9/13/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 PART 3

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 Part 4

Sebelumnya, Lee Yool pergi ke kantor arsip Gyoyeondang dan melihat catatan medis Putri Mahkota. Ia membaca, “Sibuk memersiapkan upacara sutra, tidak ada pemeriksaan. Ditandatangani oleh Kim Nae Chon.”


Ia membuka lembar berikutnya. “Meninggalkan istana untuk mengunjungi kerabat yang sakit. Tidak ada pemeriksaan. Ditandatangi oleh Kim Nae Chon.”


Lee Yool merasa heran karena Putri Mahkota terus melewatkan pemeriksaan rutin yang harusnya dijalani setiap bulan.


Dong Joo bertanya apakah Lee Yool sudah memiliki jawaban atas kecurigaannya. “Mungkin,,, selama ini aku sudah tahu jawabannya,” kata Lee Yool.


Tepat setelah menutup bukunya dengan kesal, Putri Mahkota mendengar kalau suaminya datang. Ia langsung memastikan bahwa rambutnya rapi, lalu berdiri menyambutnya. Ia bertanya kenapa Lee Yool tidak datang tanpa pemberitahuan.


Lee Yool bilang ia tidak sabar ingin menyapa istrinya. Dayang bertanya apakah Lee Yool ingin dibawakan teh dan makanan ringan. “Tidak. Tinggalkan kami. Aku ingin berdua bersama istriku,” kata Lee Yool.


Dayang mengerti dan pamit pergi. Saking senangnya karena majikannya dikunjungi suaminya, ia bahkan tidak menyadari kalau berjalan mundur terlalu jauh hingga menabrak pintu. “Aku minta maaf,” kata dayang itu lalu keluar. Putri Mahkota bilang pelayannya hanya terkejut.


“Kau sendiri terkejut. Kau terlihat sangat pucat,” kata Lee Yool. Putri Mahkota bertanya apakah Lee Yool tidak senang melihatnya. “Ya. Jadi aku menyiapkan sesuatu. Kasim Yang, berikan.”


Seorang tabib wanita datang. Putri Mahkota terkejut dan meremas tangannya yang disembunyikan di dalam bajunya. Lee Yool menyadari itu. “Kenapa kau membawa seorang tabib?” tanya Putri Mahkota. Lee Yool bilang itu karena istrinya terlihat pucat dan lemah, serta melewatkan dua pemeriksaan fisik bulanan. Ia meminta tabib itu memeriksa denyut nadi dan meresepkan obat.


Putri Mahkota semakin terkejut.


“Yang Mulia,” panggil tabib itu. Putri Mahkota semakin menyembunyikan tangannya. Lee Yool mengulangi perintahnya. Dengan takut-takut, tabib itu akan menyentuh tangan Putri Mahkota.


Putri Mahkota menjauhkan tangannya dan berkata, “Aku memiliki gangguan pencernaan dan itu akan muncul dalam denyut nadiku.” Lee Yool mencibir tipis. “Aku akan diperiksa ketika sudah merasa lebih baik, agar aku tidak lagi membuatmu khawatir.”


Lee Yool bilang padahal dia sedang menjalani anjuran Ratu agar lebih memperhatikan istrinya. Putri Mahkota meminta maaf dan Lee Yool menyuruh tabib itu keluar.


Setelah tabib itu pergi, barulah Putri Mahkota bisa bernapas dengan agak lega. Putri Mahkota lalu beranjak dari tempat duduknya. Putri Mahkota ikut berdiri. “Putri Mahkota… Kita tidak pernah berpegangan tangan. Tapi kau hamil?” tanya Lee Yool yang membuat ekspresi Putri Mahkota berubah. “Kenapa kau sangat terkejut?”


Putri: “Aku… tidak mengerti apa maksudmu.”
Lee Yool: “Menurut temanku, istrinya hamil, padahal mereka tidak pernah menghabiskan malam bersama. Dia bertanya apa yang harus dilakukan dengan istrinya atas perbuatan jahatnya. Bagaimana menurutmu?”
Putri: “Bagaimana kau bisa memintaku untuk memberikan jawaban atas insiden tragis seperti itu?”


“Tragis?” tanya Lee Yool yang mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang harus dicatat dalam sejarah. “Dia harus ditulis… sebagai wanita hina dalam keluarganya.”


Putri Mahkota bertanya apa yang akan Lee Yool lakukan jika berada di posisi temannya itu. “Kau dan keluargamu akan selesai. Aku akan menunggu keputusannya, karena masih ada waktu yang kita habiskan bersama,” kata Lee Yool serius.


Putri Mahkota menyebut Lee Yool sangat bijaksana. “Pada saat yang sama, aku adalah Putra Mahkota yang malang,” kata Lee Yool lalu pergi.


Raja berkumpul dengan beberapa menterinya dan menanyakan tentang lukisan naga. Salah satu menteri mengatakan bahwa lukisannya sudah dicat dengan sangat bagus, sehingga naga itu seperti terbang ke langit dan efektif.


“Harus. Hujan harus turun dalam waktu dekat. Aku merasa terbebani,” kata Raja. Cha Eon menganjurkan agar Raja tidak mengikuti ritual hujan berikutnya. Semua orang terkejut. “Apa yang kau bicarakan?”


Cha Eon bilang mereka sudah mengadakan beberapa ritual, tapi hujan belum juga turun. Ia khawatir ritual berikutnya juga akan gagal.


Kasim Yang memberitahu Lee Yool kaalau Raja ingin segera menemuinya. “Waktunya tepat,” kata Lee Yool sambil berjalan dengan cepat.


Raja meminta Lee Yool berpartisipasi dalam ritual hujan atas namanya. “Silakan cabut perintahmu,” tolak Lee Yool. Raja terkejut. “Maafkan aku. Tapi aku menghadapi masalah yang sulit untuk diselesaikan.” Raja bertanya apakah Lee Yool ingin mempermalukan dan mengingatkan bahwa mereka sedang sering mengalami bencana alam sehingga ada ribuan keluhan.


Lee Yool merasa prihatin, karena ayahnya tidak menanyakan masalah apa yang dialami putranya. Raja bilang masalah Lee Yool tidak mungkin lebih buruk dari penderitaannya. “Baiklah. Apa yang menyebabkanmu tidak bisa datang ke ritual?” tanya Raja dan Lee Yool diam saja. “Jawab aku!”


Lee Yool bilang jika dibandingan dengan beban Negara Raja, masalahnya hanya seringan bulu. Raja merasa tersinggung.


“Sejak hari itu, 10 tahun lalu, kau menatapku dengan mata itu. Mata itu menatapku sebagai orang yang membunuh ribuan orang demi mengambil tahta,” kata Raja dengan sedih.


Raja bilang karena kepribadian kasar raja sebelumnya, ia tidak bisa bernafas lega bahkan untuk satu hari saja. “Sesudah membunuh Kyung San, target berikutnya raja adalah aku. Jika aku tidak mengeluarkan pedang malam itu, kau dan aku tidak akan bisa hidup sekarang. Kau harus membunuh agar tidak terbunuh. Dan kau… setidaknya kau… tidak membenciku,” kata Raja yang terluka hatinya.


Lee Yool bilang sampai hari ini ia akan membenci Raja semaunya sebagai putranya. “Tapi setelah hari ini, aku tidak akan menjadi putramu. Jadi aku tidak akan membencimu lagi. Aku… akan ikut dalam ritual hujan seperti perintahmu,” katanya.


Lee Yool mengatakan bahwa setelah kembali dari ritual, Raja tidak boleh menghentikan apapun keputusannya sebagai Putra Mahkota. Ia kemudian pergi.


“Aku anak yang durhaka,” tulis Lee Yool. “Sejak aku memasuki istana, kebencian terhadap ayahku belum memudar sedikit pun. Ia kemudian membuka salah satu laci mejanya.


Ia mengambil sebuah kotak kayu dan mengeluarkan pita milik Yi Seo.


Ia mengenang saat Yi Seo mengikat lukanya dengan pita itu.


“Aku tahu kau tidak akan hidup lagi. Hatiku juga tidak ingin diringankan. Tapi, aku masih harus membalas dendam. Aku akan membuat mereka membayar harga atas perbuatannya kepadamu,” kata Lee Yool di dalam hati,


Comments


EmoticonEmoticon