9/07/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 PART 1

SINOPSIS Still 17 Episode 24 BAGIAN 1


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 23 Part 3
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 Part 2

Pak Shim menemui Rin Kim, untuk mengajaknya berbincang dengan serius. Ternyata... beliau mengetahui tingkah Rin yg gelisah karena kehadiran Seo-ri..

“Kamu memiliki semua yang kamu mau. Kenapa kamu begitu khawatir soal Seo Ri?”

“Apa maksud Anda?”


“Saat itu, usiamu baru 17 tahun. Kukira kamu cemburu karena waktu itu masih muda...” tutur Pak Shim, yg ternyata memang telah mengetahui sikap Rin sejak remaja.


Dan kemarin, Pak Shim mendengan apa yg dikatakan Rin kepada Seo-ri. Maka sekarang Pak Shim menjelaskan alasannya menyukai permainan violinnya Seo-ri, “Dia mungkin tidak bermain dengan tepat seperti di lembar musik, tapi aku bisa dengan jelas melihat dia sangat menikmati permainannya. Dia selalu membuatku penasaran bagaimana permainannya selanjutnya dan aku menantikannya. Rin, kamu sudah menjadi musikus yang hebat. Orang-orang berusaha dan ingin menjadi seperti kamu. Berhentilah menyiksa diri dengan membandingkanmu dengan yang lain. Kamu harus tahu bahwa kamu punya hak untuk bermain musik dengan bahagia. Kuharap kamu menjadi musikus yang tidak kehilangan kebahagiaan karena berusaha untuk menjadi sempurna...”


Rin hampir menangis, nampanya penjelasan Pak Shim sangat menusuk dalam benaknya, tapi lewat lisannya dia hanya berkata: “Dia tahu apa tentang diriku?”


Ketika Seo-ri duudk di halaman beresama Fang, datanglah Chan yg langsung duduk di hadapannya dan menanyakan kabar latihannya.. Seo-ri enggan cerita yg sebnarnya, dia hanya bilang latihannya berjalan dengan lancar.
“Aku seharusnya datang, tapi harinya sama dengan kompetisiku...” ujar Chan

“Kamu akan berangkat besok?” tanya Seo-ri, “Iya.. Kami harus tiba beberapa hari lebih awal agar terbiasa dengan airnya...” jawab Chan


Sejenak diam, lalu Chan meminta sesuatu: “Jika aku menang, ada sesuatu yang harus Bibi lakukan untukku. Jika aku memenangi kompetisi tunggal itu, mari menghabiskan waktu bersama di hari itu...”

“Tentu saja. Ayo kita berpesta bersama” jawab Seo-ri, namun Chan berkata; “Jangan ada yang lain. Kita berdua saja. Kita habiskan waktu bersama. Berdua saja!”


“Baiklah..” jawab Seo-ri, maka Chan bangkit dan berteriak: “Aku benar-benar ingin menang!”


Meski diperbolehkan untuk tidak ikut.. tetapi Seo-ri bersikeran untuk ikut bersama rombongan kantor menuju lokasi festival, “Aku agak penasaran dan juga ingin membantu. Aku akan membeli air es jika harus..” jelasnya dengan semangat

Awalnya mereka semua akan berangkat menggunakan mobil Hyun. Tapi mendadak, Woo-jin mengajak Seo-ri untuk naik mobil berduaan dengannya saja. Hyun menolak, katanya terlalu merepotkan.. tapi Hee-su tersenyum karena dia memahami maksud Woo-jin, maka dia mengizinkannya pergi dengan mobil terpisah.


Seperti biasa.. bukannya digandeng, Woo-jin malah mencubit lengan bajunya Seo-ri hingga sampai ke depan mobilnya (so cutee...)


Sementara tim sibuk menyiapkkan tata panggung, Seo-ri dengan sigap memberikan minuman dingin dan mengelap keringat mereka..


Tapi Woo-jin.. dia malah mengambil botol minum bekas Seo-ri, yg membuat Seo-ri mengeluh kesal: “Astaga, aku baru saja meminum itu...”

“Lantas kenapa?” sahut Woo-jin sembari tersenyum


Meski berada di tempat yg berbeda.. namun Chan juga berlatih sangat keras untuk mempersiapkan perlombaannya besok.


Hari terakhir festival.. berarti waktunya pertunjukkan musik klasik. Seluruh tim msangat sibuk, Seo-ri bahkan tak segan membagikan minuman serta makanan untuk para pemain orkestra.


Melihatnya, membuat Hee-su berkomentar: “Tidak tega rasanya membiarkan Seo Ri menyaksikan pertunjukan musik klasik...”


Woo-jin berbicara pada Seo-ri, “Kamu tidak perlu membagikannya. Itu tugas staf produksi panggung...”

“Tidak ada salahnya saling membantu. Aku bahkan tidak sibuk saat ini...” sahut Seo-ri dengan senyuman yg terus merekah di wajahnya


Tapi senyuman itu lenyap.. seketika Seo-ri melihat gladi pertunjukkan. Meski berkata tak ingin tampil.. tapi hatinya terasa bergetar ketika menontonnya.


Seo-ri berjalan pergi untuk menyendiri.. tapi Woo-jin mengikutinya dan lansgung duduk menyandarkan punggungnya, “Aku lelah. Biarkan aku bersandar seperti ini sebentar saja...”


Woo-jin memberikan satu pasang headset-nya, “Bangunkan aku saat musiknya berakhir...” pintanya


Sesaat mereka diam dalam posisi itu dan Seo-ri terus menatap Woo-jin. Dan ajaibnya.. meski matanya memejam, Woo-jin sadar akan hal itu, “Kenapa kamu terus menatapku?” tanyanya

“Aku tidak menatapmu!” sanggah Seo-ri


“Aku melihatnya...” ujar Woo-jin, yg kemudian berdiri, “Aku ingin di sini lebih lama lagi, tapi aku harus pergi sekarang. Terima kasih atas sandarannya...” ucapnya
Comments


EmoticonEmoticon