9/12/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 PART 1

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 1 Part 5
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 Part 1

Hong Sim yang sudah mengganti bajunya menatap bunga sakura yang ia sukai. Saat kecil, ia pernah bertanya pada Lee Yool, mana yang lebih disukai, salju atau hujan bunga.


“Aku… menyukaimu. Aku akan menikahimu,” kata Lee Yool kecil.


Lee Yool melihat Hong Sim, yang langsung mengingatkannya pada sosok Yi Seo.


Teman pejabat muda Soo Ji, bernama Jung Je Yoon juga ada di sana dan memperhatikan Hong Sim. Ia melihat Lee Yool mengejar Hong Sim, jadi ia berpura-pura tidak sengaja menabrak Lee Yool.


“Aku minta maaf,” kata Je Yoon di atas jembatan. Karena perhatiannya teralihkan, Lee Yool dan Dong Joo kehilangan Hong Sim.


Hong Sim ternyata bersembunyi di bawah jembatan. Saat merasa keadaan aman, barulah dia bernapas lega.


Tapi tiba-tiba, Ye Joon menepuk bahunya dari belakang. Hong Sim terkejut.


“Gadis itu mirip dengannya,” kata Lee Yool. Dong Joo mengingatkan bahwa keluarga Yi Seo tidak ada yang selamat. “Carilah untuk memastikannya.” Dong Joo bilang ia sudah mencarinya selama bertahun-tahun.


Dong Joo bertanya kenapa Lee Yool masih tidak bisa melupakan Yi Seo. “Bukannya aku tidak bisa melupakannya. Dia masih ada di ingatanku, karena aku menukar nyawanya dengan jubah kerajaanku,” kata Lee Yool.


Lee Yool membuka genggaman tangannya yang berisi kelopak bunga, lalu membiarkannya terbang terbawa angin.


Je Yoon memperkenalkan dirinya sebagai pekerja dari Balai Ibu Kota. Ia bertanya kenapa Hong SIm berlari. “Apa maksudmu? Aku hanya buru-buru karena ada urusan,” kata Hong SIm berbohong. Je Yoon bilang tas punggung yang Hong Sim bawa tidak cocok dengan pakaiannya. Ia ingin melihat isinya. “Tentu saja.”


Tapi Hong Sim malah melarikan diri dan melawan saat Je Yoon menangkapnya. “Keterampilan seni bela dirimu lumayan untuk seorang wanita. Ini semakin mencurigakan,” kata Je Yoon. Hong SIm melepaskan tangannya dan bilang kalau dia hanya terkejut karena ada yang mengejarnya. “Siapa kau dan dari mana kau berasal?”


“Aku Yeon Hong Sim dari Desa Songjoo,” kata Hong Sim. Je Yoon yakin Hong Sim belum menikah dan menanyakan ada urusan apa di sana. “Aku ke sini untuk bertemu seseorang.” Je Yoon bertanya apa itu kekasih Hong Sim. “AKu berjanji untuk bertemu kakak laki-lakiku di jembatan ini pada tanggal 15 setiap bulan, puas? Ngomong-ngomong, kenapa kau seperti mengintrogasiku?”


“Karena aku tertarik padamu,” kata Je Yoon. Hong SIm terkejut dan langsung berbalik pergi. Je Yoon mengikutinya.


Hong SIm bertanya kenapa Je Yoon terus mengikutinya. “Jembatan ini bukan milikmu. Aku datang ke sini untuk menikmati sinar bulan sejak bulan purnama dimulai,” kata Je Yoon santai. Hong Sim menyuruh Je Yoon tetap di sana dan tidak mengikutinya. “Aku berencana melindungimu. Kau mungkin dikejar orang-orang itu lagi.”


Menurut Je Yoon, kakak Hong Sim sudah lupa dengan janjinya. Hong SIm terlihat murung dan akan pergi. “Aku akan menemuimu setiap tanggal 15,” kata Je Yoon lalu pergi ke arah berbeda sambil melambaikan tangannya.


Dong Joo bertanya apa yang harus mereka lakukan setelah saksi tewas dan mereka kehilangan penjahatnya.


Lee Yool mengingat anak panah yang digunakan untuk membunuh tabib wanita. “Aku akan mengadkaan pesta,” kata Lee Yool.


Para dayang membantu Lee Yool memakai jubah kerajaanku. “BIsakah aku mulai pestanya?” kata Lee Yool.


Para pemusik menghibur semua tamu, termasuk pejabat, serta Raja dan Ratu. Lee Yool duduk bersama Putri Mahkota yang tampak murung.


Raja sangat senang karena mereka bisa mengadakan pesta untuk kesembuhan Lee Yool. “Aku mendengar Ratu berdoa kepada para dewa setiap hari,” kata Lee Yool. Ratu bilang ia senang Lee Yool sudah sembuh, tapi ia merasa Putri Mahkota terlihat pucat.


Putri Mahkota bilang ia tidak bisa tidur nyenyak semalam. Ratu bilang kecantikan Putri Mahkota tidak ada gunanya. Ia bertanya kenapa Lee Yool tidak merawat istrinya. Lee Yool tidak menjawab dan berkata bahwa ia akan melanjutkan acaranya.


Raja tersenyum dan menyebut Lee Yool terburu-buru. Ia memastikan bahwa Lee Yool menginginkan busur panah sebagai hadiah ulang tahunnya. Ratu bertanya kenapa dari banyak hal di dunia ini, Lee Yool memilih busur panah. “Sejak masih kecil aku suka bermain seni bela diri,” kata Lee Yool.


“Menurutmu bisakah menangkap pelakunya hanya dengan busur dan panah?” tanya Lee Yool dalam hati.


Sebelumnya, Lee Yool mengatakan bahwa ada banyak pengrajin busur panah, dan mereka memiliki ciri khas masing-masing. “Panah yang menembus tenggorokan tabib wanita tidak bisa dengan mudah diperoleh di pasar . Poros dan bulunya yang langka. Dan dudukan uniknya. Hanya keluarga berpengaruh yang memiliki kekuatan untuk menyewa pembunuh bayaran seperti itu,” kata Lee Yool.


Wakil Perdana Meneteri Kedua Shin Seung Jo membawakan hadiah busur panahnya kepada Lee Yool. “Terlihat luar biasa,” kata Lee Yool setelah memperhatikan anak panahnya.


“Ini untuk pelatihan perang. Aku puas,” kata Lee Yool saat membuka hadiah dari Menteri Jung, sekutu Ratu.


“Pendek dan kecil. Aku sangat suka. Terima kasih,” kata Lee Yool. Seorang Kasim mengabarkan bahwa Pangeran Seowon datang.


Pangeran Seowon, anak kandung Ratu yang sekarang, datang sambil membawakan hadiah untuk Lee Yool. Ia memberikan salam lalu meminta maaf karena membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan busur panah langka itu atas perintah ibunya.


Raja tersenyum dan merasa penasaran seberapa langka busur panah itu. Ratu tersenyum bangga kepada putranya itu.


Pangeran Seowon bilang ia mendengar kabar sakitnya Lee Yool, tapi tidak berani berkunjung karena khawatir membuat Lee Yool kesal. “Kenapa aku harus kesal? Lagipula kita adalah saudara. Meskipun dari ibu yang berbeda,” kata Lee Yool.


Ratu: “Yang Mulia!”
Lee Yool: “Aku penasaran, apakah Ratu bisa menerimaku.”
Pang. Seowon: “Untuk mengucapkan selamat ulang tahunmu, aku memberikan ini atas nama Ratu.”


Lee Yool membuka kotak hadiahnya dan merasa itu berbeda. Ia menebak itu terbuat dari bambu. Pangeran Seowon bilang itu terbuat dari bambu berusia tiga tahun dan bulu elang. “Kurasa aku tidak akan bisa mengetahui siapa pemanah itu,” batin Lee Yool.


Cha Eon menghadap dan berkata dia tidak punya cukup waktu untuk membeli hadiah dan merasa ia tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Ia lalu meminta seseorang datang membawakan kotak busur panah. Lee Yool membukanya dan memperhatikan anak panahnya.


“Poros terbuat dari semanggi semak. Bulu-bulu itu berasal dari burung elang. Dan takik panah buatan tangan. Ini sama dengan yang membunuh tabib wanita,” kata Lee Yool dalam hati. Ia lalu bertanya, “Apa ini panahan yang kau gunakan juga?” Cha Eon bilang ia menggunakannya untuk berburu


Lee Yool bertanya dalam hati, “Apa kau orang yang membunuh tabib wanita? Apa kau orang yang mencoba membunuhku?”


“Akankah dia membunuhku seperti membunuhnya?”


Cha Eon bilang ia akan membuat satu set busur panah yang lain jika Lee Yool tidak menyukainya. “Tidak. Inilah yang aku inginkan,” kata Lee Yool. Cha Eon bertanya apakah pemusik perlu memainkan lagi lagunya. “Tidak perlu. Perjamuan sudah berakhir.”


Raja, Putri Mahkota, dan para tamu merasa heran karena Lee Yool mengakhiri pestanya lebih awal.
Comments


EmoticonEmoticon