9/28/2018

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 PART 5

SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 BAGIAN 5


Penulis Sinopsis: Cristal
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 5 Part 4
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS 100 Days My Prince Episode 6 Preview

Hong Sim menyiapkan makanan, tapi Won Deuk tidak menyentuhnya. Ia bertanya apakah ia harus bekerja pada Tuan Park dan mengambil panekuk daging. Won Deuk menolak jika itu cara mendapatkannya. Hong Sim tersenyum geli.


“Rasanya sangat tidak enak,” kata Won Deuk. Ia melihat wajah masam Hong Sim. “Sepertinya ini menyehatkan. Konon makanan pahit bagus untuk kita,” ralat Won Deuk lalu makan lagi.


Hong Sim sangat senang.


Bibi bilang Won Deuk sangat romantis tadi. “Jangan melangkah lagi tanpa seizinku,” katanya menirukan ucapan Won Deuk. Mereka tertawa. Tapi Kkeut Nyeo bilang Won Deuk akan terlibat masalah jika tidak berhati-hati. “Kupikir Won Deuk orang bodoh, tapi sepertinya dia bisa membaca.”


Hong Sim memikirkan sesuatu. Kkeut Nyeo berpendapat bahwa mungkin Won Deuk hanya mednenagr satu atau dua puisi saat menjalani wajib militer.


Malam harinya, Hong Sim membawa beberapa buku dan meminta Won Deuk membaca judulnya dengan lantang. “Kenapa orang rakus punya 50 bayangan?” kata Won Deuk. Hong Sim terkejut karena Won Deuk bisa membaca huruf itu.


“Gembala Sapi dan Gadis yang Jujur,” kata Won Deuk saat Hong Sim menunjukkan buku yang lain. “Itu pasti novel roman yang ditulis dengan buruk.”


Hong Sim tersenyum gembira. Ia kemudian memeluk Won Deuk yang kebingungan. “Siapa bilang kau tidak berguna? Won Deuk, kau lebih dari berguna. Kau luar biasa!” kata Hong Sim bahagia.


“Senyummu membuatku merasa sangat tidak nyaman,” kata Won Deuk.


Cha Eon membacakan titah dari Raja yang sedang hancur hatinya. “Membunuh Putra Mahkota sama artinya dengan membunuhku, Sang Raja. Ini jelas tindakan pengkhianatan yang tidak termaafkan. Segera bentuk Biro Penyelidikan Khusus. Tangkap semua pelaku kejahatan dan hokum mereka, Aku ingin Wakil Perdana Menteri Kim Cha Eon memimpin biro tersebut,” baca Cha Eon.


Menteri Jung dan beberapa menteri lain terkejut. Cha Eon juga menyampaikan bahwa hanya sedikit asisten otopsi yang boleh memeriksa jasad Lee Yool, karena Raja tidak mau orang lain melihat kondisi jasadnya yang mengenaskan. Raja juga ingin proses pemakaman dilakukan secara sederhana agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.


Sekutu Menteri Jung mengatakan bahwa prosesi pemakaman yang sederhana akan menguntungkan mereka karena akan mempercepat pelantikan Putra Mahkota yang baru.


Mereka juga berpikir bahwa Cha Eon harus dibatalkan menjadi kepala Biro Penyelidikan Khusus. “Wakil Perdana Menteri tanpa Putra Mahkota, bagaikan macan tanpa gigi. Bahkan pengikutnya akan mulai mengkhianati dia,” kata Menteri Jung.


Menteri Jung juga bilang kalau Cha Eon pasti akan melakukan tipuas, jadi mereka juga harus melakukan hal serupa untuk melawannya, “Lihat saja. Raja akan segera meninggalkan dia dan berpihak pada kita. Kita punya pewaris tunggalnya, yaitu Pangeran Seowon,” lanjutnya.


Ratu menemui Pangeran Seowon dan terlihat sangat senang. Ia bilang mereka berhasil dan Seowon akan menjadi raja. Ia bilang istana Putra Mahkota akan segera menjadi milik putra kandungnya itu. “Apa terjadi hal buruk kepada Yool?” tanya Seowon. Ratu mengangguk sambil tersenyum.


Seowon: “Ada apa lagi? Putri Mahkota…”
Ratu: “Pangeran Seowon, sadarlah. Ada banyak pengintai di istana ini. Jika ada yang tahu soal perasaanmu, kau dan ibu akan mati.”


Je Yoon membebaskan tersangka pembunuh tabib wanita. Tersangka itu tampak ragu. “Pergi!” kata Je Yoon. Atasan merasa heran kenapa Je Yoon membebaskan tersangka mereka.


“Dia mengaku memakai panah itu selama sekitar 2 tahun, tapi aku yakin dia memegangnya untuk pertama kali di hari itu. Bukan begitu cara memegang apanah jenis itu. Mungkin dia tidak menyangka aku akan menyuruhnya menembakkannya ,” kata Je Yoon.


Je Yoon juga bilang tersangka jarang pergi ke Gunung Baegak. “Aku menggeledah rumahnya da nada tanah hitam di semua sepatunya,” lanjut Je Yoon. Atasan bilang mereka harusnya menyiksanya tersangka tadi agar tahu siapa orang yang menyuruhnya. “MEnyiksa orang itu tidak manusiawa. Lebih tepat jika kita membuntutinya.”


“Lantas, kenapa kau masih di sini?” tanya atasannya. Je Yoon sadar dan langsung mengejar tersangka tadi.


Je Yoon berhasil menemukan tersangka itu dan mengikutinya. Karena sesekali dia harus menyembunyikan dirinya, Je Yoon akhirnya malah kehilangan tersangka itu.


“Ada apa denganku akhir-akhir ini?” gumamnya. Ia kemudian berbalik dan tanpa sengaja menabrak seorang wanita. “Maaf. Kau melihat pria berbaju hitam? Dia baru saja melintas di sini.” Wanita itu diam saja. “Sepertinya kau tidak melihatnya.” Je Yoon berbalik pergi.


Wanita itu berkata, “Sekarang aku sadar kau benar-benar tidak mengenali wajah orang.” Setelah mendengar suaranya, Je Yoon mengetahui bahwa wanita itu adalah Wol Ae. “Ah! Kau pasti mengenali orang berdasarkan suaranya, bukan?”


Wol Ae kemudian menyarankan agar Je Yoon berhati-hati karena ia mendengar Putra Mahkota sudah meninggal dan itu berarti akan segera terjadi pertumpahan darah di istana. Je Yoon sangat terkejut, karena ia baru mengetahui hal itu. Wol Ae bilang ada pemberitahuannya di depan Biro Distrik Ibu Kota.


Cha Eon menodongkan pedangnya pada Moo Yeon. Ia berkata Moo Yeon sudah membahayakan nyawanya sendiri. “Jasa itu bukan Putra Mahkota,” kata Cha Eon.


Moo Yeon: “Aku melihatnya dia terjatuh setelah tertembak panahku.”
Cha Eon: “Itu pengawalnya. Mereka pasti bertukar pakaian.”


Cha Eon melemparkan kancing dan berkata, “Misi itu sangat penting, tapi kau gagal. Kau berharap aku menyelamatkan nyawamu?” Moo Yeon bilang permainan berburu ini belum selesai, jadi terlalu cepat bagi Cha Eon untuk membunuh pesuruhnya.


“Ingatlah akibat dari kesalahanmu,” kata Cha Eon lalu menggoreskan pedangnya ke leher Moo Yeon. “Cepat pergi ke Gunung Chunwoo dan cari jasadnya.”


“Jika Putra Mahkota masih hidup, pastikan kau membunuhnya. Kau harus membawakanku kepalanya,” kata Cha Eon.


Malam harinya, diam-diam Je Yoon bertemu dengan Kwon Hyuk. Je Yoon karena Kwon Hyuk pergi selama beberapa hari. “Ya, aku mencari Putra Mahkota,” kata Kwon Hyuk lalu memberikan selembar keras. “Dia memberiku ini sebelum pergi untuk ritual hujan. Dia menyuruhku memberikan ini kepadamu pada tanggal 15.”


Kwon Hyuk heran kenapa Lee Yool tidak menyerahkan surat itu sendiri. Tapi ia berpikir Lee Yool mungkin baru akan memberikannya pada Je Yoon, jika dia tidak berhasil kembali.


“Bukankah ini huruf Mandarin untuk ‘siku’?” kata Je Yoon setelah membuka surat dari Lee Yool.


Hong Sim membawakan Won Deuk buku terlaris dan memintanya menyalin buku-buku itu. “Kita menawari kita 2 Jeon per buku. Kita bisa mendapat banyak uang,” kata Hong Sim.


“Kisah Pria Gagah?” baca Won Deuk. Hong Sim bilang itu bacaan wajib di kalangan wanita bersuami. “Aku ingin menjadi kekasihmu. Peluk erat diriku… sebelum aku… melompat ke arahmu.” Won Deuk menutup buku itu. “Aku tidak mau membaca cerita yang menjijikan seperti itu.”


“Kalau begitu, jangan membacanya,” kata Hong Sim sambil tersenyum penuh arti.


Akhirnya, Hong Sim yang membaca buku itu dan Won Deuk langsung menuliskannya. “Seob memegang tangannya. Dan…” Hong Sim berhenti membaca. “Ah, tulis saja sendiri. Penglihatanku kabur karena membaca dalam waktu yang lama.”


Hong Sim akan pergi, tapi Won Deuk menariknya dan memberikan bukunya. “Lanjutkan membaca, jika kau ingin mendapat 2 Jeon. Dimulai dari kata ‘dan’,” katanya.


“Dia melepas tali bra-nya. Kulit tubuh Yeon Hee akhirnya terlihat. Dia melepas…” Hong Sim berhenti membaca dan Won Deuk juga berhenti menulis. Hong Sim mulai membaca lagi dengan sangat cepat.


“Cukup!” kata Won Deuk. Ia merasa ceritanya tidak masuk akal, karena kedua tokoh baru bertemu, tapi langsung jatuh cinta. Hong Sim bilang itu bisa saja terjadi. “Apa yang kau sukai dariku? Aku sudah tahu kau menyukai pahaku. Katakan yang lainnya.”


Hong Sim tertawa. Ia bilang Won Deuk-lah yang sangat menyukainya dan ingin berpacaran dengannya. Won Deuk bilang ia merasa Hong Sim bukan tipe wanita yang membuatnya tertarik. “Coba perhatikan aku. Kau pasti langsung tertarik,” kata Hong Sim.


Won Deuk mendekatkan wajahnya ke wajah Hong Sim. “Dari dekat, kau tampak… Bukan apa-apa,” kata Hong Sim lalu mundur lagi. Dia berdeham, lalu menahan senyumnya.


Keesokan harinya, pemilik toko buku memuji Hong Sim karena menulis semua buku dalam waktu semalam. Ia kemudian memberikan upahnya. “Aku yang mengesankan, bukan dia. Aku yang mengerjakannya,” kata Won Deuk tidak terima


“Oh kalau begitu, kalian pasangan yang serasi,” kata pemilik toko lalu tertawa. Hong Sim bilang serahkan saja pada mereka, jika ada pekerjaan lagi. Ia berjanji akan menulisnya tanpa kesalahan ejaan dan dilakukan dengan cepat. “Baiklah.”


“Sebagai gantinya, jadikan 3 Jeon per salinan,” kata Won Deuk. Hong Sim dan pemilik toko terkejut.


Dalam perjalanan pulang, Hong Sim memuji Won Deuk yang sekarang bisa menawar. Ia sangat senang karena belum pernah mendapatkan uang sebanyak itu. “Aku akan makan gukbab dan membeli sepatu kulit,” kata Won Deuk. Hong Sim menolak, karena mereka harus membayar hutang. “Sebagian uang itu milikku.”


Hong Sim meminta Won Deuk melupakan tentang sepatu kulit. Tapi ia setuju untuk membeli seporsi gukbap dan memakannya bersama.


Hong Sim melihat Ma Chil, si rentenir, tidak jauh dari tempatnya berada. Ia kemudian menarik Won Deuk dan bersembunyi. “Ada apa? Kedai gukbap di sebelah sana,” kata Won Deuk.


“Dia akan lewat sini. Namanya Ma Chil. Dia tampak baik, tapi sebenarnya sangat kejam. Dia sering memukuli orang tanpa memandang gendernya,” kata Hong Sim sambil mengintip ke arah jalan.


Tanpa sadar, Hong Sim memegang tangan Won Deuk. “Kau juga harus berhati-hati. Jika bertemu dengannya, pastikan kau lari. Mengerti?” kata Hong Sim.


Won Deuk memperhatikan Hong Sim tanpa berkedip. “Aku merasa tidak nyaman,” katanya.


Hong Sim lalu melepaskan tangan Won Deuk dan bilang itu tidak nyaman karena tempatnya sempit. Ia meminta Won Deuk menunggu sebentar lagi.


Won Deuk: “Bukan karena itu.”
Hong Sim: “Lalu kenapa? Apa yang membuatmu merasa tidak nyaman?”
Won Deuk: “Sepertinya… ingatanku kembali.”


2 komentar

  1. Wkwkkwkw, geli banget liat tingkah won deuk...
    Tapi jadi sweet..

    BalasHapus
  2. Apanya yg ingat kembali...😂itu namanya imajinasi..huwwaaha🐸

    BalasHapus


EmoticonEmoticon