9/07/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 PART 2

SINOPSIS Still 17 Episode 24 BAGIAN 2


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 Part 1
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 Part 3

Hari pertandingan pun tiba.. Chan dan kawan-kawannya, bertemu dengan saingan terberat mereka dari SMA Pungjin, yakni Jung Jin Won (eih.. cameo-nya beneran Jin Won 2AM)


Dari cara berjalan serta tatapan matanya saja.. nampak jelas kalau Jin-won adalah ancaman terbesar untuk Chan di cabang tunggal...


Sobatnya Chan merasa khawatir, karena Chan berllatih sangat keras demi mereka, takutnya saat perlombaan tunggal dia malah tumbang. Namun Chan menegaskan: “Aku sungguh baik-baik saja!” 


Sebelum pertandingan, pelati mengumpulkan seluruh anggota tim, “Hari ini akhirnya tiba. Kalian telah berlatih seperti kompetisi sungguhan, jadi, lakukanlah dengan baik seperti saat kalian berlatih. Jangan terlalu merasa tertekan. Kita hanya perlu tetap rendah hati dan masuk finis paling cepat!!!!” jelasnya


Detik-detik terakhir sebelum perlombaan dimulai, anggota tim berkumpul untuk jargon dan menyemangati satu sama lain..


“Aku tidak terlalu menginginkan apa pun semenjak ayahku menjadi kaya raya. Tapi aku mungkin akan menangis jika tidak memenangi medali hari ini...” ujar Hae-bum


Sementara Deok-su nampak begitu gelisah, “Aku perlu buang air kecil karena gugup. Aku belum pernah menginginkan sesuatu segila ini selama hidup 19 tahun. Astaga, aku terus kebelet...” ujarnya


“Hei, ayolah. Jangan terlalu dipikirkan. Kita sudah berlatih sangat keras. Percayai saja sekeras apa kita berlatih!” tukas Chan, yg kemudian mengajak semuanya berteriak: Don’t Think! Feel!


Sesaat setelah pertandingan dimulai, Deok-su membuat kesalahan karena dayungnya terlepas. Tetapi pelatih serta penonton terus berteriak memberikan semangat..


Ri-an juga datang untuk menyemangati Chan. Dari awalnya mereka berada di posisi terakhir.. perlahan mereka mulai menyusul ketertinggalannya hingga, berhasil finis di urutan ketiga, sementara juara pertama diraih oleh tim dayung dari SMA Pungjin.


Meski demikian, mereka sangat amat bangga karena hal ini, “Kita mendapatkan medali perunggu!!!” teriaknya histeris


Rin Kim merasa kesal karena kualitas suara tak sesuai dengan apa yg dia inginkan. Tetapi teknisi menjelaskan, kalau ini adalah arena outdoor, jadi sulit untuk menyamakan kualitasnya dengan arena indoor.

“Tidak, aku tidak bisa menerima ini. Kamu harus berusaha maksimal untuk membuat panggung terdengar sempurna sebelum geladi resik akhi!” teganya yg kemudian berjalan pergi 


Seo-ri melihatnya, maka dia mengikutinya hingga ruang ganti, “Aku belum sempat bicara denganmu usai memutuskan untuk tidak tampil. Maafkan aku karena terus berubah pikiran...” ujarnya


“Kamu pasti tidak begitu serius bermain violin melihatmu bisa menyerah begitu mudahnya...”

“Itu benar-benar pilihan yang sulit. Aku sebenarnya berhenti karena sangat putus asa. Aku ingin selalu menikmatinya meski butuh waktu lama bagiku untuk bisa tampil. Musik adalah hal yang paling kusukai. Dan aku tidak mau memaksa dan menekan diri untuk bermain hanya karena ingin tampil sedikit lebih cepat. Bisa pandai memainkannya tidaklah sepenting bisa menikmatinya. Aku akan mulai bermain lagi begitu aku dengan tulus bisa menikmatinya dengan segenap hatiku. Tapi tentu saja, semua ini mungkin terdengar lucu bagi seseorang seperti kamu...”


“.... ‘Seseorang seperti kamu’? Apa maksudnya?”

“Kamu sudah sangat sempurna. Kamu sudah meraih segalanya dan tidak ada yang tidak kamu punya. Sejujurnya, aku sebenarnya menangis setelah melihat konser tunggalmu waktu itu. Aku sangat terkesan dan iri dengan penampilanmu di panggung...”

“Kamu iri denganku?”


Sesaat setelah Seo-ri pergi, Rin menerima SMS dari ibunya: ‘Ibu menantikan festival yang sempurna. Kamu tahu ibu bangga denganmu, bukan?’


Seluruh tim yg menang, bersorak sorai usai menerima medalinya. Mereka saling berpelukan, dan memberi selamat untuk anggota tim nya masing-masing.


Lagi-lagi.. Chan merasakan kakinya yg kaku, tak bisa digerakkan. Tetapi Chan enggan memberitahukan hal ini, kepada siapa pun dan terus bertingkah seolah dirinya baik-baik saja..


Berkat apa yg dikatakan Seo-ri, pemikiran Rin perlahan mulai meluluh. Asalnya sangat perfeksionis, kini dia tak terlalu mempermasalahkan kualitas suara. Dia mempercayakan semuanya pada teknisi yg bertugas..


Pertunjukan dimulai dan semua orang sangat menikmatinya.. bahkan diam-diam, Woo-jin sengaja menggenggam tangan Seo-ri..


Seo-ri tak berkata apa pun, tapi sesekali dia tersenyum karenanya. Mereka seakan erlarut dalam suasana sahdu, bersama dengan penonton yg lainnya..


Comments


EmoticonEmoticon