9/13/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 PART 5

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 BAGIAN 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 2 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 3 Preview

“Aigoo..ku lelah. Aku tidak bisa melakukannya lagi,” kata ayah yang kemudian merasa perutnya sangat sakit. “Kenapa ini?” Ia segera berlari mencari tempat tersembunyi.


Ayah merasa sangat lega setelah buang air besar. Ia heran kenapa buang air besar begitu banyak, padahal jarang makan makanan yang bergizi. “Bagaimana ceboknya ya?” kata ayah sambil melihat sekeliling.


Ayah terkejut karena melihat sebuah tangan muncul di antara semak-semak.


Seorang pengawal kerajaan terbangun dari pingsannya. Ia memegang lengannya yang terluka dan terlihat panic karena semua temannya sudah tewas.


Pengawal itu pulang ke kerajaan dan melaporkan penyerangan yang terjadi. Ia sudah mencari sekeliling lokasi kejadian, tetapi tidak bisa menemukan Lee Yool. Raja terduduk lemas dan para menteri juga terlihat bingung.


“Kirim semua pasukan yang ada untuk menemukan secepatnya,” perintah Raja gugup. Ia meminta Pengadilan Negeri mengidentifikasi pelakunya dan menangkapnya. “Aku akan membalasnya! Aku akan mencabik-cabik mereka!”


Cha Eon bilang Raja tidak bisa melakukan itu. Ia mengingatkan bahwa banyak bencana alam menyebabkan rakyat sangat membenci Raja. “Jika mereka mendengar Putra Mahkota diserang, maka mereka akan semakin kesal dan khawatir,” ujarnya.


Raja bertanya apa yang harus ia lakukan. Menurutnya ini adalah konspirasi. “Ini pengkhianatan!” teriak Raja marah. 


Menteri Peperangan menduga kalau Lee Yool belum ditemukan berarti dia masih hidup. Ia menyarankan agar Raja mengirim orang secara rahasia untuk menghentikan rumor buruk menyebar. “Yang Mulia, jaga rahasia ini agar tidak ada yang mendengar di luar istana,” kata Cha Eon yang juga menyarankan agar penjaga istana menyelidiknya secara rahasia.


Menteri Jung tampak memikirkan sesuatu. Raja akhirnya setuju dengan usulan Cha Eon, dan berpesan agar penyelidikan dilakukan secara cepat. Menteri Peperangan lalu pergi untuk memanggil penjaga istana.


“Kau harus kembali… sebagai mayat,” kata Putri Mahkota dalam hati.


Sementara itu, Ratu tampak berdoa dengan sangat serius. “Kau jangan.. pernah kembali,” katanya dalam hati.


Kkeut Nyeo membantu Hong Sim mengemas tanaman herbal yang sudah dikeringkan. Ia penasaran kenapa Sun Do membutuhkan sebanyak itu. Gu Dol, yang sudah menjadi suami Kkeut Nyeo, berkata bahwa Sun Do memerlukannya karena punya 5 istri.


Kkeut Nyeo tersenyum malu-malu dan berkata bahwa ia dulu membantu Hong Sim saat mengambil tanaman itu. Hong Sim bilang ia akan menjualnya dan membagi hasilnya. Kkeut Nyeo sangat senang.


Hong Sim membawakan tanaman herbal itu dan menjelaskan pada Sun Do bahwa kualitasnya terbaik dan harganya lumayan tinggi. Sun Do bertanya berapa yang Hong Sim ingin. “20 yang?” kata Hong Sim.


Sun Do malah menawarkan 2000 yang asalkan Hong Sim menjadi miliknya. Hong SIm bertanya apakah maksudnya dia akan menjadi selir kelima Sun Do. Sun Do tertawa dan berkata Hong Sim akan mendapat masalah jika sampai besok belum menikah, jadi dia hanya ingin menyelamatkan Hong Sim.


“Ada seorang pria yang aku tunggu,” kata Hong Sim. Sun Do bilang Hong SIm akan mati dipukul karena menunggu orang yang tidak akan pernah kembali. Hong Sim tetap menolak, lalu pamit pergi.


Sun Do berdehem dan melemparkan kantong uangnya sebagai bayaran atas tanaman herbal Hong SIm. “Taruh tanaman itu di gudang,” katanya.


“Apa ini? Anjing yang muncul dalam mimpi ayah adalah Tuan Park Sun Do?” gumam Hong Sim saat masuk ke dalam gudang. “Ini konyol sekali.” Tiba-tiba pintu dikunci dari luar. “Apa? Apa yang terjadi?”


Hong Sim berteriak bahwa ada orang di dalam gudang. “Jangan bergerak dan tetap diam!” kata pelayan Sun Do yang mengunci pintu dari luar. Hong Sim terus menggedor pintunya.


“Kau tidak akan pernah bisa membuka pintu! Jangan memberinya seteguk air pun! Hahaha..” kata Sun Do lalu pergi.


Hong Sim menendang-nendang pintunya, tapi tetap tidak terbuka. Ia akhirnya duduk karena kelelahan.


Keesokan paginya, Sun Do datang dan bertanya apakah Hong Sim sudah berubah pikiran. “Tidak mungkin,” kata Hong Sim. Sun Do menyesalkan keputusan Hong Sim.


Sementara itu, ayah sedang sibuk mengobati Lee Yool. Ayah khawatir Lee Yool mati dan menyesal membawanya pulang.


“Aigoo.. aku tidak tahu dari keluarga mana dia berasal, tapi dia terlihat sangat tampan. LIhatlah hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tebal. Astaga, bahkan wajahnya… terlihat sangat lembut,” kata ayah.


Ayah ingin menyentuh wajahnya, tapi tiba-tiba Lee Yool mengernyitkan alisnya dan perlahan membuka matanya. “Kau sadar?” sapa ayah. Lee Yool diam saja. “Kau bisa melihatku? Apa kau sadar?” tanya ayah lagi.


Ayah lalu membantu Lee Yool bangun dan bertanya bagaiman adia bisa terluka parah begitu. “Siapa namamu?” tanya ayah. Lee Yool tidak menjawab. “Kau bisa bicara?” Lee Yool masih terdiam. “Aigoo… kau pasti lapar.


“Aku tidak suka,” kata Lee Yool saat ayah menyodorkan makanan. Ayah senang karena orang yang ditolongnya bisa bicara. Ayah bertanya siapa namanya dan dimana rumahnya. “Aku tidak… ingat.”


Ayah merasa prihatin. “Apa dia melukai kepalanya dan menjadi bodoh?” gumam ayah yang melihat kepala Lee Yool berlumuran darah. Lee Yool menatapnya tajam dan ayah menyuruhnya makan lagi.


“Ayah Hong Sim!” teriak Gu Dol sambil berlari. “Ayah Hong Sim! Ayah Hong Sim!” Ayah keluar rumah dan bertanya kenapa Gu Dol datang. “Ini gawat! Hong Sim akan mati!” Ayah bertanya apa maksudnya.


“Hari ini akhir bulan! Patroli mengatakan mereka akan menghukumnya dengan 100 pukulan dan membawanya!” kata Gu Dol. Ayah panic dan berlari mengikuti Gu Dol.


Tapi tiba-tiba ayah berhenti dan menoleh lagi ke rumahnya.


Sementara itu di Kantor Pemerintahan, Hong Sim sudah menerima 29 pukulan.


Para wanita merasa kasihan melihat Hong Sim dipukuli. Algojo akan memukul lagi, Boo Young menyuruhnya berhenti


Boo Young menyarankan agar Hong Sim mengubah pikirannya agar hidupnya menjadi lebih baik. “Tuan Park merasa kasihan padamu dan ingin memilikimu sebagai selir,” ujarnya.


Hong Sim bilang ia tidak punya niat menjadi selir. Ia mengingatkan bahwa dia sudah punya janji menikah. Boo Young bertanya apakah pria itu adalah Won Deuk yang sedang berperang.


Boo Young bilang hari ini adalah akhir bulan dan Hong Sim tidak aka bisa bertahan hidup jika tidak mematuhi perintah Putra Mahkota. Hong Sim bertanya apakah Putra Mahkota memerintahkan Boo Young untuk menghukum mereka yang tidak bisa menikah.


“Aku tidak percaya padamu… jadi bawa aku ke Putra Mahkota,” kata Hong Sim mulai menangis. Boo Young menyuruh algojo melanjutkan hukumannya.


Setelah dua kali pukulan kali, Boo Young bertanya lagi apakah Hong SIm ingin dihukum atau menikah. Hong SIm menatapnya tajam, lalu Boo Young memerintahkan agar pukulan dilanjutkan.


“Berhentiiii!” teriak ayah yang datang sambil berlari. “Berhentiiii….! Ya Tuhan, tidak! Hentikan hukumannya! Won Deuk sudah kembali! Won Deuk sudah kembali dari perangnya!”


Hong Sim terlihat bingung dengan perkataan ayahnya. Boo Young kesal karena ayah berbohong demi menyelamatkan Hong Sim. “Ini benar! Won Deuk-ah…!” panggil ayah.


Pintu gerbang terbuka lagi dan Gu Dol masuk bersama Lee Yool di belakangnya.


“Apa itu Won Deuk?” “Astaga.” Bisik orang-orang yang ada di sana sambil memperhatikan Lee Yool.


4 komentar

  1. Dtungguuuu kelanjutannnya.........semangggggggat

    BalasHapus
  2. Makin seru...☺👍💕

    BalasHapus
  3. Cerita ny seruuuu
    Ditunggu episode selanjutnya
    Semangattt 💪💪

    BalasHapus


EmoticonEmoticon