9/22/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 4 PART 1

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 4 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 3 Part 5
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 4 Part 2

Untuk membebaskan diri, Hong Sim memiliki ide agar mereka berguling, tapi Won Deuk tidak setuju. Hong Sim bertanya apakah sekarang Won Deuk menikmati keadaan itu.


“Di belakangmu… aku melihat tikus,” kata Won Deuk. Hong Sim agak terkejut.


“Perlahan menuju ke sini. Mata kami bertatapan. Apa yang harus kulakukan?” kata Won Deuk. Hong Sim bilang itu hanya tikus kecil. “Tikus itu bisa tiba-tiba melompat ke wajahku.”


Hong Sim bilang itulah mengapa mereka harus berguling. Won Deuk menolak berguling ke kanan, dan juga ke kiri , karena mereka akan menggilas tikus itu. Hong Sim menyuruhnya berguling, tapi Won Deuk tetap menolak. “1, 2, 3!” kata Hong Sim lalu menggulingkan tubuhnya. Won Deuk berteriak.


Sementara itu di hutan, kedua pria yang mencegat Hong Sim menemui ayah dan mengatakan bahwa tugas mereka sangat mudah. Mereka menceritakan apa yang mereka lakukan pada Hong Sim dan Won Deuk.


Setelah membuat Hong Sim dan Won Deuk pingsan, kedua pria membawanya ke sebuah gudang. Kedua pria itu bertengkar karena mereka tidak membawa tali untuk mengikat, padahal Won Deuk dan Hong Sim bisa keburu sadar.


“Bagaimana kalau kita gunakan itu?’ usul salah satu pria sambil menunjuk gulungan tikar.


Pria itu yakin sekarang Hong Sim dan Won Deuk sedang menikmati kebersamaan mereka. Ia menengadahkan tangannya dan meminta bayaran dari ayah. Ayah memberikan mereka upahnya.


Setelah lepas dari tikar tadi, Hong Sim kemudian merapikan dirinya, sedangkan Won Deuk tampak murung. “Hong Sim!” panggil ayah yang datang dengan cemas. “Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?”


Hong Sim merasa heran karena ayahnya bisa tahu kalau mereka ada di sana. “Aku khawatir, jadi aku mengikutimu,” jawab ayah berbohong. Hong Sim bilang tidak terjadi apa-apa dan meminta ayahnya tidak perlu khawatir.


Won Deuk: “Apa maksudmu tidak ada yang terjadi?! Aku membunuh seseorang!”
Ayah: “Apa? Kau membunuh seseorang? Apa yang kau katakan? Apa kau membunuh seorang pria?”
Won Deuk: “Aku menindih tikus dengan punggungku. Aku belum pernah melakukan hal yang mengerikan seperti itu sebelumnya.”


Ayah bilang itu terjadi karena mereka ingin pergi ke desa atas. Won Deuk bilang semuanya salah Hong Sim. Hong Sim bilang itu semua demi Won Deuk agar bisa mendapatkan semua uangnya.


“Aku tidak butuh uang itu! Jadi jangan pernah mengajakku ke desa atas lagi,” kata Won Deuk. Ayah setuju dengan ucapan Won Deuk. Ia lalu mengajak mereka semua pulang.


Ayah mengulurkan tangan dan Hong Sim ingin meraihnya. Tetapi ternyata ayah malah meraih tangan Won Deuk. Tapi Won Deuk mengibaskan tangan ayah lagi dan berkata, “Tidak, terima kasih.” Won Deuk pergi lebih dulu.


Hong Sim menatap ayah dengan kecewa, karena lebih memilih meraih tangan Won Deuk daripada tangannya untuk pulang tadi.


Di istana, dayang menyajikan makanan untuk Raja. “Ini… kue daging favorit Putra Mahkota,” kata Raja. Ratu bilang itu juga favorit Raja. Ia meminta dayang menyiapkan makanan itu, karena tahu Raja sedang tidak nafsu makan.


Raja marah dan membalik meja makannya. Ia bilang mereka belum tahu apakah Lee Yool sudah mati atau masih hidup. “Tidak cukup bahkan jika aku hanya kehilangan nafsu makan! Dan kau melayaniku dengan kue daging?!”


Ratu bilang tidak makan akan membahayakan kesehatan Raja. Ia yakin Lee Yool akan kembali dengan selamat. “Apa kau bersungguh-sungguh? Apa kau yakin kau ingin dia kembali?” tanya Raja.


“Ayah…” sela Pangeran Seowon. Ratu bertanya apakah Raja juga berpikir kalau ia ingin menjadikan Pangeran Seowon menjadi Putra Mahkota. Ratu bilang semua orang mencurigainya setiap kali terjadi sesuatu pada Lee Yool.


Pangeran Seowon bilang Ratu sangat ingin Lee Yool kembali dengan selamat. “Ibu bilang dia takut dia mungkin dicurigai sebagai dalang dan hidupku mungkin akan berada dalam bahaya. Tolong pahami perasaannya,” kata Pangeran Seowon dan Ratu pura-pura bersedih.


Raja bilang ia menjadi sensitif dan meminta istrinya tidak memasukkan perkataannya tadi ke dalam hati. Ratu pura-pura menangis.


Kwon Hyuk, pengawal kerajaan yang pernah membantu Lee Yool keluar istana, menemui Menteri Pertahanan. Ia bilang tidak cukup jika mereka hanya mencari di gunung saja. Karena jasad Dong Joo juga belum ditemukan, ia menduga Dong Joo dan Lee Yool pergi ke desa.


“Kau seorang petugas penjaga istana. Beraninya kau mencoba memberikan pendapatmu kepadaku?!” kata Menteri Pertahanan tersinggung. Kwon Hyuk meminta maaf. “Lebih teliti dalam mencari. Cari di setiap batu dan semak di pegunungan!”


Won Deuk tidak mau pergi ke desa atas lagi. Ia bilang ia merasa tertekan karena ia adalah yatim piatu tanpa uang sepeser pun. “Kau harus menggerakkan tubuhmu saat kau depresi,” kata Hong Sim. Won Deuk bilang ia lelah karena semalam tidak bisa tidur.


Hong Sim malah merasa kalau Won Deuk tidur dengan nyenyak. Ia bilang tubuhnya masih lelah, karena terluka. Hong Sim berpura-pura akan memukulnya dan Won Deuk mengangkat tangan kanannya. Hong Sim bilang Won Deuk sehat-sehat saja. “Tangan kiriku yang terluka,” kata Won Deuk membela diri.


Hong Sim bilang mereka harus membayar banyak pajak, jadi minimal Won Deuk harus menghasilan uang untuk makanannya sendiri. “Aku tidak makan,” kata Won Deuk. Hong Sim benar-benar akan memukulnya.


“Hentikan!” kata ayah. Hong Sim menurunkan tangannya dengan kesal. Ayah menyuruh Won Deuk dan Hong Sim beristirahat di rumah, dan dia sendiri akan pergi. Hong Sim menyuruh Won Deuk membersihkan kotoran dan memutar jeraminya tiga kali, lalu ia pergi.


Kkeut Nyeo bertanya kenapa setelah menikah Hong Sim malah menjadi lesu. Wanita lain menggoda itu karena Hong Sim kurang tidur semalam. KKeut Nyeo bilang ia merasa iri karena Hong Sim menikah dengan pria tampan.


“Dia ternyata tidak punya uang. Yang dia miliki hanyalah tubuhnya,” keluh Hong Sim. Kkeut Nyeo merasa aneh, karena Hong Sim seharusnya sudah kenal lama dengan Won Deuk. “Aku tahu dari dulu, jadi aku semakin kesal.”


Hong Sim kemudian berteriak karena jarinya tertusuk anyaman bambu dan berdarah.


Won Deuk melihat sekeliling rumah dan merasa tidak nyaman. Ia juga melihat seekor anjing dan setumpuk kotoran. Bok Eun datang memanggil Won Deuk dan menyebutnya tidak sopan karena tidak menyahut. “Aku tidak terbiasa dengan nama Won Deuk,” kata Won Deuk.


Bok Eun merasa tidak asing dengan wajah Won Deuk. “Kau seorang petani, tapi kau bicara seperti seorang guru dari Hanyang,” ujarnya. Won Deuk malah menduga kalau ia adalah seorang saudagar dari Hanyang. “Kau mabuk di siang hari? Hentikan omong kosong itu dan kembalikan pakaian pernikahannya.”


Bok Eun mengeluh karena Won Deuk hanya menunjuk pakaian itu dengan matanya dan dia harus mengambilnya sendiri. Bok Eun juga meminta Won Deuk melepaskan sepatu yang dipakainya.


Won Deuk menatap sepatu pinjamannya, tapi tidak mau melepasnya. Ia bilang sebelumya ia memakai sepatu jerami yang membuatnya tidak nyaman. Bok Eun memintanya lagi, dan Won Deuk tetap menolak. Won Deuk lalu melarikan diri, karena tidak mau menyerahkan sepatunya.


Bok Eun mengejar Won Deuk, tapi ia berhenti di tengah jalan, karena Won Deuk berlari sangat cepat. Setelah keadaan aman, Won Deuk berjalan dengan santai dan sampai di pasar.


Ia melihat toko pakaian dan membandingkannya dengan pakaian yang dipakainya. Perhatiannya kemudian tertuju pada toko selimut. “Ini sutra Hwamun dari Seongcheon,” kata Won Deuk. Bibi penjual merasa heran karena Won Deuk bisa tahu hanya dengan melihatnya saja. “Sutranya memang berkualitas tinggi, tetapi warnanya tidak harmonis. Apa kau punya barang dengan cahaya lilin berwarna merah?” Bibi memuji selera Won Deuk yang sangat tinggi untuk penampilannya, dan bilang harganya sangat mahal.


“Tunjukkan saja padaku. Aku ingin banyal bersulam peony dan selimut warna merah delima,” kata Won Deuk. Bibi itu sangat senang dan mengambilkan barangnya.


Bibi itu memberikan harga 15 Yang. Ia bertanya berapa uang yang Won Deuk miliki sekarang. “Tidak ada,” jawab Won Deuk. Bibi terkejut dan mengulangi pertanyaannya. Won Deuk tetap memberikan jawaban yang sama. Bibi itu marah karena merasa Won Deuk hanya mempermainkannya.


Won Deuk: “Beraninya kau bicara seperti itu?! Apa kau tahu siapa aku?”
Bibi: “Kenapa kau… Aish..”


BIbi itu pergi ke dalam toko, lalu keluar lagi sambil melempar ke arah Won Deuk. “Pergilah sebelum aku melemparkan lebih banyak garam padamu!” Won Deuk terkejut.


1 komentar


EmoticonEmoticon