8/27/2018

SINOPSIS Your Honor Episode 1 PART 2

SINOPSIS Your Honor Episode 1 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 1 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Your Honor Episode 1 Part 3

So Eun akan menginterogasi tersangka untuk pertama kalinya. Jung Soo berpesan ada 5 hal yang tidak boleh dipercayai dari tersangka. “Maafkan aku. Tolong ampuni aku. Aku akan bertobat. Aku tidak akan mengulanginya. Kau salah menangkap orang,” kata So Eun yang sudah menghafalnya.


“Kau adalah jaksa sekarang. Hancurkan mereka,” kata Jung Soo.


Dengan gugup, So Eun berdiri di depan ruang interogasi. Ia mengingat pesan Jung Soo bahwa tersangka yang paling berbahaya adalah yang menangis. So Eun menarik napasnya, lalu masuk ke ruang interogasi. Ia menggeser kursi dengan kakinya sambil terus memperhatikan Kang Ho dengan hati-hati. Ia juga dengan sengaja membuka lembaran dokumen dengan kasar.


“Kejahatan terorganisir, penipuan, pemerasan,  penyerangan dan merusak mata uang. Dakwaaanmu banyak sekali,” kata So Eun mengawali pertemuan mereka. Sementara itu, Kang Ho masih menunduk dan hampir menangis. “Kau melebur koin dan menjualnya, bukan? Angkat kepalamu. Jangan berpura-pura menyesal. Angkat kepalamu.”


Kang Ho mengangkat kepalanya dan terlihat matanya berkaca-kaca. So EUn menyuruhnya berhenti berpura-pura. “Tolong biarkan aku menelepon ibuku,” kata Kang Ho. So Eun menolak. “Semua ini terjadi karena ibuku. Aku takut dia akan mengira aku melakukan ini untuknya. Jika ibuku bunuh diri….”


So Eun bilang seharusnya Kang Ho hidup lebih baik sebelumnya. Kang Ho menatapnya dan So Eun juga melakukan hal yang sama. So Eun menanyakan pernyataan yang Kang Ho buat di Kantor Polisi, tapi Kang Ho malah mengatakan hal lain.


Kang Ho bercerita bahwa dia berkelahi dengan kakaknya, tetapi dia tidak ingat alasannya. Ia sedih karena ibunya memukulnya.


Ibu si kembar mengatakan bahwa Kang Ho harus menghormati Sang Ho walaupun hanyadua menit lebih tua. Ia juga ingin agar Kang Ho belajar dari kakaknya.


“Ibu memukulnya 5 kali. Kenapa ibu memukulku 10 kali?” protes Kang Ho kecil. Ibu memukul kakinya lagi dan mengatakan bahwa itu karena Kang Ho tidak menghormati kakaknya.


Sementara itu, Sang Ho kecil memperhatikan Kang Ho dengan tatapan tidak suka.


“Ibuku selalu memihak kakakku. NIlai-nilainya bagus dan dia belajar dengan tekun. Pasti itu sebabnya,” kata Kang Ho sambil meneteskan air mata.


Kang Ho kecil menangis dan bilang ia akan membalas ibunya. “Apa yang ibu lakukan hingga melahirkan pengacau ini?  Ibu akan bahagia jika hanya melahirkan kakakmu. Berhenti menangis,” kata ibunya kesal dan memukul kaki Kang Ho lagi.


Kang Ho bilang caranya membalas ibunya adalah dengan tidak pernah belajar saat SMP dan selalu berkelahi. So Eun mendengus dan berkata seharusnya Kang Ho berusaha mendapatkan pengakuan ibunya dengan tekun belajar.


“Kakakku mendapat skor tertinggi di seluruh negeri untuk tiap ujian,” kata Kang Ho dengan tawa putus asa. “Aku tidak akan bisa mengalahkan dia dengan nilai. Aku benar-benar membencinya.”


Kang Ho bercerita bahwa dulu dia melihat kakaknya dipukuli dan dia membiarkannya. Namun ketika seseorang mengeluarkan pisau dan akan melukai wajah kakaknya, Kang Ho tidak tinggal diam. DIa mulai melawan anak-anak nakal itu.


Saat Kang Ho sedang berkelahi, Sang Ho malah ingin melarikan diri. Sang Ho berhenti, ketika melihat Kang Ho berduel dengan anak yang membawa pisau.


Ternyata, pisau itu malah mengenai si pemiliknya sendiri. “Pisau itu hanya memiliki sidik jariku,” cerita Kang Ho.


Di Kantor Polisi, Sang Ho malah berbohong bahwa dia tidak pernah melihat anak nakal itu mengeluarkan pisau. “Jadi, itu pisaumu,” kata Polisi kepada Kang Ho. Ibu terkejut, begitu juga dengan Kang Ho.


“Ibu bilang kakakku tidak pernah berbohong. Jadi, perkataannya selalu dianggap benar,” cerita Kang Ho pada So Eun. Ia bilang saat kakaknya diterima kuliah dengan nilai tertinggi, dia malah dipenjara. Ia sedih karena kakaknya tidak pernah berkunjung dan tidak datang saat dia dibebaskan.


Di hari kebebasan, Kang Ho terkejut melihat ibunya menjemputnya. Ia tertawa sedih, lalu mengambil tahu dari tangan ibunya dan pergi begitu saja.


Kang Ho bilang ia tidak suka melihat ibunya menangis, tapi karena ibunya terus menangis, ia menjadi terbiasa.


DI lain waktu, ibu menjemput Kang Ho lagi yang baru keluar penjara. Kang Ho mengabaikannya lagi. Ibu berkata, “Kau akan berhenti setelah ibu mati?” Kang Ho berhenti melangkah. “Ibu harus mati agar kau berhenti?”


Kang Ho ternyata marah, karena ibunya tidak juga meminta maaf. Hanya itu yang dia inginkan, tapi malah membuatnya merasa bersalah. Ia menggaruk kepalanya dnegan kesal, lalu berjalan meninggalkan ibunya. Ia bercerita pada So Eun bahwa dia muak hidup dengan meliaht ibunya menangis.


Kang Ho bilang ia sudah mulai belajar, tapi seseorang yang pernah dipenjara bersamanya datang dan menyuruhnya mengumpulkan uang receh. Ia bilang ia tidak tahu kalau itu adalah perbuatan ilegal. “Kau akan tetap dihukum, walaupun tidak tahu,” kata So Eun.


Kang Ho bilang itu tidak adil dan mulai menangis tersedu-sedu. Ia memperhatikan luka So Eun dan gerak-geriknya yang mulai terbawa suasana. So Eun bilang semua orang punya luka, dan luka masa lalu tidak menciptakan apapun. Kang Ho bilang luka ada di masa sekarang, sering muncul dan membuat orang menjadi gila. Ia mengatakan luka itu tidak akan hilang walaupun ia mengabaikannya.


Kang Ho menunjuk bekas luka di tangan So Eun dan bertanya apakah luka itu bisa hilang. “Ini bekas luka, bukan luka,” kata So Eun sambil menutupi luka dengan lengan bajunya. “Ayo mulai. Semua yang kau katakan dalam pernyataanmu benar?”


Kang Ho menangis lagi, “Tidak adil. Jaksa…”
Comments


EmoticonEmoticon