9/28/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 PART 2

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 Part 3

Dalam perjalanan di gunung, ayah bertemu dengan Kwon Hyuk, penjaga istana kepercayaan Lee Yool. Ayah terkejut karena melihat orang berseragam istana berada di sana. Ayah bilang ia adalah petugas suar dan sedang dalam perjalanan menuju tempat kerjanya.


“Kau tidak melihat pria aneh di gunung ini beberapa hari lalu?” tanya Kwon Hyuk. Ayah bilang selama ini ia hanya melihat hewan yang datang ke sana, bukannya manusia. Ayah bertanya siapa yang sebenarnya Kwon Hyuk cari. “Itu…”


“Tuan….” Panggil seorang penjaga dengan tergesa-gesa. “Anda harus bergegas.” Kwon Hyuk memperbolehkan ayah pergi tanpa menjelaskan tentang pria yang ia cari tadi. Ia lalu mengikuti bawahannya pergi.


“Entah siapa yang kau cari, tapi kau tidak bisa mencari orang itu,” gumam ayah.


Kwon Hyuk terkejut saat mendengar bahwa telah ditemukan jubah yang diduga milik Putra Mahkota di sungai. Ia bergegas menuju lokasi.


Hong Sim membawa Won Deuk ke tempat penyimpanna kayu bakar. Ia bilang memotong kayu bakar bisa membantu Won Deuk mengingat perangainya. Ia mengambilkan kapak untuk Won Deuk. “Selama apapun aku melihatnya, ini tampak asing,” kata Won Deuk. Hong Sim menyuruhnya mencoba saja dulu.


Hong Sim yakin walaupun pikiran Won Deuk lupa, tapi tubuhnya akan mengingat kebiasaannya. Ia yakin itu bisa membantu Won Deuk mengingat siapa dirinya.


Won Deuk mengambil ancang-ancang. Ia berusaha memotong kayunya, namun gagal. Ia tidak memiliki kekuatan sama sekali.


Selanjutnya, Won Deuk mencoba menggulung jerami, tapi ia gagal lagi. Hong Sim terlihat kesal.


Won Deuk kemudian menggunakan sabit untuk memangkas tanaman. Tidak peduli seberapa keras ia berusaha, batang tanaman itu tidak juga patah. Sabitnya bahkan terlepas dari gagangnya dan membuatnya terjatuh. Hong Sim bertambah kesal, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.


Dalam perjalanan pulang, Won Deuk bilang sabit itu sangat berbahaya dan itu bukan jenis pekerjaannya. Hong SIm tidak menyahut. Won Deuk bilang setiap manusia dilahirkan dengan bakat berbeda, jadi ia yakin kalau ia pandai dalam melakukan suatu hal. “Diammu membuatku merasa tidak nyaman,” lanjutnya.


Hong SIm berbalik dan berkata, “Semua tentang dirimu membuatku merasa tidak nyaman. Bahasa bangsawan payah itu adalah ciri terburukmu! Bawa ini dan ikuti aku!” Hong Sim menyerahkan kotak kayu pada Won Deuk, lalu berjalan dengan cepat.


Cha Eon memperhatikan topi Lee Yool yang berhasil ia temukan. Menteri Pertahanan yakin mereka akan segera menemukan jasadnya. “Kau merepotkanku bahkan setelah mati, Putra Mahkota,” kata Cha Eon dalam hati.


“Sebelah sini!” teriak seorang penjaga istana. Perhatian semua orang langsung tertuju pada tempat yang ditunjuk. Mereka akhirnya berhasil menemukan sebuah jasad dengan pakaian Lee Yool. (Hiks.. padahal aku berharap Dong Joo tetap hidup dan berkumpul lagi sama Lee Yool..”


Cha Eon tampak lega, tapi Kwon Hyuk yang baru datang sangat terkejut. Cha Eon bilang ia akan memeriksa jasad itu sendiri.


Cha Eon membalikkan tubuh jasad itu dan terlihat sebuah panah menancap di dadanya. Ia melihat wajahnya dan berpikir. Ia kemudian berdiri dan berkata, “Tunjukkan rasa hormat kalian! Dia Putra Mahkota!”


“Yang Mulia…” kata semua orang sambil berlutut.


Won Deuk bilang semua debu tadi membuatnya haus. “Aku ingin baesuk dingin,” ujarnya. Hong Sim berhenti berjalan, tapi tidak mengatakan apa-apa. “Air pun tidak masalah,” ralat Won Deuk.


Sesampainya di rumah, sudah ada Bok Eun dan rentenir yang menunggu mereka. Bok Eun meminta uang ganti rugi kendi, sedangkan Ma Chil meminta pembayaran bunga atas pinjaman Won Deuk. Mereka berdua bertengkar dan ingin dibayar lebih dulu.


Bok Eun menyebut Ma Chil memberikan pinjaman illegal, sedangkan Ma Chil menyebutnya pejabat rendahan. Mereka berdua mulai saling mendorong, hingga mendekati tanaman.


Won Deuk menahan mereka berdua agar tidak merusak kebun kecilnya itu. “Kalian berdua, hentikan!” kata Hong Sim. Mereka berdua minta dibayar lagi.


Won Deuk mengecek tanamannya. “Bunga ini sangat mahal. Hampir saja rusak,” katanya tanpa menyadari bahwa kedua orang itu datang karena dirinya. Hong Sim menyuruh mereka berdua mengikutinya.


Hong Sim menemui hakim, Bo Young, dan mengatakan kalau dia tidak bisa membayar hutang. Ma Chil tidak terima dan menunjukkan surat perjanjian hutang yang ditandatangani Won Deuk.


“Dokumen itu tidak sah! Anda ingat Mal Yeon yang wafat dua tahun lalu? Dulu dia memakai bunga sebesar ini di rambutnya. DIa mencuri giok dan tidak dihukum. Apa alasannya?” kata Hong Sim.


Boo Yong bilang itu karena Mal Yeon gila. Hong Sim menyimpulkan bahwa Boo Young tidak bisa mendakwa Mal Yeon karena mentalnya tidak stabil. Ia lalu memasang wajah kasihan.


“Suamiku Won Deuk… juga begitu,” kata Hong Sim. Won Deuk terkejut. Boo Young bertanya apakah itu karena Won Deuk benar-benar bodoh. Hong Sim mengangguk. Ma Chil tidak menerima alasan itu. “Kau sendiri yang bilang ada yang salah dengan kepalanya hingga dia tidak berguna, sampai kau akan menjualku.”


Won Deuk tidak terima dan mengatakan bahwa dia bukan orang bodoh dan dia baik-baik saja. Boo Young mengulangi perkataan Won Deuk. “Aku bisa membuktikan kebalikannya,” kata Hong Sim lalu memberi kode pada Gu Dol.


Gu Dol: “Dia tidak tahu soal kejadian di lumbung padi. Menurutku itu aneh. Ah, Saat kami pergi ke Gunung Chunwoo, dia memakai pembawa kendi secara terbalik dan itu mengejutkan.”
Pemilik kedai: “Aku menyuruh dia membayar sup dan nasi yang ia makan, tapi ia malah berkedip padaku untuk membayarnya. Aku tidak percaya ada orang bodoh seperti dia.”


“Tempo hari dia memegang tanganku dan memasukkannya ke kotoran,” kata bibi teman Hong Sim.


Bok Eun juga bercerita bahwa Won Deuk melarikan diri darinya karena tidak mau mengembalikan sepatu hitam yang dia pinjam untuk pernikahannya. “Menurutku itu sangat aneh,” lanjutnya.


Kkeut Nyeo bilang seluruh warga desa membicarakan bahwa Won Deuk tidak ada gunanya. Won Deuk tidak membantah lagi


Boo Young menyimpulkan bahwa pikiran Won Deuk memang tidak waras. Hong Sim memintanya membuat keputusan secara bijaksana. “Aku memang bijaksana. Ya, kau ada benarnya. Bagaimanapun dia telah meminjam uang! Ambil semua barang yang dia beli dengan pinjaman itu!” kata Boo Young.


“Aku tidak setuju,” kata Won Deuk yang semakin membuat orang lain berpikir kalau dia tidak waras. “Aku tidak mau mengembalikan apapun. Aku tidak bisa mengakui bahwa aku orang bodoh yang tidak waras. Dan aku tidak mau utangku dibebaskan karena itu.”


Hong Sim menghela napas kecewa. Semua usahanya sia-sia.


Ma Chil sangat senang, tapi Hong Sim sangat terpukul. “Dia suami sekaligus masalah baginya,” bisik para tetangga. Hong Sim menoleh dan mereka semua buru-buru pergi.


Hong Sim bertanya apakah Won Deuk sudah gila. “Aku yang harusnya bertanya. Hanya demi uang, kau mengubah suami normalmu menjadi orang bodoh,” kata Won Deuk. Hong Sim bilang kesaksian orang-orang menunjukkan Won Deuk tidak normal.


“Kau bilang aku melakukan semua hal dengan baik. Aku hanya mengalami kesulitan, karena hilang ingatan,” kata Won Deuk. Hong Sim bilang seharusnya ia bisa menghapus hutang 30 Yang itu. “Kenapa kau tidak mau menjadi selir? Kau pasti sudah tahu aku miskin, kenapa kau mau menikah denganku? Jadilah selir jika kau sangat menginginkan uang.”


Hong Sim sedih mendengarnya. Won Deuk melanjutkan ucapannya, “Kenapa? Kau tidak mau suami tua dan lebih memilih aku yang muda dan sehat?” Hong Sim menamparnya.


“Berani sekali seorang wanita menampar suaminya?” kata Won Deuk. Mata Hong Sim berkaca-kaca, lalu ia memilih pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Won Deuk sampai di rumah dan mengingat saat Kkeut Nyeo bilang seluruh penduduk berpikir dia tidak ada gunanya.


Hong Sim pergi ke makam batu yang ia buat untuk ayahnya. “Kenapa ayah tidak menepati janji? Ayah berjanji akan mencarikanku pria yang luar biasa seperti ayah. Karena aku bukan lagi Yoon Yi Seo, tapi Yeon Hong Sim, ayah tidak menganggapku sebagai putri ayah lagi?”


“Andai ayah masih hidup, aku tidak akan menikah dengan pria seperti Won Deuk,” kata Hong Sim smabil menghela napasnya. Ia sangat sedih.

1 komentar


EmoticonEmoticon