9/09/2018

SINOPSIS Familiar Wife Episode 11 PART 4

SINOPSIS Familiar Wife Episode 11 BAGIAN 4


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: tvN
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 11 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Familiar Wife Episode 11 Part 5

Jong-hoo kebingungan, “Mereka kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?”


Joo-eun menghela nafas panjang, “Tampaknya itu akhirnya terjadi..” ucapnya yg membuat Sang-sik makin penasaran, “Apa maksudmu?”

“Bukan apa-apa..”

“Tunggu. Sepertinya kamu mengetahui sesuatu. Ayolah. Ada apa?”

“Bukan apa-apa. Jika kubilang bukan apa-apa, percayalah dan diam!”

“Tapi ini ada hubungannya dengan teman-temanku. Ayolah, beri tahu aku. Ayolah, Joo Eun. Ada apa?”

“Oh Sang Sik. Jangan mengamuk dan dengarkan!”


Sesaat kemudian, Sang-sik berlari mengejar Joo-hyuk lalu menendangnya sambil teriak: “Dasar bedebah! Berani sekali kamu! Teganya kamu merebut kekasih temanmu! Terlebih lagi, kekasih sahabatmu? Walau kamu mencintainya, kenapa kamu tega sekali? Ternyata kita tidak bisa mengenal seseorang sepenuhnya. Aku sudah mengenalmu selama 10 tahun lebih. Tapi aku terkejut. Tidak kusangka kamu begini!!!!!”

“Sang Sik-aaa....”


“Jangan menyebut namaku. Aku tidak mau mendengar alasan payahmu! Hei, Joo Hyuk. Sudah berapa lama kita berteman? Kita sudah seperti saudara beda ibu! Tapi kamu membuang pertemanan itu demi wanita yang baru kamu kenal? Kamu seharusnya paham meski Jong Hoo tidak bisa. Camkan ini, kamu bukan lagi temanku. Walau aku keluargamu, aku tidak sudi bertemu denganmu kecuali terpaksa saat liburan atau ulang tahun orang tuamu! Ingat itu! Jangan datang ke kedai kami! Aku enggan melayanimu!” tutur Sang-sik, yg kemudian berjalan kembali menuju kedainya.


Di bioskop, Hwan baru selesai nonton film dengan Nona Choi. Dia hendak membayar tiket nya, tapi Nona Choi menolak: “Tidak usah. Aku yang traktir. Beginilah kencan dengan wanita yang lebih tua. Benar?”

Hawn bingung, “Apa maksudmu "Kencan"?”

“Begitulah. Posisi kita saat ini agak membingungkan, bukan? Maaf karena berlagak tidak tahu selama ini. Ayo kita berpacaran, Hwan...” ujar Nona Choi

Namun Hwan makin keheranan, “Apa? Untuk apa?”

“Kamu tertarik kepadaku. Benar?”

“Tidak. Aku menyukai orang lain...”


Jawaban Hwan membuat Nona Choi jadi kikuk.. dia pun berjalan pergi, tapi kemudian kembali menghampirinya untuk minta bantuannya, “Aku mengatakan sesuatu kepada seseorang dan kini aku malu. Bisakah kamu tetap bersikap baik kepadaku? Untuk sementara...”

“Baiklah..” jawab Hwan


Di kedai, Joo-eun memarahi Sang-sik: “Sudah kubilang jangan mengamuk!”

“Kenapa kamu memarahiku? Aku tidak merebut kekasih temanku. Bukan aku penyebab Jong Hoo menangis. Kakakmulah yang tidak bermoral, bukan aku.”

“Kenapa kamu mengungkit moral terus? Seakan-akan kalian bukan teman.”

“Dia bukan temanku lagi!”

“Tahukah kamu siapa yang paling sedih sekarang? Apa kamu lebih sedih daripada Jong Hoo? Atau Woo Jin? Apa kamu lebih sedih daripada kakakku yang kebingungan?”

“Lalu kenapa dia melakukannya? Kenapa dia melakukan hal yang membuat semuanya sedih?”

“Oh Sang Sik, kamu keterlaluan. Beraninya kamu membentak!”

“Kamu buta akan pertemanan sesama pria! Aku juga sedih. Aku juga menderita! Biarkan aku sendiri agar bisa merenungkannya!”


Tapi kemudian, Joo-eun sengaja mengunci Sang-sik dari dalam. Dia tak peduli, meski Sang-sik teriak minta dibukakan pintu, “Aku bilang "biarkan aku sendiri", bukan "usir aku". Maaf. Ucapanku salah, Joo Eun...”


Joo-hyuk menelpon bagian HRD kantor pusat, “Bisakah aku dimutasi ke cabang di luar Seoul? Mungkin Daejeon bagus...” jelasnya

“Ya, kurasa dimutasi ke luar Seoul lebih mudah dari dimutasi kemari. Tapi kenapa? Ada sesuatu?”

“Begini, aku... Ada urusan mendadak. Berapa lama prosesnya?”

“Entahlah. Aku perlu menelepon beberapa orang. Tapi prosesnya tidak terlalu lama.”

“Baiklah, terima kasih. Maaf menelepon selarut ini...”


Dan dari balik pintu.. Jong-hoo mendengar obrolan Joo-hyuk barusan. Tapi dia tak berkomentar apa pun..


Esok paginya.. Joo-hyuk sengaja mengunjungi kediaman Hye-won. Melihatnya, Hye-won bereaksi ketus, “Ada perlu apa sepagi ini?”

“Hanya... Kamu akan mengajar hari ini. Aku menunggu agar bisa melihat wajahmu. Maaf, Hye Won. Sepertinya aku juga menjadi penyebab ketidakbahagiaanmu. Maafkan aku. Sepertinya aku tidak pernah mengatakan itu. Pergilah...” tuturnya yg kemudian berjalan pergi


Saat diperhatikan, ternyata Joo-hyuk kesini untuk mengembalikan kunci mobilnya...


Sesaui janjinya.. Hwan masih terus bersikap baik pada Nona Choi.. mereka berbincang, seolah kemarin malam.. Hwan mengantarnya pulang dan itu jelas membuat Nona Joo agak kesal.


Tim kantor mengadakan rapat internal, membahas pekerjaannya seperti biasa. Tapi karena sebentar lagi liburan musim panas.. maka mereka mulai menyinggung hal terebut.


Akan tetapi.. Pak Cha malah sok sibuk, mengangkat telpon dan berjalan pergi meninggalkan forum rapat. Dan ini berarti.. mereka tak akan mendapatkan jatah liburannya daam waktu dekat.


Usai rapat.. Bu Jang menghampiri Pak Byun yg tampak gelisah seorang diri, “Ada masalah?” tanyanya

“Hari ini ulang tahun anakku. Aku ingin mendengar suaranya dan mengucapkan selamat. Tapi dia pasti memblokir nomorku. Keras kepala sekali dia...”

“Berikan nomor mantan istrimu yang keras kepala itu...”


Bu Jang lantas menelponnya dan berhasil diangkat.. dia berbohong dengan mengatakan bahwa ini adalah telpon dari maskapai, “Amy Kim telah terpilih sebagai pemenang promosi yang menarget pelanggan kami. Selamat. Berdasarkan regulasi, kami harus memastikan identitasnya. Bisakah aku bicara dengannya?”


Maka ketika telponnya berada ditangan Amy, Bu Jang lansgung menyreanhkannya pada pak Byun. Dengan gembiranya, pak Byun mengobrol dengan anaknya.. sementara Bu Jang sengaja pergi meninggalkannya...


Pak Byun sangat berterimakasih.. maka Bu Jang menanggapinya santai, “Sudahlah. Jangan sampai kamu menyukaiku lagi.”

“Bukan "lagi". Tapi ini kali pertama, Nona...” ucapnya pelan


Joo-hyuk dan Woo-jin mendapatkan tugas diluar kantor untuk memberi pendidikan keuangan di salah satu pabrik.


Setelah tugasnya beres, Joo-hyuk memberitahu Woo-jin hal-hal mendasat mengenai cara membina hubungan baik dengan kelin mereka. lalu kemudian, Joo-hyuk bertanya: “Kamu tidak lapar? Bagaimana jika kita makan di pasar dekat sini?”

“Apa ini juga bagian dari pekerjaan?”

“Mungkin..”

“Kita harus kenyang sebelum bekerja keras lagi...”

“Baiklah...’
Comments


EmoticonEmoticon