9/07/2018

SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 PART 3

SINOPSIS Still 17 Episode 24 BAGIAN 3


Penulis Sinopsis: Dahlia
All images credit and content copyright: SBS
Supported by: sinopsis-tamura.blogspot.com

EPISODE SEBELUMNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 24 Part 2
EPISODE SELANJUTNYA || SINOPSIS Thirty But Seventeen Episode 25 Part 1

Salah satu staff meberitahu Rin Kim, bahwa ada satu anggota orkestra yg tak bisa tampil karena mengalami alergi, “Ini tidak terlalu gawat karena dia hanya perlu menggunakan mainan sebagai pengganti instrumen. Kurasa siapa pun bisa menggantikannya...” jelasnya

Namun Rin berkata: “Memang kelihatannya mudah, tapi tidak semua orang bisa. Seseorang yang tahu lagu itu harus masuk di waktu yang tepat selagi mereka membaca musik. Ini tidak bagus. Biar aku saja. Aku akan berganti pakaian...”


Tapi kemudian, Rin melihat Seo-ri.. maka dia mengjaknya berbicara empat mata, “Bisakah kamu membantuku? Jika kamu menolaknya, aku bisa memainkannya. Tapi aku ingin bertanya kepadamu sebelum melakukan itu. Kamu boleh menentukan yang ingin kamu lakukan...”

“Baiklah!” jawab Seo-ri dengan semangat


Dan yaa... meski perannya sangat kecil, tetapi Seo-ri sangat menikmati penampilannya. Dia terus tersenyum, mengikuti alunan musik.. apalagi ketika para penonton bertepuk tangan di akhir pertunjukkan.


Seluruh pertunjukkan telah usai.. Seo-ri duduk menyendiri, ketika tiba-tiba Woo-jin datang menghampirinya, “Kamu sedang apa di sini sendirian?”

“Tidak ada. Kenapa kamu belum tidur? Kenapa kamu keluar?”

“Sepertinya ada yang belum tidur, maka aku penasaran. Kenapa kamu belum tidur?”

“Aku hanya tidak bisa tidur...”

“Selalu ada alasannya saat kita tidak bisa tidur...”


“Aku terus memikirkan momen saat di atas panggung. Tapi aku tidak tahu kenapa. Kurasa aku bahagia, mungkin agak canggung, agak bersemangat, dan juga tidak nyaman. Itu terjadi begitu saja, tapi entah apa itu sungguh terjadi. Apa aku sungguh di atas sana dan tampil? Ini tidak terasa nyata. Ini tidak seperti kenyataan, tapi aku seperti sedang bermimpi. Tapi sekeras apa pun memikirkannya, aku tidak tidak tahu apa ini mimpi indah atau mimpi buruk...”


“Ini mimpi indah. Kamu terlihat sangat bahagia selagi tampil...” jawab Woo-jin, yg lantas memberikan sketsa wajah Seo-ri saat tampil barusan


“Apa aku benar-benar terlihat seperti ini? Aku terlihat seperti ini saat di atas panggung?”

“Kamu terlihat sangat bahagia dan bersemangat. Mungkin penonton senang hanya dengan melihatmu...”

“Aku sangat senang. Aku takut akan terlihat sedih. Aku bahkan tidak memegang violin, jadi, kukira aku akan menyesal telah tampil di atas panggung karena kukira aku mungkin merasa direndahkan. Tapi aku sangat senang melakukan ini. Sepertinya tampil untuk memamerkan kebolehanku bukanlah segalanya. Aku benar-benar merasa nyaman selagi bermusik. Jika bisa terlibat dengan musik dalam bentuk apa pun, kurasa kini aku bisa benar-benar bahagia...”


Lanjutnya, Seo-ri berterimakasih pada Woo-jin, “Kamu telah memberikan jawaban untukku. Aku lebih senang karena kamu yang membuat panggung itu...”

“Aku menyukaimu...” ucap Woo-jin, “Aku juga...” jawab Seo-ri dengan singkatnya

Lalu perlahan, Woo-jin menciumnya. Tapi setelah itu, Seo-ri malah duduk menjaduh darinya, membuat Woo-jin keheranan: “Kenapa kamu tiba-tiba menjauh?”


“Begini... Jantungku berdetak sangat cepat seperti mau meledak. Dan aku tidak mau kamu mendengarnya...” ujar Seo-ri yg begitu gugup


“Tidak apa-apa. Tidak ada salahnya...” sahut Woo-jin, maka Seo-ri berkata: “Tapi hanya saja ini kali pertamaku...”


“Aku juga...” ucap Woo-jin, yg seketika membuat Seo-ri mengernyit heran, “Apa? Aku pernah koma. Tapi bagaimana mungkin kamu belum pernah mencium siapa pun? Maksudku... Kamu berbuat apa saja selama hidup?”


“Entahlah..” jawab Woo-jin yg kemudian mengajaknya berjalan pergi

Dengan gugup Seo-ri berkata: “Aku ingin..”, maka Woo-jin langsung menciumnya kembali.


“Maksudku, aku ingin...” ucap Seo-ri, lantas Woo-jin menciumnya lagi

Seo-ri lantas menjelaskan: “Yang hendak kukatakan adalah aku ingin melihat gambar itu lagi...”


Woo-jin tersipu malu, “Astaga. Jadi, itu yang mau kamu katakan?”

Seo-ri terkekeh, “Kamu konyol dan manis sekali...” ucapnya

“Astaga, mengolok-olok orang itu tidak baik..” ujar Woo-jin


5 komentar

  1. Love is in the air😘😘💕💕💞💞

    BalasHapus
  2. Wahh mereka "Jadian" yaaa?? Hehehe :D, duhh kasihan Chan :(, kyk itu memang paman ny Seo Ri dehh, gx sabar nunggu ep selanjutnyaaa ;) SEMANGATTTT!!!!

    BalasHapus
  3. Ya ampun woo jin sama seo ri manis banget sih... 😭😭😘😘😘

    BalasHapus
  4. Sweet bnget 😍. Ga sabar nunggu episode selanjutnya, makin seru nih ceritanya.

    BalasHapus
  5. Suka asa sama ceritanya

    BalasHapus


EmoticonEmoticon