9/19/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 3 PART 3

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 3 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 3 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 3 Part 4

Raja mengatakan bahwa dia tidak bisa hanya duduk dan menunggu. Ia ingin bicara dengan pengawal yang datang dari Gunung Chunwoo.


Kasim bilang pengawal itu meninggal saat sedang menjalani perawatan. “Apa? Apa yang tabib kita lakukan?!” tanya Raja kesal dan Kasim tidak menjawab. “Dia adalah satu-satunya saksi atas masalah ini.” Kasim hanya bisa meminta maaf.


Raja merasa itu semua adalah kesalahannya. Ia menyesal karena sebagai ayah, ia malah membiarkan orang lain menangani tugas yang sangat penting. Kasim menyarankan agar Raja menunggu dan mempercayai Cha Eon mengurusnya, karena Cha Eon adalah mertua Lee Yool.


Raja menolak. Ia meminta Kasim mempersiapkan perjalanan rahasianya. Kasim mengangguk. “Aku akan pergi ke Gunung Chunwoo untuk menyelidikinya sendiri,” kata Raja.


Dalam perjalanan, Raja dihadang oleh pasukan Moo Yeon. Raja bertanya siapa mereka. “Wakil Perdana Menteri yang mengirim kami,” kata Moo Yeon yang menutupi sebagian wajahnya.


Cha Eon datang dari arah berlawanan dan menyuruh anak buahnya untuk menyarungkan pedangnya dan memberi salam hormat pada Raja. Mereka semua kemudian berlutut.


Cha Eon bilang hal semacam itu bisa terjadi dalam perjalanan menuju Gunung Chunwoo. “Jika pembunuh datang menyerangmu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya. Raja tidak menjawab. “Inilah bahaya di balik dinding istana. Itulah mengapa Anda harus tinggal di dalam istana.”


Cha Eon bilang jika penyerang Lee Yool juga menyerang Raja, maka tidak ada yang akan memerintah bangsa mereka lagi. “Jadi tolong percaya padaku untuk menemukan Putra Mahkota dan mengamankan tahta selanjutnya. Tolong kembalilah ke istana, aku yang akan mengantarmu kembali,” lanjutnya.


Raja tidak bisa berbuat apa-apa.


Gubernur datang ke kantor pemerintahan untuk menyaksikan pernikahan. Ia tampak puas karena persiapannya akan segera selesai.


Hong Sim juga sudah berada di salah satu ruangan di sana dan sedang merias dirinya. Ia tampak sedih. Saat melihat ayahnya datang, Hong Sim berusaha agar air matanya tidak jadi mengalir.


Ayah menyesal karena sudah membesarkan putri bangsawan dengan tidak layak. Ia juga meminta maaf karena membuat Hong Sim menikahi pria aneh.


“Aku tidak membenci ayah. Aku malah bersyukur ayah telah menyelamatkan hidupku. Tapi, aku merasa tidak enak menikah, karena tidak mengetahui apakah kakakku masih hidup,” kata Hong Sim.


“Anggap ini sebagai hadiah dari kakakmu,” kata ayah sambil mengeluarkan tusuk rambut. Hong Sim sangat sedih. Ia berpura-pura haus dan keluar ruangan.


Gu Dol bilang bahwa seorang pria harus tahu bagaimana bertanggung jawab. Ia kesal karena Won Deuk tidak juga ingat ataupun  mengerti apa yang terjadi di lumbung padi (sebelumnya aku tulis: air terjun). Ia menyuruh Won Duk mengikutinya.


“Beraninya kau meninggikan suaramu?!” protes Won Deuk. Gu Dol kesal karena Won Deuk bicara keras padanya. Ia bahkan ingin memukul Won Deuk. “Jalanlah duluan,” kata Won Deuk.


Tidak lama kemudian, Hong Sim keluar dan semua orang memuji kecantikannya. Ayah masih terlihat sedih, tapi ia kemudian tersenyum kepada Hong Sim. Gu Dol dan Won Deuk juga datang ke sana.


“LIhatlah, betapa cantiknya dia. Won Deuk, kau bocah yang beruntung,” kata Gu Dol.


Won Deuk tidak menjawab. Ia dan Hong Sim saling menatap dengan rasa kesal di dalam hatinya masing-masing.


Sun Do yang tadinya tersenyum melihat kecantikan Hong Sim, kemudian berubah kesal saat melihat Won Deuk.


Sementara itu di istana, Je Yoon sedang menatap kuis yang diberikan Lee Yool sebelumnya. Soo Ji datang dan berkata bahwa Lee Yool harus segera kembali, karena dia ingin tahu apakah ini adalah jawaban yang diinginkannya.


Je Yoon bilang itu adalah pertanyaan yang Lee Yool pecahkan sendiri.


Setelah menceritakan analisisnya tentang kematian tabib wanita, Je Yoon diminta agar menjauhi kasusnya. Sebelum Lee Yool pergi, Je Yoon bertanya kenapa jawabannya salah. Lee Yool terdiam.


Je Yoon bilang kuis itu harus diselesaikan dengan kecerdasan dan bukan pengetahuan. “Ada segi empat dalam huruf secara berurutan mulai dari 1 hingga 5. Jadi yang kosong membutuhkan surat dengan tiga persegi panjang. Jadi jawabanku adalah huruf Cina untuk jaring,” jelas Je Yoon.


Je Yoon bertanya kenapa jawabannya benar dan juga salah. Lee Yool bilang jawaban Je Yoon dangkal sehingga membuat kalimatnya tidak terdengar logis.


Lee Yool menyempurnakan jawabannya. “Jawabanku adalah huruf Cina untuk dianut,” kata Lee Yool.


Je Yoon: “Merangkul. Masyarakat memeluk 10.000 akar.”
Lee Yool: “Benar. Akuu ingin kau melengkapi jawabannya dengan huruf Cina yang memiliki tiga persegi panjang.”
Je Yoon: “Maafkan aku.”


Soo Ji sudah mengerti apa yang terjadi sekarang. Ia bilang ia merasa sangat tidak nyaman, karena Lee Yool selalu tidak nyaman. “Sekarang dia tidak ada, aku merasa lebih tidak nyaman. Aku berharap dia segera kembali,” kata Soo Ji.


Lee Yool bilang walaupun jawabannya salah, menurutnya Je Yoon cepat tanggap. “Aku akan mengingatmu untuk tujuan besar,” katanya.


“Aku anak seorang selir. Apa Anda masih akan mengingatku?” tanya Je Yoon. Lee Yool senang mendengarnya, karena ia hampir cemburu jika Je Yoon tidak memiliki kelemahan itu.


“Aku juga berharap… dia segera kembali,” kata Je Yoon.


Gu Dol membawa Won Deuk ke sebuah lumbung padi terdekat. Ia bilang tidak pernah ke sana dengan seorang pria. “Jadi kalian berdua pasti melakukan ini dan itu… di sini,” kata Gu Dol. Won Deuk tidak mengerti.


Gu Dol menunjuk tumpukan jerami dan menyuruh Lee Yool melihat sekeliling, tapi Won Deuk tetap tidak ingat apa-apa. Ia bahkan tidak mengerti apa maksud Gu Dol.


Gu Dol sangat putus asa. “Itu pasti di malam hari…” katanya.


“Kau pasti membuka pintu dan masuk.”


“Hong Sim pasti berdiri di sini. Dia pasti terlihat lebih cantik, karena malam itu gelap.”


“Jadi kau pasti memeluknya dengan erat.”


“Memeluknya… pasti membuatmu ingin melepaskan pakaiannya. Kalian berdua pasti jatuh di tempat tidur jerami ini bersama.”


“Tidak. Aku tidak mungkin melakukan itu,” kata Won Deuk yang baru memahami maksud Gu Dol. Gu Dol percaya Won Deuk tidak melakukan itu, jadi dia membayangkan kisah lain yang mungkin terjadi.


“Hong Sim pasti membuka pintu dan melangkah masuk. Kau sudah ada di sini dan meminta putus, karena harus bergabung dengan militer.”


“Tapi Hong Sim sudah terlalu tua untuk menikah, jadi dia pasti tidak mau kehilanganmu.”


“Dia pasti sengaja melompat padamu. Kau pasti… jatuh pada akhirnya.”


“Tidak! Tidak mungkin aku terlibat dengan kejadian seperti itu,” kata Won Deuk. Gu Dol kesal karena Won Deuk terus mengelak. Ia bilang ia juga baru menikah dan merasa tidak nyaman sebelumnya. Tapi sekarang ia bahagia dan merasa lebih baik daripada yang ia harapkan.


“Baiklah. Pikirkan malam yang panjang. Ada seseorang berbaring di sebelahmu. Menurutmu, apa yang akan kau lakukan dengannya?” tanya Gu Dol. Won Deuk bilang memikirkannya saja sudah membuatnya tidak nyaman. “Menyerahlah. Atur pemikiranmu itu. Hanya itu caranya.”


Gu Dol lalu meninggalkan Won Deuk sendiri di sana.

1 komentar


EmoticonEmoticon