9/12/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 1 PART 3

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 1 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 1 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 1 Part 4

Lee Yool mengepalkan tangannya karena marah.


“Kejar mereka. Tidak boleh ada anggota keluarganya yang hidup,” kata Cha Eon. Para penjahat mengerti dan mulai membunuh para pelayan keluarga Yoon. Tiba-tiba, Lee Yool datang ke tengah-tengah mereka.


Ia meminta mereka berhenti. “Aku Lee Yool, putra Pangeran Neungseon! Jika kalian mengejar mereka, sebagai keluarga kerajaan, aku akan membuat kalian dihukum!” Cha Eon berjalan menghampiri Lee Yool lalu menggotongnya.


“Lepaskan! Lepaskan! Apa yang akan kau lakukan padaku?!” teriak Lee Yool, tapi Cha Eon tidak peduli. “Lepaskan! Lepaskan aku.” Cha Eon ternyata membawa Lee Yool pulang. “Ayah…” kata Lee Yool lalu berlari menuju ayahnya.


Ayah Lee Yool bilang dia sudah menyuruh putranya tidak keluar rumah. “Ayah.. dia membunuh orang. Tolong aku. Kau bisa membantu, ayah,” isak Lee Yool. Ayahnya menyuruhnya masuk ke dalam rumah. “Ayah…” Cha Eon berjalan mendekart, dan Lee Yool bersembunyi di belakang ayahnya. “Apa dia akan membunuh kita?”


Cha Eon menancapkan pedangnya ke tanah dan berlutu. “Aku sudah membunuh mereka semua sesuai perintahmu,” katanya.


Lee Yool sangat terkejut mendengarnya. Ayah Lee Yool juga tersentak.


“Sejak saat ini, dunia milikmu, Yang Mulia!” kata Cha Eon. Semua bawahannya ikut berlutut dan memanggil ayah Lee Yool dengan sebutan Yang Mulia. Lee Yool melepaskan ayahnya.


Keesokan harinya, Lee Yool sudah berada di istana. “Ibuku? Dimana ibuku?” tanyanya murung. Dayang bilang ibu Lee Yool akan datang saat penobatan siang nanti. Mereka meminta Lee Yool mengganti pakaiannya. “Tidak.” Dayang bilang waktunya mendesak.


“Aku bilang tidak!” teriak Lee Yool sambil melemparkan pakaian kerajaannya. “Aku tidak akan berganti pakaian sebelum ibuku datang!” Ia lalu berlari pergi.


Ayah Lee Yool, Pangeran Neungseon, penasaran apakah dia bisa mengurus segala urusan politik. Cha Eon bilang seorang raja hanya perlu memiliki martabat, karena politik hanya masalah rendah yang akan menjadi urusannya saja.


Pangeran Neungseon bertanya apa yang Cha Eon ingin sebagai balasan sudah melayaninya dengan baik. “Menjadi besanmu,” kata Cha Eon. (Besan Raja memiliki pengaruh yang besar)


Pangeran: “Kau menginginkan putraku?”
Cha Eon: “Aku merasa tidak enak karena memberikan kabar buruk di hari yang indah ini. Istrimu yang sekarang tiba-tiba jatuh dan tewas dalam perjalanan di sekitar kuil.” 


Pangeran Neungseon terkejut. “Rahasiakan ini sa,pai acara penobatanku berakhir,” perintahnya. Cha Eon mengerti dan mengajaknya masuk. Mereka berbalik dan ternyata Lee Yool sudah berdiri di sana.


“Apa yang… baru saja kau katakan? ‘Istrimu yang sekarang’? Apa itu maksudnya ibu?” tanya Lee Yool sedih. Pangeran melangkah mendekatinya, tapi Lee Yool mundur dan mulai menangis. “Ibu…!” ia berlari menjauh dan pangeran tidak bisa kehilangan martabatnya dengan berlarian mengejar putranya.


Lee Yool berteriak memanggil ibunya dan berlari menuju gerbang istana karena ia ingin pulang. Kedua dayang berhasil menangkapnya, tapi Lee Yool terus memberontak. “Lepaskan dia,” perntah Cha Eon yang datang menyusul. Kedua dayang kemudian mundur.


“Kau adalah pangeran masa datang negeri ini. Pangeran tidak boleh menangis karena hal sepele,” kata Cha Eon. Lee Yool bilang ia tidak mau menjadi pangeran. Cha Eon mencengkeram lengan Lee Yool dan berkata, “Menangislah sebanyak yang kau inginkan. Hari ini adalah satu-satunya kesempatanmu untuk melakukan itu.”


Lee Yool terduduk lemas. “Ibu…! Ibu..! Hwaa…” teriaknya. “Aku ingin pulang! Aku ingin pulang ke rumah!”


~ 16 tahun kemudian ~


“Apa hanya aku yang merasa tidak nyaman?” tanya Lee Yool saat berjalan bersama dayang dan kasimnya. Seorang kasim bertanya apa masalahnya. Lee Yool tidak menjawab dan melanjutkan berjalan, tapi kemudian berhenti lagi.


“Bagian kanan, baris terakhir,” kata Lee Yool lalu berjalan menghampiri dayang yang ada di paling belakang. “Kau membuatku kesal. Apakah sangat sulit untuk menyamakan langkahmu?”


Dayang itu meminta maaf sambil tersenyum dan mengatakan bahwa dia terpesona dengan para burung yang beterbangan. Lee Yool bertambah kesal, karena sejak dia menjadi pangeran 69.329 jam lalu, dia tidak pernah tersenyum.


Lee Yool heran karena dayang itu bisa tersenyum di hari pertamanya bekerja. Dayang itu tidak lagi tersenyum. Lee Yool meminta semua burung yang terbang melintasi istana dihabisi, agar tidak ada yang terpesona lagi seperti dayang itu. Dayang itu bilang burung bisa terbang melintasi pintu gerbang kerajaan.


“Kau lebih memilih burung itu yang mati.. atau dirimu yang mati?” tanya Lee Yool.


Lee Yool kemudian belajar bersama para pejabat muda dan merasa terganggu oleh kelakuan salah satunya yang terlihat senyum-senyum sendiri. Seorang pria menusuk orang itu dan memberinya kode.


Pria bernama Kim Soo Ji itu berdiri dan meminta maaf, karena pikirannya terganggu karena ada janji bertemu dengan seseorang yang istimewa.


“Apa karena itu kau tersenyum?” tanya Lee Yool. Soo Ji bilang mereka belum lama bertemu. “Kalau begitu, anggap kuisku ini sebagai hadiah.” Lee Yool mulai menulis.


Doo Ji mengernyitkan dahinya menunggu Lee Yool menyelsaikan tulisannya. “Berikan jawaban yang benar dan kau akan dipromosikan apapun statusmu saat ini. Sampai kau menyerahkan jawabannya, tidak seorang pun dari kalian yang bisa meninggalkan istana,” kata Lee Yool.


“Agar bisa bertemu temanmu, kau harus menemukan jawabannya,” kata Lee Yool lalu pergi. Doo Ji mengangguk pasrah.


Kasim Yang mengingatkan bahwa jika Lee Yool terus bersikap seperti itu, nantinya tidak akan ada yang berada di sisinya. Ia bilang hal itu akan membuat Lee Yool berada dalam keadaan yang sungguh tidak nyaman.


“Sekarang aku sangat terganggu, dan itu karenamu,” kata Lee Yool dan Kasim Yang menunduk bersalah. “Jadwalku selanjutnya adalah Kantor Seni yang ada di sebelah sana.” Kasim Yang mengingatkan bahwa hari ini seharusnya Lee Yool tidur dengan Putri Mahkota. “Apa?”


Kasim Yang bilang para menteri gelisah dengan musim kemarau hebat tahun ini. Ia menduga mereka akan mengajukan permintaan resmi.


Di kamar mandi, Kasim Yang menjelaskan bahwa ginseng dan akar Angelica bermanfaat untuk vitalitas Lee Yool. Ia juga menambahkan kelopak mawar merah pada air mandi yang akan menenangkan dan melembutkan kulit Lee Yool. Lee Yool tampak tidak tertarik.


“Kami harus tidur bersama karena ada kemarau? Itu menjijikan,” kata Lee Yool. Kasim Yang tidak setuju dan bilang Lee Yool adalah pria muda kuat yang selalu membaca sepanjang malam. Ia lalu berhenti bicara agar tidak membuat Lee Yool semakin kesal. “Apa menurutmu kelopak bunga ini cukup untuk melembutkan kulitku?” 


Kasim Yang bilang akan membawakan lebih banyak lagi. Ia keluar kamar mandi dan meminta dayang membawa kelopak mawarnya. “Ini kualitas terbaik?” tanya Kasim Yang dan dayang itu mengiyakan. Kasim Yang lalu kembali masuk ke kamar mandi.


“Yang Mulia, ini dia…” kata Kasim Yang yang kemudian kebingungan Karena Lee Yool sudah tidak ada disana. “Yang Mulia...”
Comments


EmoticonEmoticon