanita mudanya tidak bisa mengingat waktu. “Bukan berarti tidak mungkin.”


Sekretaris Kim merasa prihatin karena nenek ditipu oleh kenalannya. Tapi Sung Tae bilang dibalik kepolosan wajahnya, mereka bisa saja melakukan hal mengerikan.


Nenek meletakkan gelas dengan keras di atas meja dan marah pada Kim Chi Pyeong. Aeng Doo bilang kakek itu sudah meninggal, jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa tentang itu. Nenek hampir menangis karena menahan kesal. Cho Hong mendengus, “Siapa yang mengomeliku untuk tidak mempercayai manusia sampai telingaku berdarah?”


Nenek berdecih lalu minum langsung dari teko. Aeng Doo lalu bertanya apa yang akan mereka lakukan, karena mereka bisa saja diusir. Cho Hong melarang membayarkan uang sewa itu. Ia yakin manusia tidak bisa melakukan apapun pada mereka.


“Berapa banyak 100 juta won itu? Nenek menjalankan bisnis ini lebih dari 50 tahun. Nenek pasti punya sekitar 100 juta, kan?” tanya Cho Hong. Aeng Doo mengiyakan dan ia yakin uang nenek ada lebih banyak dari itu. NEnek tidak menjawab dan melemparkan pandangan ke langit-langit rumah.


Cho Hong: “Tidak punya?! Bahkan tidak ada satu sen pun?”
Nenek: “Selama ini kita minum kopi Luwak, Dom Perignon, dan truffle. Kau pikir aku menikmatinya sendiri? Kau juga menikmatinya.”


“Berapa banyak yang kita nikmati, Hyungnim?” tanya Aeng Doo yang tidak menyadari kalau dialah yang paling banyak menikmatinya.


Nenek bilang ia punya rencana, yaitu menjadi seperti manusia. Ia bilang mereka harus mendapatkan pinjaman dan mengubah jam buka menjadi 24 jam,  buka di akhir pekan, dan tamil di acara makanan. Ia juga akan menaikkan harga sup dan mendengarkan keluhan manusia, sehingga bisa membayar sewa.


“Rencana macam apa itu? Kita akan bekerja lembur dan ada tugas khusus? Apa bedanya kita dari manusia yang hanya bekerja?” keluh Cho Hong. Nenek tidak bisa menjelaskan. “Ah! Kalau begitu, faktwa bahwa kita dapat menikmati hidup kita di malam hari itu bukan sihir?”
Comments


EmoticonEmoticon